Oleh: Nardianus Virgo

Lihatlah! Negeri yang begitu elok dan indah. Warisan leluhur yang mampu menggetarkan jiwa kita. Dedaunan hijau, melambai menyapa penghuni negeri tanpa henti. Hiruk pikuk penghuni menamai diri sebagai penguasa. Nafsu dan ego menjadi sorotan daun-daun kering yang tidak terpakai di negeri ini.

Negeri yang ramah dengan diri sendiri, ramah dengan pendatang menamai penghuni, terus bergulir. Air mengalir tanpa putus itulah gambaran negeriku yang terbelit masalah tanpa kelar. Runtutan problem terus melingkari wilayah kehidupan dan kebijakan hanya mencari kepentingan.

Empuknya kursi penghuni negeri, tak memberikan kepuasan kalau ego tidak menyelimuti derita mereka. Pahit! Memang pahit!

Negeri ini hanya dimaniskan dengan gula, yang sesaat dan hilang diminum penghuni rasa haus. Semuanya ingin manis. Bila belum manis ditambah gula menjadi lebih manis. Apakah kelebihan gula tidak menimbulkan penyakit? Bukankah gula sebagai penyebab naiknya gula darah? Ataukah dengan gula, apakah penghuni negeri menjadi lebih manis?

Oh, no! Exactly no! Sangat tidak mungkin. Kalau seorang penghuni negeri minum kopi over sugar menjadi lebih manis. Apanya yang manis? Tentu saja senyumannya, gesture tubuhnya dan performance-nya. Namun, apakah ini sebatas sampai disini?

Aku tak menduganya. Aku dapat menerawang situasi yang mungkin terjadi. Aku hanya belajar dengan situasi negeri yang penuh carut marut ini. Dia berkata lain dan Dia pula bertindak lain. Suatu ketika ingin menyelamatkan daun-daun kering, saat ini pula daun-daun kering dikerukan. Apakah ini penghuni, bukan? Dia berkata, seolah daun-daun kering yang berserakan itu hanya diam seribu bahasa. Soal kering, memang aku kering! Namun, dibalik kering aku berguna. Mustahil, jika kamu membakar sampah dengan daun mentah, itu mustahil. Hanya daun keringlah yang bisa menyalakan apimu. Kalau engkau penghuni negeri punya hati yang bijak, ketuklah pintuku. Sapalah hatiku. Itu bijak! Jauhkan narasi politik kerdilmu yang kian merebak dalam derita daun-daun kering itu.

Ketika engkau berjalan dan menginjakan kepalaku, aku hanya menjerit rasa sakit. Aku hanya siap menjadi serbuk tak berarti dalam hidupku. Kami daun-daun kering siap menjadi serbuk karena kuasamu.

Kuasamu hanyalah nafsumu. Kuasamu hanyalah egomu. Kuasamu hanyalah kekerdilanmu. Kuasamu hanyalah gaibmu demi meraih kemenangan tak terhingga suatu saat.

Ketika kami sebagai daun-daun kering, ingin terbang dengan sayap yang terluka, kami kembali diinjak kuasamu. Bukankah kuasamu adalah mautmu? Bukankah kuasamu adalah nerakamu? Dan bukankah kausamu adalah jeruji besimu? Aku tak tahu. Aku ada di negeri ini, karena aku dititipkan. Negeriku ada saat ini, karena Dia dititipkan. Oleh siapa? Bukan setan, bukan binatang, bukan mistis, tetapi Dialah nenek moyangku. Kini mereka telah pergi jauh dari kami, mereka tak bersatu lagi dengan kami. Kami daun-daun kering hanya berdoa, Mori campe (Tuhan tolonglah). Neka koe ondang koas neho kota, neka koe senangs behas neho kena.

Ah! Sialan! Kaum berdasi datang silih berganti mencari perhatian kami. Membujuk daun-daun kering untuk satu hati, satu tekad membangun negeri tercinta.


Tok…tok…tok! “Siapa itu?” Tanya si Lewing. Dia berjalan pelan menuju pintu dan membukanya. “Hai, Ute. Silakan Anda masuk. Oh, ya Lewing, terima kasih”. “Aduh, Ute, senang sekali bertemu denganmu hari ini,” kata si Lewing. “By the way, Lewing, apakah kamu melihat perubahan di negeri kita ini?,” tanya Ute. “Perubahaan apa maksdumu?,” tanya Lewing. “Ya…perubahan-perubahan yang terjadilah.”

Lewing, hanya senyum. “Begini ya Ute, kalau bicara perubahan ya ada. Dan drastis sekali. Hehehe, kamu bingung?,” tanya Lewing. “Bukan juga, Lewing. Aku penasaran dengan perubahan drastis itu.”

“Oh ya. Gampang. Boleh aku tanya padamu?,” tanya Lewing. “Oh ya, tidak apa-apa. Sangat boleh,” jawab Ute. “Begini Ute… Negeri yang elok ini, telah dipecahkan perawannya akibat nafsu kaum berdasi. Lihatkan?,” Sambung Lewing. Ute, menganggukkan kepala dan mengerti maksudnya.

“Lewing, benar apa katamu. Aku juga memikirkan hal itu. Aku salut denganmu. Luar biasa! Lalu bagaimana pendapat teman yang lain?,” tanya Ute. “Ute, tidak ada gunanya kalau teman-teman lain tidak ada lagi. Apa rasanya kita berdua tanpa Si’e? Lalu dengan apa kita dimasak tanpa air? Ini penting sekali teman. Bahkan sebelum aku dimasak, aku membutuhkan air untuk tumbuh dan berkembang,” kata Ute. “Yaaaa… teman! Aku juga berpikir, aku yang kotor, tanpa air dengan apa aku dimandikan? Bisakah orang-orang membutuhkan aku yang kotor?,” sambung Lewing. “Aku sangat meragukan kehidupanku. Aku takut, dikemudian hari aku tak dipakai lagi. Sedih teman!”

Tok…tok…tok! “Halo Kraeng Lewing,” panggil si Si’e. Lewing meninggalkan Ute sebentar untuk membuka pintu. “Siapa?,” tanya Lewing. “Saya Kraeng… Saya Si’e”. “Oh ya, tunggu”. Jawab Lewing.

Lewing membukakan pintu. “Aduh kawanku, ayo masuk.. masuk,” kata si Lewing. “Bagus Kraeng Si’e, kebetulan dari tadi saya ditemani Ute untuk berbincang”. “Apa saja itu? Tanya Si’e”. “Ayo kita ke ruang tamu,” ajak Lewing.

“Ute, ini Kraeng Si’e datang”. “Hai Si’e, lama tidak bertemu denganmu. Selamat datang ya?,” kata Ute. “Ok kawan, terima kasih,” jawab Si’e.

“Lewing dan Ute, apa yang kalian berdua perbincangkan dari tadi? Aku penasasaran teman,” tanya Si’e. “Hahaha, kawan memang orang yang tidak tahan sabar ya?”. “Begini Si’e,” lanjut Ute. “Kami lagi memikirkan bagaimana cara mempertankan hidup ini ke depan. Karena dunia sekarang semakin sekarat bahkan mendekati maut. Di sana sini, Wae telah berkurang. Bisakah kamu tanpa Dia? Mustahil kan?,” tanya Ute.

Si’e menggelengkan kepala. “Huss! Sepertinya Si’e merasa kecewa. Apa sih yang mendasar teman, sampai si Wae itu berkurang? Bukannya negeri kita ini negeri kaya dengan Wae? Lalu kok bisa berkurang? Pok!, Sambil memukul meja.

“Lihat teman, Si’e. Di hutan sana, kayu-kayu sumber Wae itu telah dibabat habis-habisan penguasa negeri ini. Nafsu mereka tidak main-main. Nafsu dibalut kekuasaan itu yang membahayakan kehidupan negeri kita ini. Sialkan?,” tanya Ute. “Ya sial lah… Mau apa lagi?,” lanjut Ute. “Dan jujur ya teman, Si’e. Kalau teman Wae itu berkurang dan hampir punah, maka kita-kita ini tidak ada gunanya. Sayur mau dimasak pakai apa? Pakai bensin? Atau pakai minyak? Lalu, kamu Si’e, tidak ada gunanya lagi hidupmu. Engkau ingin memberikan cita rasa pada Ute, kau hancurkan dengan apa? Kau bersedia ditumbuk?

Si’e, tunduk. “Sialan…! sialan…! Sungguh negeri sialan!

“Gimana teman-teman?,” tanya Lewing. “Kita jalan-jalan dulu sambil menikmati udara segar di alam sana, mumpung kita lagi bersatu. Menjadi ketakutan, apa bila di hari esok kita tak bersama lagi. Lihat saja kan? Penguasa merajalela. Hidup kita ini tergantung mereka. Kalau mereka masih mempunyai rasa kasihan dengan kita, ya kita tetap selamat. Tapi sekarang, mana ada kasihan dengan kita?”. “Benar teman, Lewing,” jawab Ute dan Si’e. “Ok, gimana kalau kita jalan-jalan menuju ke rumahnya Wae. Mungkin Dia ada di rumahnya”. “Ayo, sepakat”.

“Eh, ukankah itu si Wae?,” kata si Lewing. “Yang mana teman?”. “Itu, di bawah pohon dadap”. “Oh ya, benar. Ayo kita cepat menemuinya”.

“Hai, teman Wae, apa kabar?”. “Ha, siapa itu?,” sontak si Wae. “Mmmmmmmm… oh ya, uhuk uhuk uhuk. Aduh… kasihan. Kenapa denganmu Wae?”. “Tidak apa-apa, teman,” jawabnya.

“Ew… teman Wae, sepertinya kamu lagi memikirkan sesuatu ya?,” tanya Ute. “Memangnya kenapa ya?,” jawab Wae. “Eh, Wae. Soalnya kamu itu kelihatannya kurang semangat. Ada apa denganmu?.”

“Ya, memang benar teman. Aku ini lagi dirundung duka. Ini bukan hanya duka, tetapi nestapa. Beberapa hari-hari ini, aku sepertinya terancam. Seolah aku hidup tak berguna bagi yang lain. Badanku sering terasa kaku dan kering. Aku sepertinya tidak bisa melangkah dengan cepat, apalagi melewati jalan mendaki. Susah teman! Sungguh susah hidupku. Banyak orang meneriakkan namaku, karena aku tak lagi nongol di rumah mereka.”

“Lalu, bagaimana cara yang harus kita lakukan agar kehidupan kita tetap aman dan terkendali?,” tanya Ute.

“Kalau menurutku, kita menyerah saja,” jelas si Wae. “Ah! Tidak! Tidak! Itu tidak boleh kita biarkan. Seandainya kita menyerah, dan kamu Wae terus berkurang, dengan apa kami dimasak,” tanya Ute.

“Lalu, dengan apa saya dibersihkan, kalau kamu menyerah Wae? Aku lebih sengsara tidak dibutuhkan orang, karena aku kotor dan hitam.”

“Begini teman-teman, kita jangan tanyakan pada diri kita apa yang dibutuhkan dunia. Bertanyalah apa yang membuat Anda hidup, kemudian kerjakan. Karena yang dibutuhkan dunia adalah orang yang antusias dan janganlah pernah menyerah ketika kita masih mampu berusaha lagi. Tidak ada kata akhir sampai Anda berhenti mencoba.” Tabe!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here