Oleh: Fersi Darson

“Mengapa Ayah tidak telepon kita, Kek? Apakah Ayah sudah tahu kalau Ibuku tidak bersama kita di sini?”

“Entahlah, Cucuku. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, Ayahmu menelepon kita. Kalau nanti Ayahmu telepon, kita langsung beri tahu tentang Ibumu, yah.” Aku mengangguk.

“Aku merindukan Ayah, Kek,” timpalku.

Kakek tersenyum haru sambil mengulurkan kedua tangannya, memberi isyarat agar aku duduk di pangkuannya. Aku berjalan mendekati Kakek. Aku duduk di pangkuan Kakek yang sedang duduk bersila di atas tikar tipis, di ruang tamu. Kakek memeluk erat tubuh mungilku. Aku tertidur manja di pangkuannya.

Tangannya yang keriput dan kasar, menggambarkan ketangguhannya dalam bekerja. Kakekku, seorang laki-laki pekerja keras. Rambutku dibelainya. Aku merasakan hangatnya cinta dari tangan keriput itu. Belaiannya yang begitu lembut, mewarnai kasihnya yang begitu tulus. Aku merasa tenang dan nyaman ada di sampingnya.

Meskipun sekarang, aku hanyalah seorang bocah kecil yang ditinggal pergi oleh Ayah dan Ibu, tapi aku tetap bahagia bersama Kakek dan Nenekku. Kasih dan sayang yang begitu tulus, selalu kurasakan dari Kakek dan Nenekku. Aku selalu merasa nyaman dan tenang, jika berada di samping mereka.

Ayah sudah sekian tahun di perantauan. Akhir-akhir ini, Ia jarang menelepon kami. Biasanya, setiap minggu, Ia selalu menelepon. Tapi sekarang, sudah hampir empat bulan tidak pernah telepon. Aku sangat merindukannya.

Selama dua minggu ini, kami selalu berusaha meneleponnya. Kami ingin memberi tahu tentang Ibuku, yang telah pergi dari rumah. Tapi nomor Ayah tidak pernah aktif. Memang, Ayah pernah cerita, bahwa di tempat Ayah bekerja, tidak ada jaringan telepon. Jika Ayah ingin menelepon, berarti Ia harus pergi ke suatu tempat atau ke kota.

Kini, usiaku genap 10 tahun. Aku duduk di kelas empat sekolah dasar. Ayah pergi merantau sekitar 9 tahun yang lalu. Waktu itu, aku masih berumur 1 tahun. Aku ditinggalkan oleh Ayah, saat aku masih belum mengenal baik suara dan rupanya.

Sejak kecil, aku sangat dekat dengan Kakek dan Nenekku. Aku sering menghabiskan hari-hariku bersama mereka. Waktu Ibu masih di sini pun, aku jarang menghabiskan waktu dengannya. Apalagi Ibuku, tahunya hanya main handphone. Ia jarang menemaniku bermain.

Sekarang, aku masih terhitung cucu tunggal Kakek dan Nenek. Aku belum punya adik. Aku selalu dibilang seseorang yang paling dimanjakan oleh Kakek dan Nenek. Mereka sangat menyayangiku.


Waktu itu, kondisi keuangan keluarga kami tidak memungkinkan untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup kami. Kondisi kelaparan tidak bisa kami elakkan.

Saat masih muda dulu, Kakek biasa bekerja sebagai pekerja harian. Itu adalah satu-satunya cara Kakek menafkahi keluarga kecilnya. Tapi, kini Ia sudah berkepala enam. Ia tidak bisa bekerja keras lagi. Ayahku yang meneruskan karirnya untuk menafkahi keluarga. Ayah menjadi seorang buruh harian.

Kami tidak punya banyak tanah seperti suku-suku lain di kampung ini. Menurut cerita Kakekku, nenek moyang kami dulu adalah seorang pendatang. Sebagai seorang pendatang, mustahil jika punya tanah lebih banyak dari tuan kampung ini. Jadi, tidak salah, keluarga kami tak punya ladang dan sawah. Keluarga kami tidak pernah merasakan hasil panen dari ladang dan sawah sendiri. Semuanya serba beli dengan mengandalkan upah harian. Kondisi ini yang membuat keluarga kami bertahan hidup, dengan bekerja sebagai buruh harian.

Pekerjaan harian di kampung yang bersifat musiman, membuat penghasilan Ayah tidak tetap. Terkadang hari ini bekerja, terkadang besok tidak. Selain itu, upah yang didapat dari pekerjaan itu tidaklah seberapa. Sementara kebutuhan dan pengeluaran hampir setiap saat selalu mengalir.
Kondisi ini yang memaksa Ayahku merantau ke luar. Orang-orang pernah cerita, bahwa di Kalimantan sana, ada banyak perusahan yang membutuhkan tenaga kerja tanpa berstandar ijazah. Besar-kecilnya penghasilan di sana, tergantung tenaga dan semangat kita dalam bekerja. Target pengahasilan selalu diukur dengan tenaga kita dalam bekerja. Kalau kita semangat bekerja, maka akan mendapatkan hasil yang memuaskan.

Ayahku hanya memiliki ijazah sekolah dasar. Pekerjaan yang tidak mengandalkan ijazah itu membuat Ia tertarik untuk pergi ke sana.
Om Arman, adalah seorang perantau yang baru datang dari Kalimantan. Ia berasal dari kampung tetangga. Orangnya tergolong sukses. Ia punya rumah besar di kampung. Dua orang anaknya sukses menjadi sarjana. Semuanya itu berkat perantauannya.

Om Arman diutus oleh bosnya untuk mencari tenaga kerja di kampung. Ia sudah lama bekerja di perusahan kelapa sawit. Ayahku akan pergi bersamanya.

Enu, kalau saya punya pekerjaan bagus di sana, saya akan datang menjemput kalian,” pesan Ayah kepada Ibu sebelum pergi.

Ibu mengangguk sambil meneteskan air matanya. Kondisi ekonomi kami yang terbilang lemah ini, membuat Ayah rela meninggalkan keluarga.
Ibu hanya mengharapkan satu hal; Ayah mendapatkan pekerjaan bagus di sana, agar secepatnya Ibu menyusul ke sana. Sedangkan aku, rencananya akan ditinggalkan bersama Kakek dan Nenek di kampung.

Sekian lama Ayah di sana. Setiap bulan selalu mengirim jatah untuk kami. Tiada bulan tanpa mengrim. Ayah sangat paham. Tidak ada sumber pemasukan lain di dalam keluarga kami. Kami hanya mengharapkan uang hasil kerja kerasnya.

Berkat kerja keras Ayah di sana, kini kami tinggal di rumah baru. Rumah baru kami selesai dibangun beberapa bulan lalu. Ibu sangat berharap, bahwa setelah rumah kami selesai dibangun, Ayah harus pulang kampung. Kalau pun tidak pulang, setidaknya Ibu menyusulnya ke sana.

Nana, bagaiamana dengan omongan-mu dulu? Kapan kamu menjemputku?”
Enu, aku pikir, lebih baik kamu di kampung saja. Kamu tahu kan? Ibu dan Ayah sekarang sudah tua. Siapa yang mengurus mereka dan Anak kita nanti. Lagian, Dia masuk sekolahnya tahun depan.”

Nana, kalau kamu tidak mengijinkan aku untuk pergi ke sana, lebih baik kamu yang pulang kampung,” kalimat penutup Ibu dalam telepon itu.

Beberapa tahun kemudian, Ayah belum juga pulang. Setiap kali bertelepon, Ibu selalu memintanya untuk pulang. Ayah selalu menjawab, tunggu tahun depan. Tetapi sama sekali tidak pernah Ayah tepati ucapannya itu.


Suatu sore, kami sangat terkejut. Ibuku yang menghilang beberapa bulan lalu, tiba-tiba menginjakkan kaki di rumah ini. Ibu tidak sendirian. Ia datang bersama seorang laki-laki. Katanya, mereka ingin mengambil semua barang-barang Ibu yang masih tersisa di rumah ini.

“Kring…kring…kring…” telepon masuk pada handphone Ibu. Sesuatu yang mengejutkan. Tiba-tiba saja Ayah menelepon di nomor Ibuku. Sebenarnya, Ibu tidak ingin mengangkat telepon itu. Tapi lelaki yang datang bersamanya, menyuruh untuk mengangkat telepon itu.

Nana, minta maaf. Aku sebagai manusia yang normal, aku tidak tahan dengan jarak yang memisahkan dalam tempo yang sangat lama ini. Kini, aku telah bersama seseorang.”
“Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak paham dengan keputusanmu itu, Enu,” Ayah berkata dengan suara parau hendak menangis.
“Iya, Nana, aku merasa pantas untuk melakukan hal ini. Sudah bertahun-tahun menunggu kepulanganmu. Setiap kali telepon, aku selalu memintamu untuk pulang, dengan berbagai alasan juga engkau mengelak. Hati kecilku selalu berkata, mungkin di sana engkau punya istri lain yang membuatmu betah, Nana. Maafkan aku, jika keputusanku salah!” Ibuku mematikan telepon itu sambil menangis.

Aku mendengar isak tangis Ayahku dari telepon itu. Tidak terasa air bening dari bola mataku jatuh. Sungguh, aku tak ingin perpisahan itu tercipta, sebelum aku merasakan Ayah dan Ibu rsama-sama membesarkan aku.

Semua pakaian Ibu sudah dibereskan. Ia memelukku dengan erat. Air mataku menetes membasahi pipi. Kakek dan Nenekku tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan itu.

Setelah Ibu pergi, handphone Kakekku berbunyi. Ayahku menelepon. Ayah meminta Kakek untuk mengadakan pertemuan di rumah kami. Saat malam tiba, seluruh keluarga kami berkumpul di rumah. Agenda yang dibahas dalam pertemuan itu adalah, soal belis yang telah dibayar oleh keluarga Ayah kepada keluarga Ibu. Satu keputusan yang didapatkan dari pertemuan itu, belis dan semua harta yang telah diterima oleh keluarga Ibu, dituntut agar dikembalikan.

Penulis; Mahasiswa Unika St. Paulus Ruteng. Tinggal di Rejeng-Lelak, Manggarai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here