Ende, Floreseditorial.com – Sastrawan Nasional, Bara Pattyradja, bersama Azizah Zubair dan artis Olvia Zallianty menggelar konser Puitik Natur di Pantai Ria, Kota Ende, Ibukota Kabupaten Ende, Kamis (9/7/2020). Konser Puitik Natur itu bertajuk Ende Tanah Gagasan Kota Pancasila. Konser ini juga sebentuk cemeti spiritual untuk membangkitkan ingatan dan imajinasi sastrawan-sastrawati lokal yang telah lama mati suri dan terkubur kaku di Tanah Pancasila ini.

Kepada floreseditorial.com, di sela-sela persiapan pentas malam ini, Kamis (9/7/2020), Bara Pattyradja, melukiskan Puitik Natur, Dari Ende untuk Pancasila, adalah sebuah jelajah ingatan yang lengang. Ziarah permenungan di antara hamparan perbukitan dan samudera maha luas.
Dia menjelaskan, pentasan Puitik Natur serentak jalan memantik atmosfir kesenian dan kebudayaan di zona nol kilometer Nusa Nipa Ini. Thonil yang digagas Soekarno, demikian Bara Pattyradja, adalah pementasan teater pertama di negeri ini dan Ende adalah rahim yang memangku kerja kebudayaan itu.

“Lalu mengapa detak kebudayaan itu tidak menyulut daya imajinasi manusia Ende di ranah kebudayaan kontemporer”? gugat Bara Pattyradja.

Menurutnya, Kota Ende tak boleh kita biarkan tenggelam dalam romantisme sejarah. Ende bukan museum kebudayaan. Ende adalah laboratorium. Karena itu, Cotok Pati, mengharapkan Pemerintah Daerah Ende mesti menciptakan iklim dan atmosfer berkesenian dan berkebudayaan yang open minded bagi publik. Hingga kreativitas kawula muda di Ende dapat menemukan kanalnya.

Dia mengatakan, agenda kultural ini terselenggara atas patungan personal dari beberapa pecinta budaya antara lain: Ahmad Yohan (DPR RI), Yohanes Fransiskus Lema (DPR RI), Angelius Wake Kako (DPD RI), Emanuel Kolfidus (DPRD NTT), sahabat baik Bara Pattyradja, Fahd Pahdepie (mantan stafkhus Presiden Jokowi, Direktur Eksekutif Amanat Institute) dan Muhammad Fakhrudin (Redaktur Republika) juga Tokoh Muda NTT, Bung Rudi Tokan. Acara akan dilangsungkan secara daring di YouTube barapattyradjachannelpuisi dan Zoom App, Kamis (9/9/2020) pukul 19.30 Wita, di Pantai Ria, The Light Cafe.

Untuk diketahui, Bara Pattyradja, penyair Indonesia kelahiran Lamahala, Flores Timur, pada 12 April 1983. Bara mulai menulis sejak Sekolah Menengah Atas. Tahun 2005, karya refleksi dan permenungan anak Kampung Lamahala ini, menerobos hingga menggelorakan panggung sastra Indonesia. Tahun 2005 itu pula, Bara Pattyradja, mendapat babtisan Nasional sebagai sastrawan muda berbakat Indonesia. Puisi “Bermula Dari Rahim Cinta” menohok kedalaman budi pencinta sastra. Karyanya itu serentak ajang pembuktian sekaligus pengakuan publik sastrawan Indonesia. Sejak saat itu, buku itu berhasil menarik perhatian pencinta sastra di Indonesia.

Tahun 2006, Bara Pattyradja, kembali memancing pencinta sastra dengan meluncurkan karya buku sastra keduanya yang berjudul “Protes Cinta Republik Iblis”. Buku itu telah melecutkan dahaga dan mencungkil pencinta sastra Indonesia makin menggila.

Tujuh tahun kemudian, tepatnya tahun 2013, nama Bara Pattyradja, kembali meletup. Dengan meletuskan buku yang berjudul “Samudra Cinta Ikan Paus”. Kala itu, perhatian dunia pencinta sastra Indonesia makin menggila.

Tahun 2013 hingga 2016, sastrawan kelas Nasional ini, meluncurkan karya berjudul “Pacar Gelap Puisi”. Berlanjut tahun lalu, Bara Pattyradja, menerbitkan dua buah berjudul “Aku Adalah Peluru dan Geser Dikit Halaman Hatimu”. Dua karya ini semakin memantik rasa cinta pencinta sastra Indonesia. (Rian Laka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here