Oleh: Hilarius Darson

Gejala frustasi akut mulai timbul pada diri Markus. “Markus”, demikian sapaan bagi pria yang kini usia pernikahannya kurang lebih 10 tahun. Sampai sekarang belum punya anak. Ia mengalami kekecewaan yang mengungkung hidupnya. Punya istri cantik, punya banyak sawah, dan punya banyak hewan peliharaan namun tidak membahagiakan. Markus terkadang mengeluh sendiri dan putus asa.

Isterinya suka bertandang ke rumah tetangga. Ia sering pergi ke mana saja yang ia suka tanpa suami tahu. Setiap kali sang isteri pergi, bibirnya tidak pernah pucat pasi. Lipstik merah kesukaannya membaluti bibir tebalnya. Wajahnya pun terpoles dengan bedak tebal. Penampilan sang isteri tidak kalah dengan seorng gadis. Namun kecantikan sang isteri tetap tidak membahagiakan hati Markus.

Suatu sore sehabis pulang dari kebun Markus duduk di ruang makan. Ia termangu seraya menopang dagu yang dihiasi jenggot tipis. Letih lesu sehabis bekerja keras terpampang di wajahnya. Rindu di dalam hati menggumpal untuk dihidangkan segelas kopi panas dari sang istri. Keinginan itu muncul secara tiba-tiba saja. Ia tidak biasa disuguh segelas kopi dari sang istri. Sekian lama hidup berkeluarga, namun untuk saat-saat seperti itu jarang sang isteri menawarkan Markus untuk dibuatkan kopi. Ia sangat merindukan kopi buatan sang isteri pada situasi seperti itu.

Istrinya sejak dari tadi tidak ada di dapur. Di kamar juga pun tidak ada. Entah ke mana. Memang biasanya, sang istri tidak punya banyak waktu untuk urusan di dapur. Tetapi untuk berada di hadapan cermin dan di hadapan layar handepone selalu punya waktu bahkan bisa melupakan pekerjaan lain. Bagaimana pun alasan dan kondisi, sang isteri pasti punya banyak waktu untuk bersolek dan menikmati senyum sendiri di hadapan layar handphone. Kebiasaan itu sudah menjadi menu wajibanya.

Terkadang sang isteri lupa masak sayur. Bahkan bukan lupa lagi, melainkan malas, karena sudah keseringan. Jika menanak nasi tidak pakai ricecooker, saya yakin juga pasti lupa. Maaf malas maksudnya. Suami yang capai bekerja di kebun tidak bisa buat apa-apa, selain terima kenyataan itu. Ia hanya bisa mengeluh dan kecewa dengan sikap sang istri. Markus merasa bosan, setiap hari berhadapan dengan situasi seperti itu. Menghadapi seorang isteri cantik, namun pemalas dan susah dibilang. Makan tanpa sayur sudah menjadi lagu lama bagi Markus.

Suatu hari, Markus pulang potong rumput makanan ternak dari kebun yang lumayan jauh dari rumah. Ia merasa perutnya merengek minta diisi. Apesnya sampai di rumah, sang istri tidak ada. Entah ke mana. Biasanya, siang-siang begini, istrinya bertandang ke rumah tetangga. Entah tujuan apa. Tidak tahu. Di atas meja hanya dihidangkan nasi putih saja.

“Dasar istri sialan. Setiap hari hanya dihidangkan nasi putih seperti ini. Kerjanya hanya bersolek lalu lenyap dari rumah”. Markus manggut-manggut sambil jalan ke arah dapur mengambil menu vaforitnya. Garam dan lombok menjadi teman bahkan sahabat nasi putih hidangan isteri pemalas. Itu kenyataan yang dihadapi Markus akibat ulah sang istri.

Begitulah yang terjadi setiap hari. Sang istri meninggalkan nasi putih di atas meja makan untuk sang suami yang lelah bekerja di kebun dan memberi makan ternak. Sang istri bisanya hanya pergi dari rumah. Entah ke mana. Pekerjaan dapur yang menumpuk masih saja belum beres. Piring, gelas, sendok, dan perkakas dapur lainnya masih belum cuci sejak beberapa hari lalu. Pakaian Markus pun masih menumpuk di kamar mandi. Biasanya, sang istri mencuci seminggu sekali.

Sudah beberapa jam istrinya belum pulang. Markus teringat lagi kejadian beberapa bulan lalu. Seorang tetangga yang datang menagih hutang yang dipinjam sang istri. Waktu itu, istrinya berpikir sang suami masih di kebun atau sedang mengurus ternak di kandang. Sehingga keleluasan untuk berbicara tentang utang itu bersama si penagihnya terasa terbatas ruang dan waktunya. Istrinya berbicara dengan ibu Siti, tetangga yang punya utang itu. Di dalam ruangan tamu berukuran 4×4 yang letaknya tepat di samping kamar tidur mereka. Sang isteri menjelaskan bahwa uang pinjamannya itu dipergunakan untuk membeli perhiasannya. Kalung emas, anting, dan perlengkapan kosmetik. Semuanya dibeli dengan uang pinjaman itu tanpa sepengetahuan sang suami.

“Maaf, Bu, utangnya akan saya lunasi besok. Kebetulan dua hari lalu ada yang berjanji, besok akan datang membeli sapi suami saya. Saya berjanji, bu, besok akan saya lunasi utangnya.”

Dari balik selimut bulu domba, Markus terpejam menahan amarah. Namun semuanya terbawa dalam diam yang membisu. Dari balik selimut tebal itu Markus sendengkan telinganya untuk menguping pembicaraan istri dengan ibu Siti. Sedangkan sang istri tidak mencurigai sedikit pun, bahwa Markus sedang berada di dalam kamar.

“Ibu, tolong rahasiakan ini semua. Jangan sampai suami saya tahu, ya Bu.”
“Iya, Bu. Tapi, kalau besok masih belum dilunasi utangnya, terpaksa aku memberitahukan semuanya kepada suami ibu” pesan di akhir pertemuan singkat yang bersifat rahasia siang itu. Markus berpura-pura tidur nyenyak dibalut selimut tebal. Saat sang istri masuk ke dalam kamar, ia terkejut melihat sang suami berbaring tidur pulas. “Ya Tuhan, ternyata dia ada di sini” maklum pembohong juga berbisik kepada Tuhan. hatinya takut detak jantung pun tak menentu.

Ia mencoba memanggilnya dengan suara yang lembut dan halus untuk memastikan apakah Markus benar-benar tidur atau tidak.

“Markus? Markus? Markus?” Suaminya tidak menjawab seolah-olah tertidur pulas, seperti orang yang sejak kemarin belum tidur.

“Untung dia sedang tidur pulas, kalau tidak, mati deh aku” bisiknya dalam hati dengan perasaan lega. Markus menahan amarah dalam kepura-puraan. Meskipun hatinya terluka akibat ulah sang istri. Markus tetap sabar menjalani sikap busuk sang istri.

Saat sapinya terjual, isterinya mengambil Rp. 1 juta hasil penjualan sapi. Di hadapan Markus, sang isteri membohonginya bahwa uang itu ia gunakan untuk mengirimi ibunya yang sedang sakit parah di kampungnya. Markus pun memberikan uang Rp.1 juta kepadanya. Dalam hati kecilnya, Markus berharap mudah-mudahan ini adalah kesempatan terakhir istri untuk berbohong kepadanya.

Tidak menunggu lama, isterinya meninggalkan rumah. Katanya, ia hendak pergi ke jalan raya untuk mengirim uang itu lewat mobil taksi ke kota. Kebetulan kampung ibunya tepat di pinggir jalan arah ke kota. Ternyata ia berbelok ke rumah ibu Siti, pemilik utang yang ia janjikan pembayarannya hari itu.

Tetangga mendatangi rumah Markus bukan hanya terjadi dan berhenti hari itu saja. Hari berikutnya. Bahkan setiap hari, rumah Markus ditandang tetangga dan warga sekitar untuk menagih utang kepada sang isteri.

Entah sang isteri meminjam uang untuk apa. Entahlah.

Sapi tujuh ekor sisanya tinggal satu ekor. Kerbau empat ekor lenyap terjual habis. Tanah sebidang pun terjual, untuk membayar utang sang isteri.

Sang isteri banyak mengambil uang bunga dan uang koperasi harian. Dengan bunga 50 persen markus kesulitan membayarnya. Markus mulai stres dan fruatasi akut. Rumahnya setiap saat didatangi tamu penagih utang. Keributan dalam rumah tangga hampir terjadi setiap hari.

Penipuan sang isteri pun terbongkar semuanya. Markus yang biasa dikenal sebagai seorang penyabar dan tidak banyak omong, kini berubah 130 derajat, tidak ada alasan lain selain karena ulah sang Isteri. Markus ternyata memiliki batas kesabaran menghadapi tingkah abnormal sang isteri. Hampir setiap hari sterinya dipukul hingga mukanya lebam.

Namun itu tidak memberi efek jera kepada sang isteri agar tidak mengulangi kesalahannya. Kebiasaan isterinya meninggalkan rumah masih sering terjadi akhir-akhir ini. Kebiasaan Markus makan tanpa sayur pun masih terjadi hampir setiap hari.

Markus mengalami stres yang sangat berbahaya. Semuanya berawal saat Markus melihat SMS dan foto isterinya berdua dengan selingkuhannya. Sekarang kisah perselingkuhan isterinya terbongkar habis. Markus baru percaya bahwa bisikan tetangga tentang isterinya selama ini ternyata benar.

Suatu sore, tangisan keras dari rumah Markus terdengar. Semua warga kampung mengerumuni rumahnya sambil menangis keras. Isteri Markus meninggal tertikam pisau. Markus yang selama ini menunjukkan gejala stress karena ulah sang isteri, kini dilampiaskan dengan cara membunuh istrinya. Kini sang isteri mati tragis di tangan suaminya sendiri.

Kepala Desa yang sedari tadi berada di tempat kejadian itu, minggat untuk menelepon. Entah menelepon siapa. Tidak menunggu lama setelah telepon itu. Samar-samar mobil polisi terdengar. Tidak lama kemudian, pihak kepolisian tiba di rumah Markus. Markus segera dibawa ke kantor polisi. Satu ekor sapi yang masih belum terjual, dibawa pemilik utang yang belum sempat dilunasi sang isteri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here