Oleh: Riko Raden

Aku mencintainya seperti angin mencintai bunga, seperti hujan mencintai pelangi. Namun, yang kuterima hanyalah duri tajamnya. Nyatanya, Dia bahagia saat dirinya pergi dari hidupku. Aku tahu kita, sama-sama diciptakan dari debu dan tanah yang kotor dan rapuh. Karena itulah, kubutuhkan segala pemahaman dan penerimaannya. Untuk selalu dapat membersihkanku. Menopang kerapuhanku.

Namun, aku salah jika cintaku tidak membuatnya betah, dengan segala kerapuhan dan kelemahanku. Untuk itulah, Dia pergi dari hidupku. Pergi tanpa kembali. Dan aku pun tahu, cinta tak selamanya harus dimiliki. Ia datang lalu pergi. Saat diriku ingin membutuhkan dirinya, saat itu pula aku terluka karena Dia tidak pernah hilang dalam ingatanku. Dia tetap ada dalam ingatanku, tapi serentak pula hatiku luka karena tidak pernah merasakan sosok cintanya lagi. Wajah yang selalu kudambakan selama ini, tak pernah kulihat lagi. Wajah yang membuatku merasa bahagia, kini telah tiada.

Hari-hariku begitu hampa dan sepi tanpa suara, canda dan tawanya lagi. Aku harus menerima kenyataan pahit, bahwa Dia bukan milikku lagi. Dia telah memutuskan untuk pergi meninggalkan aku. Aku pun tidak berhak untuk mengatakan, agar dirinya tetap bersamaku.

Namun, hatiku sedih karena ditinggalkan oleh orang yang sangat kucintai. Di sini aku sepi sendiri, merajut sunyi lalu berusaha untuk melupakan bayangan wajahnya.

Adalah Rio, lelaki yang pernah hadir dalam hati ini. Aku mengenalnya saat aku mengadakan suatu kegiatan di desanya. Di desanya ini, Rio bagaikan permata yang selalu menarik perhatianku. Dia sangat berbeda dengan teman-temannya soal penampilan. Dia bersih dan rapi. Aku mengaguminya, saat melihat dirinya berjalan di depan kost kami. Tanpa malu, aku bertanya kepada tetangga kost tentang dirinya. Ternyata,, orang-orang di kampung ini sangat kenal dengan kebaikan yang dilakukannya. Kata tetangga kostku, Dia sangat rajin apabila ada kerja bakti bersama dan juga aktif untuk mengkoordinir teman-temannya.

Mulai saat itulah, aku jatuh cinta dengan Rio. Awalnya, aku malu mengatakan bahwa aku mencintainya. Aku malu apabila perasaanku ditolak. Barangkali, karena saking kuatnya perasaan cintaku, sehingga Dia menerima perasaanku. Aku malu juga, karena sebenarnya lelaki yang harus lebih dahulu apabila ada perasaan cinta kepada seorang perempuan. Tetapi, aku tidak ingin ada perempuan lain yang menginginkan hatinya juga. Lebih baik, aku mengatakan rasa cintaku padanya.

Kurang lebih satu bulan, aku mengadakan kegiatan di desanya, kini tiba saatnya aku pun kembali ke kampus untuk melanjutkan sekolahku. Ada begitu banyak janji yang kami ikrarkan bersama. Apabila Rio hendak mengunjungiku, tinggal telpon saja supaya aku tahu. Entah mengapa, waktu itu, Dia tega memutuskan agar hubungan kami tidak boleh lanjut. Artinya, hubungan kami putus. Aku tidak tahu alasannya, sehingga Dia tega mengatakan hal itu. Aku tidak tahu mengapa Dia tega meninggalkan aku. Apa salahku, sehingga Dia pergi tanpa meninggalkan pesan pun kesan. Aku menyesal dengan keputusannya secara tiba-tiba. Padahal, kami sudah berjanji untuk tidak meninggalkan satu sama lain. Aku merasa bahagia saat Dia mengatakan untuk tetap bersamaku, di mana pun berada. Aku juga bahagia karena dia mengucapkan kata janji itu tepat di depan mataku. Artinya dia tulus mengatakannya. Aku sangat percaya dan tulus menerima kata janjinya itu. Dan sejak saat itu, aku mulai percaya padanya dan sangat sulit untuk melepaskannya. Aku berpikir, Tuhan ada saat itu. Aku dan Dia ibarat air yang mengalir di sungai yang tak bisa dipisahkan. Bila matahari datang dan membakar kami, aku akan menguap dan kau pun begitu adanya. Kami menguap lalu kembali menjadi air. Namun, setelah Dia pergi, aku mulai berpikir, ternyata kata janjinya itu hanya belaka saja. Dia mengucapkan kata janjinya hanya di bibir, bukan berasal dari hatinya.

Ketika aku mengingat kata janjinya, aku juga tidak mempersalahkan dirinya. Aku merasa bersalah, karena terlalu percaya dengan ucapannya. Aku merasa bodoh, karena terima begitu saja cintanya tanpa melihat siapa dirinya. Selama ini, aku berusaha untuk tidak menerima laki-laki lain selain dirinya. Aku terlalu percaya pada dirinya. Aku tidak tahu, setelah Dia pergi meninggalkan aku, apakah Dia masih ingat dengan janjinya, ataukah Dia sudah lupa. Ketika Dia pergi meninggalkan aku, hati ini sungguh sakit. Mungkin karena hati ini sudah terlanjur mencintainya. Padahal, orangtuaku terus-menerus mengingatkan, agar aku tidak terlalu fokus untuk mencintainya. Tapi, aku tidak mendengarkan nasehat mereka. Aku yakin, Dia adalah pemberian Tuhan dalam hidupku. Ternyata aku salah. Aku terlalu egois. Dan pada akhirnya, aku yang tersakiti. Tapi, hati ini terus menyebut namanya. Kepergiannya membuatku selalu punya waktu untuk berpikir tentang Dia. Atau mungkin karena selalu mengingat kata janjinya.

Janjinya itu, ketika kami duduk di bawah pondok dekat jalan, sembari terus merenung tentang perjalanan cinta kami selanjutnya. Pondok ini, menjadi saksi bisu tentang segala ungkapan janji kami. Waktu itu juga, hujan turun sangat lebat. Aku dan Rio menunggu hujan itu berhenti. Aku sibuk mengamati hujan deras, tetapi Rio justru menikmatinya. Aroma hujan, aku selalu menyukai itu. Rintikan hujan mengalun seperti sebuah musik di telingaku. Aku menikmati itu, sampai aku tak tahu bahwa Rio memberikan jaketnya untukku. Tak lama kemudian, hujan berhenti. Kami tetap duduk di bawah pondok ini. Aku terus memeluk tubuhnya. Rasa hangat, bagaikan sang surya di pagi hari. Aku merasa bahagia dalam pelukannya. Dia membuatku bahagia.

Enu…” katanya pelan. “Aku tidak ingin kita terus bertengkar karena hati kita tidak selalu sama. Aku ingin kita berdua saling mengerti. Aku takut kehilanganmu kelak,” kata Rio sambil mencium keningku.

“Iya, aku juga tidak ingin kita terus bertengkar. Aku tahu, selama ini kita tidak saling memahami soal hati. Sebenarnya, aku rasakan ini sudah lama, sejak engkau tidak memberikan kabar denganku. Tetapi, aku baik-baik saja, karena aku tidak bisa membohongi perasaanku bahwa aku sangat mencintaimu. Aku juga takut kehilanganmu. Aku ingin kita terus bersama sampai Tuhan menghendaki kita berpisah di alam sana,” jawabku sambil memeluknya.

Enu, bagaimana nanti jika orang tua tidak restui hubungan kita ini. Apakah engkau masih mencintaku?” tangan Rio terus mengelus rambut kepalaku. “Aku sangat mencintaimu enu. Hatiku tidak bisa berpindah lagi. Hatiku bak daun yang selalu dekat dengan rantingnya. Aku ingin enu juga sama seperti yang kurasakan sekarang.”

“Iya, aku juga sangat mencintamu. Kita berdoa, agar orangtua kita merestui hubungan kita ini.”

Tanganku coba memeluk lebih erat tubuh Rio yang agak lebih besar dari tubuhku. Dalam hati, aku ingin mengatakan kalau aku sangat takut kehilangan Rio. Aku ingin agar kami tetap hidup bersama selamanya. Tapi, aku tidak mau mengatakan itu kepada Rio. Biarkan waktu yang mengatakan semuanya ini.

Itulah janji kami saat itu. Aku terlalu yakin dengan janjinya. Aku juga tahu cinta tak selamanya harus memiliki. Ia datang lalu pergi. Cinta bisa bertahan apabila hati telah menyatu. Yang datang tak selalu bertahan. Ada kalanya cinta harus pergi. Tetapi sampai saat ini, aku tidak tahu mengapa Dia pergi tanpa meninggalkan pesan pun kesan. Dia pergi begitu saja. Hingga kini, aku masih menunggu kabar, tentang alasan Dia pergi.

Hanya di sini aku masih sendiri dan selalu punya waktu untuk memikirkannya. Di kamar tidur yang kecil dengan lampu temaram. Menutup diri dari orang tua dan keluar kamar hanya untuk ke kamar mandi saja. Aku juga berpikir, untuk apa keluar dari kamar dan jalan-jalan jika tak ada yang harus ditemui. Untuk apa menjalani dengan teman-teman apalagi pacar yang pada akhirnya pergi. Tak ada gunanya. Hanya menghambur waktu saja. Aku terus berada di kamar dan menutup diri, juga tak mau diganggu.

Di luar kamar, aku selalu mendengar bisikan dari rumah tetangga tentang keadaan diriku. Mungkin, karena mereka jarang melihatku duduk di depan teras rumah. Karena kebiasaanku apabila rumah lagi sepi, pasti aku duduk di depan rumah sambil menikmati kopi,, juga selalu menyapa orang bila melewati rumah kami. Barangkali demikian, sehingga tetangga selalu menanyakan keberadaanku. Enthalah, sekarang aku hidup dengan duniaku sendiri.

Di dalam kamar, aku terus merenung. Menyendiri tanpa ada yang menemani. Orang tuaku mengerti dengan keadaanku. Mereka tidak pernah bertanya tentang isi hatiku. Atau mungkin, mereka juga pernah mengalami hal yang sama waktu masa muda dulu. Barangkali mereka pernah mengalami sakit hati. Entahlah, intinya mereka tidak menganggu keadaanku sekarang.

Enu, maafkan aku karena pergi tanpa memberikan alasan. Aku berharap engkau bisa mengerti,” kata Rio melalui telpon.

“Apa maksudmu. Aku tidak mengerti dengan kata-katamu,” jawabku padanya.

Dalam hatiku, sebenarnya ada perasaan bahagia saat mendengar suaranya. Walau sudah lama kami tidak memberi kabar, tapi suaranya tidak asing lagi bagiku. suaranya sudah melekat dalam hatiku. Aku juga bahagia, karena Dia tidak melupakan aku. Malam ini dia telpon lagi. Semoga tidak ada kata pergi lagi.

“Begini enu. Aku pergi meninggalkanmu, dengan alasan, bahwa cinta yang kita bangun selama ini ternyata tidak direstui oleh orangtuamu.”

“Maksudmu apa?” aku coba menanya kepastian dari alasannya.

“Waktu keluargaku datang ke rumahmu untuk membahas belis, keluargmu meminta tidak sesuai dengan keadaan kelurgaku. Saat itu, aku duduk di samping tongka dari pihak keluargaku. Aku melihat tongka dari pihak keluargamu sangat ngotot agar semua belis yang Dia ucapakan harus terpenuhi. Tapi keluargaku menolak. Mulai saat itu, hubungan di antara keluarga kita mulai kendor. Melihat hal itu, aku pun pelan-pelan untuk meninggalkan dirimu. Aku berpikir itu yang terbaik. Bahkan orang tuaku, mengatakan kepadaku agar kita berpisah. Itu makanya, aku pergi meninggalkanmu. Sekali lagi maafkan aku.”

“Jangan begitu,” nada suaraku pelan. Air mataku pun pelan-pelan jatuh. “Aku sangat mencintaimu. Tolong jangan tinggalkan aku.”

“Aku angkat tangan enu. Belis untukmu terlalu mahal. Aku tidak bisa membayar semuanya. Aku sempat mengeluh, mahal betul harga cinta kamu. Aku tidak tahu mengapa engkau ngotot mencintaiku dulu. Mengapa engkau tak pernah mendengarkan keluhku dan penjelasanku tentang hidupku. Mengapa engkau begitu percaya dengan janjiku. Aku kira, tanpa kujelaskan pun, engkau pasti tahu betapa susahnya hidupku. Susah, ketika rasa cintaku padamu mulai tumbuh, aku justru dihadapkan dengan kepelikan. Aku melamarmu, tapi Ayahmu meminta belis yang mencekik leher. Aku angkat tangan dan harus pergi meninggalkanmu.”

“Iya nana, aku tahu semuanya itu. Tapi, itukan adat. Kita harus mematuhinya.”

“Iya, aku tahu itu adat. Apakah adat sekejam itu? Mengapa harus dipertahankan? Aku bisa saja menjual semua tanahku untuk membayar lunas belis-mu. Tapi setelah kita menikah, kita makan apa? Mengemis pada orang tuamu? Sekali lagi aku minta maaf. Aku harus pergi meninggalkanmu. Carilah laki-laki yang bisa memenuhi seluruh permintaan dari orang tuamu.”

Dia pun langsung menutup telponnya. Padahal, masih banyak yang harus kukatakan padanya. Bahkan kalau dia tidak menutup telpon, aku katakan bahwa aku harus pergi dari genggaman orangtuaku dan pergi bersamanya. Aku rela dibenci oleh orangtua dan keluargaku hanya demi cintaku padanya. Aku sadar bahwa selama ini orangtuaku selalu mencampuri masalah kami berdua. Tapi aku terlambat. Sekarang aku rela sakit hati dengan kepergiannya.

*Tongka artinya juru bicara dalam budaya Manggarai.

Penulis; Asal Kampung Ndiwar. Sekarang tinggal di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Akun facebooknya Udo Bekor Bekor, WA 081237354054.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here