Oleh: Riko Raden

Ende Gita yang dikenal pemaaf dan selalu tersenyum itu tak pernah bosan berdoa rosario. Pada bulan Mei, Ia biasanya selalu datang berdoa dari rumah ke rumah. Setiap malam, selalu hadir tepat waktu dan duduk paling depan di rumah doa. Ia duduk dekat patung Bunda Maria. Setiap kali Ia duduk di depan dekat patung ini, anak-anak ataupun orang dewasa tidak boleh batuk apalagi ribut. Ia sangat kecam sekali, apabila ada yang ribut sementara Ia sedang berdoa. Apabila Ia hendak mengikuti doa bersama, tidak lupa pula di tangannya selalu memegang sebuah rosario.

Ende Gita, selain berdoa rosario bersama, di rumahnya juga sempatkan waktu sedikit mungkin sepuluh menit, berdoa untuk keluarga kecilnya. Ende Gita, dengan hatinya penuh kekuatan rohani, selalu berdoa agar Tuhan memberkati keluarga kecilnya. Dalam keluarga kecil ini, Ende Gita, dikarunia empat orang anak. Anak laki-laki ada tiga dan satunya anak perempuan. Suaminya tidak seperti dirinya. Apabila, Ende Gita pergi berdoa rosario bersama, suaminya selalu saja ada alasan yang mendesak, padahal tujuannya supaya Ia tidak mengikuti berdoa bersama.

Setiap malam, suaminya selalu saja ada alasan apabila, Ende Gita, mengajaknya untuk pergi berdoa rosario. Ende Gita, pun tidak marah, karena Ia tidak memaksa iman seseorang, walau itu suaminya sendiri. Ende Gita, hanya takut pada akhir zaman yang disabdakan Yesus dalam Injil. Bahwa yang bisa sampai pada keselamatan kekal (masuk Surga), hanyalah orang-orang yang selalu tekun berdoa dan berbuat baik. Ende Gita, tidak mau merepotkan suaminya untuk mengikuti kehendaknya. Ia juga sadar, bahwa Imannya hanya sepantas biji sesawi. Oleh karena itu, urusan akhir zaman ditanggung masing-masing.

Gita, ngo ngaji ga. Gereng ceing kole ga? (Gita, pergi berdoa sekarang. Kau tunggu siapa lagi?),” kata suaminya. Suasana malam di rumah mereka begitu sepi. Maklum saja, di rumah ini tinggal hanya mereka berdua. Anak-anak mereka pergi merantau. Sampai sekarang, belum satu pun pulang untuk menemai mereka.

“Iyo, ho aku ngo ngaji ga. Asa ite toe ngo ngaji ko? (Iya, sekarang saya mau pergi berdoa. Terus, kau pergi kah?,” jawab ende Gita. Tiba-tiba Ia pergi ke kamar, mungkin ada lupa sesuatu. Begitu pulang dari kamar tidur, ternyata Ia lupa mengambil doa rosario.

Aku toe mango ngo ngaji. Biar aku lami mbaru kaut. (Aku tidak pergi berdoa. Aku jaga rumah saja),” jawab suaminya.

Kemudia, suaminya meraba saku baju, ternyata ada sebatang rokok surya, lalu dibakarnya. Ia duduk santai di sebuah kursi dekat jendela, lalu mengambil asbak rokok, meletakkan di depannya. Melihat tingkah suaminya, Ende Gita tak omong banyak, langsung pergi meninggalkan suami di ruamh mereka. Ia pergi berdoa, bertemu Tuhan. Sungguh, Ende Gita orang yang baik hati. Ia tidak pernah marah pada suaminya. Walau suaminya selalu malas pergi berdoa rosario, Ia tetap mencintainya. Ia bisa hidup karena suaminya. Ia tahu sekarang, bahwa tugas yang paling berat Ia lakukan adalah berdoa untuk suaminya, yang selalu bekerja untuk keluarga kecil mereka. Ia harus rajin berdoa untuk suaminya.


Tahun lalu, tepatnya pada bulan Mei seperti sekarang ini, Ende Gita selalu rajin pergi berdoa rosario bersama, dari rumah ke rumah. Namun, apa yang terjadi dengan tahun ini. Sungguh berbeda dan tak pernah dibayangkan Ende Gita, pun seluruh umat manusia. Kalau tahun lalu, Ende Gita, apabila pergi berdoa rosario bersama, di tangannya selalu memegang sebuah rosario. Itu menjadi kekuatan Ende Gita saat berdoa. Sekarang, Ende Gita hanya berdoa dari rumahnya saja. Ia tidak lagi pergi berdoa bersama dari rumah ke rumah. Pemerintah menganjurkan agar selalu jaga jarak dan jangan berkumpul lagi. Kegiatan-kegiatan rohani seperti doa rosario tidak dijalankan.

Situasi seperti ini, membuat Ende Gita takut dan tak pergi berdoa bersama lagi. Ia takut dengan virus corona, walau Ia sendiri belum tahu apa itu virus corona, sejenis apa itu virus corona dan bagaimana Ia bisa tertular. Ia hanya percaya dan patuh pada anjuran pihak pemerintah. Sekarang, Ende Gita hanya berdoa di rumahnya saja. Walau situasi membuat Dia tidak bergerak bebas untuk pergi ke pasar sekadar membeli sayur, ubi atau pun ikan lure, tapi Ia tetap menjalankan rutinitasnya yaitu berdoa. Setiap malam sebelum tidur, Ia selalu berada di depan patung Bunda Maria dan berdoa di sana. Ia selalu berdoa seorang diri, sementara suaminya kadang tidur cepat. Tidak lupa pula, Ia selalu memakai masker apabila mau berdoa. Ende Gita yang baik hati ini, selain Ia berdoa untuk suami dan keluarga kecilnya, Ia juga berdoa untuk para medis dan pemerintah, agar selalu diberkati Tuhan untuk bisa menangani virus corona ini.

*Ende artinya Ibu dalam bahasa Manggarai.

Penulis; Asal dari Ndiwar. Sekarang tinggal di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here