Oleh: AK

Segala ragu, pasti beralasan. Segala rahasia, butuh waktu memahaminya. Semua itu, tak membuatku menyerah. Meski kini, Ia belum kumiliki.

Aku belajar banyak bagaimana memulai, juga bagaimana melepaskan. Aku percaya, di alam raya ini, terkadang memang harus ada yang dilepas untuk kelak dipertemukan kembali. Memang harus ada yang melepas untuk kemudian menemukan lagi. Itu keyakinan hati kecilku.

Apa yang terpendam, rasanya berdosa bila tak diungkapkan. Aku hanya ingin Ia tahu, aku layak memiliki cintanya. Berlebihankah? Aku rasa tidak. Aku yakin, rasa ini bersambut. Yang terbatas, tak ada yang tahu bagaimana cara memulai dan mengungkapnya.

Jika kemudian rasaku, tetap menjadi imajinasi semata, bolehkah aku tetap mengingatnya, selamanya? Lalu mengenangnya pada lembaran hidupku.

Mengapa?
Mengapa?

Itulah pertanyaan yang selalu muncul dalam benakku, ketika tahu bahwa rasa ini terlantar begitu saja. Mungkin aku salah. Untuk mendekat apalagi mengatakannya, si pengecut malah menguasaiku.

Aku sadar, jangankan mendekat, menyapa pun butuh keberanian yang luar biasa. Aku tidak punya itu, meski ada seharus dan sebenarnya. Ketika niatku bulat untuk mengatakan, malah aku jadi gemetar. Bahkan sekadar tegur sapa, raga ini terasa kaku. Aku menginginkan kasih yang ku tahu tak sampai. Tapi izinkanlah aku menyapa dan mengiangkan namanya. Walau untuk itu, detak jantungku berpacu lebih cepat dari yang pernah kuduga.

Untuk pertama kalinya, aku berkawan takut ketika mendekati seseorang. Ia, sederhana yang istimewa dan berhasil memporak-porandakan hatiku.

Sayangnya, mendekatinya, aku tak seberani itu, sungguh. Apakah karena aku jatuh terlalu dalam pada rasa yang disebut cinta ini? Tapi mengapa? Logiskah rasaku ini?

Aku mengenalnya tak lama selepas pekan, namun seketika, cinta merasukiku. Bahkan, sungguh, jatuh terlalu dalam.

Kadang, sekadar mencari kesibukan, berharap tak berlarut. Tetapi gelora rasa tak kuasa kubendung. Aku kalah. Hanya mampu mencari alasan dan menciptakan alasan atas pertanyaan, “mengapa aku bisa jatuh cinta dengannya bahkan tanpa peduli bagaimana rasanya menyambut?” Hanya nama dan wajahnya yang melekat di ingatanku.

Sekian lama bergelut dengan logikaku, aku masih tak mampu mengurai bagaimana harus bertanggung jawab dengan rasa ini. Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi, namun masih saja terlalu kental kurasa.

Mungkin hati punya logikanya sendiri, malah sering kali tak dimengerti nalar sehat. Mungkin itulah alasan, mengapa cinta sering dimaki bodoh dan buta.

Aku berusaha memahami ungkapan itu. Berharap, aku tersadar bahwa memang tak ada jawaban logis yang bisa menjelaskan mengapa aku bisa jatuh cinta begitu tak terbantahkan padanya. Sudahlah, biarkan saja. Karena memang yang bermain sekarang adalah logika hatiku. Ya… logika hati yang hanya bisa dipahami dan dimengerti oleh hatiku sendiri. Nalar tak mampu menterjemahkannya. Terlebih lagi orang lain. Bahkan, mungkin Ia pun tak mengerti alasan mengapa aku jatuh cinta dengannya. Itu pun kalau Ia tahu. Karena memang, Ia pun mempertanyakan. Katanya, kenapa masalah hati bisa menciutkan nyaliku? Karena yang Ia tahu, aku adalah sang nekat yang tak mengenal gentar.

Sepertinya, kelopak matanya memiliki rasa cinta yang sama. Pada matanya terselip kejujuran. Kejujuran bahwa Ia juga memiliki rasa yang sama. Saat cinta menyentuh, ada kesejukan dalam hatiku, ada rasa nyaman di jiwaku. Meskipun sesekali terasa begitu sesak juga, tapi tetap saja, aku akan berucap cinta adalah keindahan. Terutama saat aku telah menempatkannya di hatiku. Mungkin terlalu dalam rasa itu disandarkan. Aku belum mengenalnya lebih jauh, hanya sebatas nama dan sekelibat pribadinya, namun mampu membuatku tertegun tak bersuara. Aku hanya mampu diam-diam memperhatikannya dari sudut bahu yang kuharap bisa menjadi pulang yang dirindukan. Tapi, aku tak pernah tahu, bagaimana Ia melihatku. Atau, apakah Ia melihatku juga?

Kadang, lamunanku terbang jauh, entah akan sejauh apa? Apakah aku bisa kembali dan menyadari itu hanya khayalan saja? Aku berharap tidak. Aku ingin bersamanya. Bisakah kita bertemu di ujung jalan ini? Mencari dan menemukan jalan lain untuk bersama.

Aku tersenyum pilu. Apakah ini khayalan yang akan membuatku sakit lagi? Lebih baik tidak. Aku benar-benar ingin akhir kisah yang manis. Semanis khayalanku. Semanis larik-larik doaku pada Tuhan untuk memberikannya padaku.

Apakah ini sudah terlambat? Situasi dan kondisi tak memungkinkan aku untuk bisa lebih dekat lagi. Sepertinya Ia memiliki persinggahan yang lain. Jika demikian, aku harus menghargai keputusannya itu. Dan kemudian, aku harus lebih cerdas menekan rasa ini, meski sulit harus kutelan juga.

Aku memaksa, semoga belum terlambat. Sebab sampai saat ini, aku belum tahu apakah Ia sudah menyelipkan jemarinya pada genggaman lelaki lain atau tidak. Apa aku siap melihatnya bersama yang lain? Entahlah, aku meragu.

Karena ketakutanku mengungkapkan rasa ini, kelak harus aku bayar dengan keberanian untuk mendapatkannya, meski Ia telah jadi milik orang lain.

Sekali lagi, karena yang Ia tahu, aku adalah sang nekat yang tak mengenal gentar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here