Oleh: Gabriel Sarong

Semua orang akan pergi, tidak begitu dengan kenangan. Ia memilih sendiri tempatnya di hati, semesta ikut mencatat itu.

Di Utara Waelengga, ratusan kaki dari bibir pantai yang menyuguhkan riak-riak basah air laut, terbentang dengan maha luasnya Padang Ma’u Sui. Sungguh pahatan Tuhan yang sedemikan indah tanpa cacat cela.

Hujan menyapa kami. Rupanya Ia telah jatuh lebih dulu sebelum kami tiba di sana. Hal itu tidak lantas mengurungkan niat kami meniti kebersamaan, meski sekadar semalam. Rintik hujan masih jatuh dengan ramainya, saat kami sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Bukankah segala sesuatu memang harus dipersiapkan? Bahkan cinta yang datangnya nampak terburu-buru pun begitu. Seperti aku padamu. Akh, sudahlah!

Kami yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Online Manggarai Timur, sepakat menepi sejenak. Mengistirahatkan raga dari lelah, yang menyusup tanpa sisa ke dalam tulang dan daging kami. Namun, itulah arti dedikasi untuk sebuah pilihan yang sesungguhnya telah mengenyangkan panggilan jiwa.

Dan Ma’u Sui… adalah surga yang kami pilih jadi saksi serta kekasih semalam, dengan hujannya yang basah.

Matahari telah pergi sejak tadi. Gelap datang meminta tugasnya pada langit. Ada satu tenda yang berhasil kami dirikan seadanya. Sedangkan Ma’u Sui dengan rumputnya yang hijau, seakan menawarkan diri seperti kekasih yang lama menanti. Tempat merebahkan diri paling damai.

Alam semesta memang selalu berbaik hati untuk atapnya yang adalah langit, dan alasnya yang adalah bumi.

Ketika malam benar-benar datang, kami duduk melingkar ditemani panas dan cahaya api unggun. Membantu netra melihat sekitar. Sungguh, bahkan dalam gelap sekalipun, Ma’u Sui tetap menampakkan keindahan cintanya.

Di sana, ada banyak yang kami pelajari. Dengan pengalaman adalah gurunya. Saling memperkaya tanpa ada sekat yang seringkali malah melerai. Senda gurau mengalir dalam kebersamaan kami. Bila tidak di sana, mungkinkah ada kenangan yang lebih manis dari itu? Tentu tidak.

Malam pergi, pagi mengganti. Di Timur itu, matahari menampakkan diri di tengah kemegahan Gunung Ine Rie. Seakan sedang saling mengadu indah diri. Tuhan begitu baik. Semua terlihat indah dari Padang Ma’u Sui.

Nampak dari kejauhan, para penggembala sapi menggiring hewan ternaknya, pada rerumputan yang hijau. Sebab, Ma’u Sui menyediakan dengan rela hati.

Tidak ada yang berkuasa menahan waktu. Ia berjalan seperti yang dia mau. Pertemuan lalu menemui akhir, hingga bernama perpisahan. Namun, kebersamaan bukan tentang berdiri di tempat yang sama, tetapi tentang terus saling memperkaya sesama. Tanpa sebab lain selain kasih.

Terima kasih, Ma’u Sui untuk cinta semalam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here