(Surat cinta ke-1007 buat anakku yang ganteng)

Oleh: Usman D. Ganggang

Nak, hingga kapan pun, Pua tetap bangga punya anak cowok yang ganteng, meski rada pendiam. Pua tetap menyadari bahwa orang yang disebut pendiam itu, bukan berarti bodoh. Buktinya, Ananda, masih mau bercurhat pada Pua, “Apa itu cinta, Pua?” tanyamu usai shalat magrib, senja tadi.

Sebuah pertanyaan bagus, yang patut diapresiasi. Pasalnya, pertanyaan ini membuktikan bahwa Anakku sudah menanjak dewasa dan tentu sudah memikirkan pendamping hidup. Tentu cinta dalam arti sempit.

Dari referensi yang dibaca Pua, tidak menemukan definisi tentang cinta. Para pakar, baik pakar sosiologi apalgi oleh penyair, jarang mereka mendefinisikan cinta. Bagi mereka, cinta, tak punya definisi. Pasalnya, cinta hanya bisa dimengerti sebagai sebuah proses. Cinta tak pernah dipotret secara utuh, kata Gunawan Mohamad, pemilik “Catatan Pinggir” dalam Majalah Tempo.

Cinta pun, tak akan bisa hidup bersama perhitungan untung-rugi. Cinta pun tak pernah dipakai dalam siasat politik. Cinta tak pernah terima doktrin yang membekukan pikiran dan perasaan. Cinta berani lepas dari semua itu.

Iya, boleh jadi, karena keterbatasan Pua, maka itulah jawaban yang pasti buat Ananda. Tetapi jika Ananda bertanya tentang bentuk-bentuknya, maka Pua, bisa jelaskan bahwa bentuknya, ada bentuk cinta romantik; cinta kepada kawan; cinta main-main, hehehe. Untuk jelasnya, Ananda bisa baca dalam buku Psikologi Sosial pada halaman 264.

Oke? Teruslah berjuang dalam meraih cita-cita dan cintamu yang sudah tumbuh dan berkembang. Doa Pua buatmu Anandaku.

Pondok Bambu-Jakarta, 20 September 2017
Bersama Laili Albone;

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here