Aku dilahirkan dari rahim seorang Ibu, wanita yang sangat mencintaiku. Bagiku, Ibu adalah wanita terhebatku, sehebat caranya membesarkan aku seorang diri. Seluruh kasih sayangnya dicurahkan kepadaku. Aku tidak pernah merasakan kekurangan, sebab Ia selalu memberikan apa yang aku minta. Ia menyiapkan semua yang aku butuhkan.

Tentang Ayahku, Ia adalah seorang lelaki yang meninggalkan aku dan Ibu tanpa sebab. Ia pergi untuk selamanya ketika usia pernikahannya dengan Ibu baru memasuki tiga tahun. Sementara saat itu, aku memasuki bulan ke enem di dalam rahim Ibu. Aku tidak tahu persis alasan Ayah pergi begitu cepat. Tetapi menurut cerita, ia pergi karena penyakit yang dideritanya.

Masa kecilku sering kali menorehkan luka. Ibu selalu meninggalkan aku seorang diri. Aku tak tahu ke mana Ia pergi dan apa yang dilakukannya di sana. Aku selalu ditinggalkan dalam kesendirian dengan makanan yang secukupnya. Seingatku, saat pulang senja hari, Ibu selalu membawa sebungkus roti dengan sebotol minuman. Namun harus kuakui, kesibukan Ibu membuat hari-hariku berlalu dalam kesendirian.

Di tengah kesendirian, sering kali aku merasa takut dan membutuhkan kehadiran Ibu. Ketika hujan turun dengan percikan kilat yang menggelegar, seringkali aku menangis dan mengunci diri di dalam lemari pakaian. Aku selalu berteriak dan memanggil Ibu, dengan harapan bahwa seketika itu juga Ia ada di sisiku. Namun harapanku sia-sia saja.

Setiap hari, Ibu pergi dengan sebuah mobil mewah. Mungkin Ibu bekerja di sebuah perusahaan dan menempati posisi yang penting, sering aku berpikir demikian. Aku senang dengan pekerjaan Ibu, apalagi setiap permintaanku selalu dipenuhinya.

Beberpa kali, Ibu membawaku ke sebuah salon yang ada di sudut kota. Di sana, Ibu mencuci rambutnya dengan beberapa botol shampo yang tentunya asing bagiku. Wajahnya dibaluri cream putih. Setelah dibilas, wajah Ibu terlihat lebih segar dan cantik.

Sehabis dari salon, Ibu selalu membawaku ke sebuah restoran untuk menikmati makanan dan minuman yang lezat. Di sana, kami bertemu dengan beberapa orang sahabat Ibu. Mereka bercerita dengan asyik. Namun mereka menggunakan pakaian yang tidak pantas untuk digunakan di depan umum. Di dalam hati, aku selalu membenci bahkan mengutuk mereka.

Suatu hari saat langit makin meremang, aku pergi ke sebual restoran bersama teman-teman. Kami ingin mendapatkan beberapa barang yang kami butuhkan untuk kegiatan belajar di kelas. Tanpa kuduga, aku melihat Ibu duduk dengan seorang pria yang usianya hampir sama dengan usia Ibu. Mereka seakan tenggelam dalam pembicaraan, sehingga mereka tak sadar bahwa beberapa orang serius memerhatikan mereka.

Beberapa bulan setelah itu, aku kembali melihat Ibu berjalan denga seorang pria lainnya. Saat itu, aku baru pulang dari rumah temanku untuk mengerjakan tugas sekolah. Aku melihat mereka begitu dekat, masuk ke sebuah lorong yang sangat asing bagiku. Aku sempat mengikuti mereka, tetapi aku kehilangan mereka saat aku tiba pada ujung lorong itu. Aku kembali dengan seribu tanya yang muncul dalam benakku.

Tanpa kusadari, malam telah menjadi larut. Dari balik pintu rumah kulihat sosok Ibu dengan beberapa bingkisan di tangannya. Namu kali ini, apa yang terjadi dengan Ibu berbeda dengan yang terjadi sebelumnya. Ibu pulang dalam keadaan mata yang bengkak. Gaun merah yang dikenakannya sebagiannya tersobek. Rambutnya pun tidak teratur seperti halnya saat kemarin ketika Ia pulang kerja.

Kenyataan yang semakin aneh yang kulihat dalam diri Ibu, membuatku bertanya-tanya. Aku mulai menelusuri gang-gang yang sering Ibu lewati. Misiku adalah mengungkap apa yang terjadi dengan Ibu. Sebenarnya, aku sendiri merasa takut untuk memulai misi itu. Tapi Ibu tidak pernah menjawab pertanyaanku tentang alasan yang membuatnya menangis.

Hari terus kulewati. Bulan berganti, dan tahun pun berlalu. Akhirnya aku menemukan jawaban dari pencarianku. Ibu sebenarnya adalah seorang perempuan yang menjual dirinya demi mendapatkan rupiah. Ibu adalah wanita malam yang selalu bermesraan dengan lelaki hidung belang, dengan pria yang ingin menikmati sex hanya untuk memenuhi kepuasannya semata.

Setelah mengetahui kenyataan itu, aku mulai membenci Ibu. Aku mengutuk Ibu sebagai perempuan yang tidak berperasaan. Apakah tidak ada pekerjaan yang lebih pantas baginya selain menjadi wanita malam? Atau mungkinkah aku adalah seorang anak yang didapatkannya dari pekerjaan kotor itu? Perlahan aku mulai menjauhinya.

Ibu menyadari perubahan dalam diriku, dan Ia pun bertanya kepadaku alasan aku melakukan semuanya. Aku tidak memberitahu alasannya, sebab untuk menyebutnya saja aku tidak mampu. Bahkan aku mengutuk diriku dan menyesali kehadiranku di dunia ini dari rahim seorang wanita malam.

Malam-malam berikutnya aku sering keluar rumah. Aku ingin mencari udara segar demi menenangkan pikiranku. Aku tidak lagi berkumpul bersama teman-temanku, apalagi belajar bersama. Beberapa kali aku bolos saat mengikuti perkuliahan. Semenjak kebenaran itu kutemukan, aku selalu menjauhi rumah. Aku tidak lagi bercanda ria dengannya, berbicara seadanya saja.

Hingga suatu malam, seorang temanku mengajak aku pergi ke sebuah tempat yang sering didatanginya. Awalnya aku tidak mau. Bahkan aku mencapnya sebagai perempuan yang tidak baik ketika Ia mengatakan bahwa tempat itu adalah rumah malam pria hidung belang. Namun karena Ia terus memaksaku, maka aku mengitkuti keinginanya.

Di sana, kami bercanda ria. Aku dikenalkan ke beberapa pria. Mereka ramah dan baik hati. Mereka mengajakku minum beberapa jenis minuman bersoda, tetapi lagi-lagi aku menolaknya. Namun mereka terus memaksa. Akhirnya, aku turuti kemauan mereka. Aku menghabiskan beberapa botol minuman hingga aku tak sadarkan diri.

Sebulan setelah itu, aku merasa sesuatu yang lain. Terkadang aku merasa mual dan terlambat datang bulan. Aku pergi ke dokter untuk diperiksa. Berdasarkan hasil pemeriksaannya, aku dinyatakan positif hamil. Kenyataan ini tentunya membuat aku merasa terpukul. Aku sangat merasa bersalah dan merasa malu dengan diriku sendiri, dan juga kepada Ibu, meskipun aku belum memberitahukan kejadian itu kepada Ibu.

Kini, aku menjadi sorang yang seperti Ibu, bahkan mungkin lebih rendah dari apa yang dilakukannya.

Hari berganti, minggu berlalu, bulanpun terus berjalan. Takdir menorehkan luka baru dalam batinku. Ibu, wanita yang menghadirkanku di dunia ini, kini pergi meninggalkan aku selamanya. Kepergiannya membawa luka yang cukup dalam, sebab aku belum sempat menceritakan keadaanku kepadanya. Aku belum menceritakan tentang anak yang ada di dalam rahimku. Aku belum menceritakan keadaanku yang kini menjadi seorang wanita malam.

Semua kejadian yang menimpaku membuat aku merasa bosan dengan kehidupanku di dunia ini. Semua keluarga mencampakkan aku, karena profesiku sebagai penghibur malam bagi pria hidung belang. Tapi itulah caraku satu-satunya menyambung hidup, sebab aku telah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Ibu kepadaku sebelum Ia meninggal.

Aku ingin mencari pekerjaan yang baik, tetapi semua orang selalu menjauhiku. Memang kenyataannya bahwa aku adalah salah satu wanita kupu-kupu malam yang sangat tenar di wilayahku. Semuanya itu karena paras dan bentuk tubuhku yang sangat ideal bagi laki-laki malam yang kesepian.

Hingga akhirnya, waktu persalinanku tiba. Aku melahirkan seorang bayi laki-laki. Namun sayang, bayi itu hanya bertahan sehari saja di sampingku, sebelum akhirnya kembali kepada Sang Kuasa. Lagi-lagi, hatiku tersobek menerima kenyataan ini.

“Sabar ya, Mbak. Mungkin ini ujian dari Tuhan,” kata seorang Dokter kepadaku.

Akh, benar. Mungkin ini adalah ujian dari Tuhan untukku. Atau bahkan mungkin ini adalah ganjaran atas kesalahan yang telah aku lakukan selama ini. Mungkin tidak seharusnya aku berjalan di jalan yang salah ini, gumanku dalam hati.

Stefan Bandar, Mahasiswa STFK Ledalero

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here