Oleh: Melania Angelina Bahagia “Aku terjaga dengan hati yang berdebar. Di jari manisku, sebuah cincin melingkar. Ini bukan sekadar perhiasan. Bukan hanya benda yang bisa dibeli, jika Ia hilang. Lebih dari benda mati, cincin ini adalah doa semoga kasih sayang pemiliknya tak akan pernah ada ujungnya. Aku pun sempat terkejut ketika sadar bahwa cincin ini pun adalah tanda. Tanda bahwa...
Oleh: AK Buatmu “mata sipit”. Izinkanlah aku menyapamu. Sapaan penuh akrab. Kamu suka kan? Aku pernah sampaikan padamu tentang sapaan itu. Kamu tidak keberatan. Aku menyapamu mata sipit, setiap kita berjumpa. Meski via WhatsApp. Aku tahu. Mungkin berlebihan. Karena ini semua hanya mimpi. Mimpi di atas mimpi karena belum tentu jadi kenyataan. Kadang galau menghimpit, seraya mendesakku untuk mengatakannya. Karena aku benar-benar...
Oleh: Riko Raden Aku mencintainya seperti angin mencintai bunga, seperti hujan mencintai pelangi. Namun, yang kuterima hanyalah duri tajamnya. Nyatanya, Dia bahagia saat dirinya pergi dari hidupku. Aku tahu kita, sama-sama diciptakan dari debu dan tanah yang kotor dan rapuh. Karena itulah, kubutuhkan segala pemahaman dan penerimaannya. Untuk selalu dapat membersihkanku. Menopang kerapuhanku. Namun, aku salah jika cintaku tidak membuatnya betah,...

Suatu Senja

0
Oleh: Mita Barung Hujan belum berhenti, langit pun tertutup kabut hitam dan mentari pun sudah tak kelihatan lagi. Angin sepoi-sepoi berhembus menusuk kulit. Sesekali guntur menggelegar dan cahaya kilat menerangi langit di senja itu. Betul-betul senja yang tak bersahabat. Di ruangan berdinding bambu dan beralaskan tanah. Aku, Mama, dan kedua Adik, duduk melingkari tungku yang sedang menyala, dengan ditemani kopi hitam...
Oleh: Ignasius Tulus Selamat malam, enu. Bagaimana kabarmu saat ini, enu? Saya harap engkau baik-baik saja, meski tak bersamaku lagi. Enu, masih ingat saat pertama kali kita jumpa?. Ketika itu, saya dengan penuh keberanian mendatangi rumahmu. Saya bertemu ayah, ibu dan semua sanak saudaramu. Mereka sangat baik. Enu mungkin tidak ingat lagi akan pertemuan itu, karena saat ini posisiku yang dulu bersamamu...
Oleh: Yasintus Dawi Riuh ombak sore itu, menjadi teman terbaik meyaksikan senja yang hendak tenggelam di langit barat. Suasana pantai nampak sepi. Hanya beberapa bocah yang sedang asyik berlari-lari di bibir pantai, seolah tidak menghiraukan gelap yang mulai mengintip. Aurelya, masih betah dengan kesendiriannya. Pandangannya melayang jauh, jatuh pada ujung lautan yang membentang di depannya. Raut wajahnya enggan tersenyum, meski...
Oleh: Riko Raden Di sebuah kampung, hidup seorang Nenek bernama Rudis. Ia sudah berusia tujuh puluh tahun. Suaminya sudah lama pergi meninggalkannya. Kepergian suaminya membuat Ia hidup seorang diri. Mereka dikaruniai dua orang anak. Satu laki-laki dan satunya perempuan. Mereka sudah lama hidup di tanah rantau. Sampai saat ini, mereka belum pulang ke kampung. Mereka tidak tahu keadaan Ibu mereka....

Marlina

0
Oleh: Stefan Bandar Desember awal 2007, kisah piluh dari Kampung Ademos di Pulau Utopia. Kisah yang kurangkai menjadi sebuah cerita. Entahlah, apakah aku akan kembali bertemu dengannya esok hari atau mungkin tidak akan pernah lagi. Tapi di sini, kenangan itu akan abadi tergenang. Di bawah gubuk tua, kami duduk melingkar. Gubuk tua milik Pak Kasin, seingatku, yang tak dipakainya lagi. Gubuk...

Menyendiri

0
Oleh: Syamsudin Kadir Mungkin kamu terlalu lama dalam kesendirian. Karenanya kamu terkadang gelisah, putus asa dan berair mata. Bagiku, itu tak mengapa. Sebab itu lebih baik daripada kamu bersama dalam ramai, namun hati kamu tak nyaman. Atau mungkin nurani tergadai. Sungguh, sendiri bukan berarti sepi, sebab sendiri adalah modal besar untuk mengukur diri. Tentang potensi diri kamu, tentang cita-cita kamu,...
Oleh: Stefan Bandar Mentari kini beranjak ke barat. Langit yang membiru mulai menguning. Cahaya mentari yang sedari tadi benderang kini mulai redup. Sebentar lagi matahari itu menyentuh bibir pantai dan langit akan kembali gelap. Angin malam perlahan berhembus menggoyangkan dedaunan yang masih bercokol pada ranting-ranting kayu. Beberapa helai berjatuhan tanpa bersorak. Akh, benar. Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin. Aku...

Warning: number_format() expects parameter 1 to be float, string given in /home/u1533394/public_html/story/wp-content/plugins/td-social-counter/shortcode/td_block_social_counter.php on line 1108

Ikuti Kami

0FansSuka
PengikutMengikuti
PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Sastra Terpopuler