Dhony Jematu*

Di bawah mentari pagi, kita berteduh dan berkaca dalam beningnya fajar, tatkalah mataku dan matamu hanya mampu melihat kita. Rupa yang dipantulkan adalah rupa tentang kita. Sambil menyeruput secangkir kopi, berbincang soal bagaimana mereka hingga masa tuapun berteman bahagia.Rambut yang pada masanya dulu hitam, dan kulit yang sekarang menjadi kusam bahkan keriput karena termakan usia tidak mengurangi cinta diantara mereka.Itu ada pada papa juga mama.

“Ingin seperti mereka”

Harapan yang makin hari makin bertambah, belaian kasih mulai nampak mengairi kisah yang diladeni. Awalnya terasa seperti tamu dirumah sendiri. Iya, terkadang membingungkan antara niat untuk merawatnya dan kenyataan yang terjadi, terasa asing dan jauh dari yang diharapkan. Bagi orang yang jatuh dalam bilik ini, hal ini dijadikannyanafas. Tentu akan terus mekar dan berbunga bahkan menjadi suatu kenikmatan abadi jika mampu meramu kasih diantara jutaan sentilan yang terkadang terasa buas untuk dijinakkan.

Di perpustakaan kampus, tempat aku melirikmu. Seiring berjalannya waktu, engkau ternyata mampu kuraih bahkan menjadi kelopak pada mata mungilku. Suka dan duka kita lewati, canda dan tawapun membaluti kisah tentang kita.

Engkau yang kala itu kusapa dengan nama baru. Maaf, jika kusapa engkau dengan “Enu” tanpa sepengetahuan keluargamu.  Nama ini lahir diantara bintang-bintang yang bertengger menemani purnama saat malam tiba dan terasa sangat istimewa untuk kusapa.

Bayangkan saat engkau cemberut dengan tingkah antagonis pada novel yang tengah engkau baca di bawah pohon cemara. Dan saat aku tak sempat menyapamu kala berpapasan di pasar Inpres. Jujur, saat itu aku hanya fokus pada ibumu. Setidaknya dengan kusapa, setibanya dirumah ia sempatkan diri untuk menanyakan tentang aku. Berharap seperti itu.

Senyum dari bibir ini kujadikan penyemat jarak dengan ibumu. Tapi sayang, ibumu tak menghiraukannya, dia terlihat asyik bersendagurau dengan teman lamanya. Andai saja dia tahu, maksud dari bibir yang tiba-tiba melebar didepannya, biarkujinjing kantong hitam dari tangan kirinya.

Aku tahu engkau tak sudi melihat itu terjadi hingga berujungkan benci. Engkau hanya melampiaskan perasaan itu lewat teman sekelasmu. “Saya benci dengan Lucky. Dia terlalu cuek”. Sebut namaku saja tidak seperti biasanya. Tetapi saat kusapa engkau di pondok baca yang berada tak jauh dari ruangan Chomsky dengan panggilan “Enu”. Eh, seakan wajah cemberutmu lenyap diantara lapisan bedak Viva nomor 5. Bahkan tiga bintikan jerawat pada jidatmu hilang tak berjejak.

Suatu hari disaat senja hendak pamit dari tempat ia berpijak, engkau mengajakku untuk menghabiskan waktu di bibir pantai sembari menikmati pesona senja. Mungkin engkau telah lupa, diwajah pasir yang terbentang nan luas, sepotong dahan kujadikan pena untuk melukis namaku dan namamu dan diantaranya adalah ada hati yang merangkul kita.

Hati yang memaknai kisah tentang kita dan hati yang telah terpikat hingga kita jatuh pada jurang yang bernamakan cinta. Mungkin ini jurang dalam surga. Begitu banyak tangkai bunga yang merayu kita keluar darinya, tetapi tak terkalahkan oleh atmosfir nyaman yang kita ciptakan. Saat itu engkautampak hebat dan luar biasa, menenangkan aku begitu pula sebaliknya.Dalamnya rasa padamu, tak terukur seperti Palung Mariana. Saat itu hati ini merasa bahwa engkau memang diLOASkan (dilahirkan) untuk aku, dan rupamu juga tidak ada pada mereka-mereka itu di planet ini.

Jejak kaki yang membekas di bibir pantai, telah terhapus ombak. Lambaian ria daun lontar seakan mendukung kita untuk melangkah lebih jauh. Pasir pantai yang melekat pada telapak tangan enggan kembali pada kawan-kawannya. “Wah, di telapak tangan kita ada segenggam pasir, ko sama? Atau mungkin kita jodoh kali,ya?” tuturnya memanjakan senyum.

“Kali ini mungkin mereka iri dengan kemesraan yang kita pertontonkan” sambung aku dengan penuh percaya diri. Biasanya saat kita bahagia, tak sedikitpun memikirkan hal-hal buruk yang menghampiri. Itulah yang terjadi saat itu.

Seiring berjalannya waktu, usia pacaranpun genap setahun. Kurang lebih menggenapi tempo bumi mengelilingi matahari. Siang dan malam pun disuguhkannya, begitu pula yang terjadi pada kita. Terangnya mengantar kita untuk berpikir lebih jauh, terutama masa depan kita. Sedangkan gelapnya terkadang mematikan langkah untuk bermimpi. “Ya nikmati saja setiap kerikil yang kadang membuat kita terjatuh”.

Beberapa bulan kemudian, waktumu pun telah usai mengenyam pendidikan di kampus itu. Tentu hal ini cukup sulit untuk kita lalui. Tak seperti biasanya. Kita dinobatkan dengan tingkatan Long Distance Relationship dalam relasi yang telah lama tersulam pada bingkai cinta dan kasih.

Pada mulanya, kita sepakati bahwa saling percaya adalah pondasi bagi kita untuk tetap eksis, layaknya mereka-mereka itu. Suatu kebanggaan tersendiri saat mendengar bahwa dirimu telah bekerja di salah satu sekolah di tempat yang berada tak jauh dari kampungmu.  ““Kaka, saya sudah mendapatkan pekerjaan. Semuanya berkat kamu yang selalu ada dibelakangku selama ini. Tetaplah seperti ini dan pertahankan yang sudah terjalin. Saya yakin tentu kita bisa””Demikian ucapannya melalui telepon siang itu. Akupun bangga dengannya. Tetapi dibalik itu sebenarnya saya sudah salah melangkah jauh dari apa yang telah kita sepakati.”

Aku di sini jatuh cinta dengan gadis desa sebulan setelah engkau kembali ke kampung halaman”,  gumamku dalam diam.

 Harus bagaimana lagi. Reta gadis yang kukenal beberapa bulan yang lalu telah menaruh hatinya padaku. Siapa yang harus kutinggalkan? Meskipun Enu yang adalah kekasihku itu jauh dari mataku, tetapi tak kunjung lelah Hape ini berdering menerima telepon darinya. Lantas, dia sering mengatakan bahwa kaka tidak seperti yang dulu lagi, kaka sudah begitu berubah denganku, ada apa ini kak? Akupun tak kalah ide menanggappi itu. Sementara Reta  memberikan signal yang hampir sama untukku. Entah, jalan mana yang harus kulalui. Mereka baik dan sempurna adanya dimataku. Sudahlah, biarkan rasa dan waktu yang menghakimi aku. Apapun yang terjadi, sudah sepatutnya aku terkurung di dalamnya.

Seperti biasanya, suasana malam dikota besar tidaklah sama dengan suasana yang terjadi dikampung halamanku. Sebagian orang sibuk dengan pekerjaannya, namun tak sediktpun juga orang menghabiskan malam  untuk bersantai dengan teman-teman bahkan kekasihnya.

Saat itu Reta menelponku untuk menemaninya ke tempat makan yang berada di pusat kota. Ini tawaran yang menarik, karena bisa lebih lama bercakap-cakap sambil mencicipi sajian topik yang menjadi hidangan dimalam itu. Beberapa foto diambilnya sementara makan. Dan yang tak kalah menariknya bisa selfie dengannya bahkan sesendok nasi kusuapi Reta di tempat makan itu. Semuanya terjamu romantis. Pikiran tentang si Enupun hilang bersama gelapnya malam itu.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba hapeku berdering.  Kebetulan sebelum datang ke tempat itu, saya save nomornya Enu dengan nama Mama kos. Setelah beberapa kali nomor yang ku simpan mama kos itu menelpon, Reta yang merasa risih karena dianggap mengganggu suasana malam itu memintanya untuk menelpon balik.

“Kaka Lucky, sini hapenya. Biar aku yang telepon. Mungkin ada hal penting yang ingin disampaikannya. Tenang saja, nanti saya beritahu kalo hape ini ketinggalan d kos saat mengerjakan tugas tadi, anggap saja saya temannya kaka.

Dalam hatiku berpikir bahwa waktu sedang memihak padaku. Tapi, apa Reta yakin suara mama kos semerdu gadis seusianya. Fatal! Bisa saja ini mendatangkan malapetaka. Ah, tidak mungkin, mama kos juga memiliki anak gadis seusianya. Tapi Reta tahu jika dia berada diluar kota yang tidak terjangkau oleh signal. Eh, makin parah. Kenapa tadi saya memberitahukannya soal itu.

Hapepun diambil Reta,  lalu menghubungi mama kos, dengan maksud ia memberitahukan jika hapeku ketinggalan dikos miliknya. Saat telepon terhubung, dugaan saya benar. Reta dikejutkan dengan suara merdu dibalik nama kontak yang kusimpan mama kos itu.

Selamat malam kaka sayang, maaf tadi saya telepon. Saya benar-benar kangen dengan kaka. Apakah kaka baik-baik saja? Ketahuilah kak, saya tengah menikmati paras purnama, berharap ada kaka dibalik perkasanya yang selalui setia menyinari malam.

Suasanapun menjadi hening.

Kak…kaka Lucky! Kaka kenapa diam? Hallo…

Maaf kaka, ini sama siapa? Kamu Ratih, ya? Anak mama kos, soalnya di sini nama kontaknya disimpan mama kos. Lalu, kenapa omong pake sayang-sayang lagi. Kaka sebenarnya siapa? Sambung Reta sambil menatap kearah aku. Ini gawat..Bisa saja saya kehilangan dua orang ini.

“Saya pacarnya kaka Lucky. Lalu kamu siapa?” tanya Enu. Suasana saat itu semakin parah, lebih panas dari bara api. Lantas, Reta berbicara dengan nada cukup kasar. “saya juga pacarnya kaka Lucky”, katanya mengakhiri telepon. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, semuanya jelas. Dasar pengkhianat! Penipu! Kenapa dengan mudah saya percaya denganmu kak! Saya benar-benar kecewa. Saya pulang!

Aku yang tak kunjung kata terucap, diam tidak bersuara. Yang pasti aku jauh lebih menyesal atas ulah bodohku sendiri. Semuanya telah hilang. Saya salah memanfaatkan kesempatan ini.

***

Hari demi hari kulalui sendiri. Penyesalan atas kehilangan mereka selalui menghantui sepiku. Teman-teman merekapun turut membenciku. Pada hal dulu, dimata teman-teman mereka. Aku dijadikan model dalam kisah asmara. Tapi yang terjadi sekarang, mereka seakan tak mengenal aku. Bahkan nama dan semua tentangku dijadikan bahan perbincangan mereka.

Dibalik itu, aku benar-benar rindu dengan kisah yang telah kami lalui, baik itu dengan Enu maupun juga dengan Reta. Sebenarnya saya tidak meminta dan berharap lebih dari kalian, karena saya sadar telah melukai perasaan kalian bahkan mungkin jauh dari apa yang saya bayangkan.

Tapi Cuma satu pintaku, ijinkan aku untuk menyapa pagimu dengan kata sayang lagi. Enu begitu juga Reta, Izinkankanlah diri ini untuk menyapa kalian. Meskipun aku tahu bahwa tabu bagi kalian untuk kembali seutuhnya pada kata sayang itu. Tetapi dengan tulus aku mohon, Izinkan’kan aku memanggilmu sayang lagi.

Penulis adalah staf pengajarr SMP St. Stanislaus Borong

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here