Oleh: Eduardus R. Dolo

Hari ini tiba-tiba saja hujan. Ini adalah hujan pertama, setelah sekian lama aku merantau di sini.  Aku sudah lama merindukannya sebab tanah yang kupijaki ini telah menjadi lahan yang kering. Hujan selalu berarti bagiku, bukan hanya karena hujan menyimpan berkah untuk tanah tetapi juga karena hujan sering kali menjadi tempat aku mengadu kisah. Hujan bisa saja menjadi memori yang tak akan lekang dimakan waktu. Hujan menyimpan banyak kenangan, dan kenangan itu tiba-tiba hadir lagi hari ini, meruap bersama dengan bau tanah dan mengisi paru-paruku dan membuat aku tersesak karenanya. Kenangan itu berlahan menyusuri hati dan pikiranku dan membawa aku kembali ke dalam pangkuannya.

Aku ingat dengan pasti, waktu itu aku sedang liburan. Entah bagaimana awalnya, tapi yang pasti aku berjumpa dengan seorang gadis bernama Cika. Dia gadis yang cantik, berambut panjang khas dengan gigi yang berbaris rapi dipagari dengan senyul simpul yang menawan. Dia hadir saat aku sedang enak-enaknya menikmati liburan semester tahun lalu. Saat itu, dia sedang menikmati masa-masanya menjadi gadis remaja, sedang aku masih duduk di bangku kuliah semester dua. Kami sering berjumpa dan kemudian bersepakat untuk mulai menjalin kasih.

Aku ingat seperti hari ini, hujan saat itu turun dengan pelannya, menyatu dengan kami yang sedang berduaan di bawah halte di tengah kota menunggu hujan reda.

“Kak, aku dingin maukah engkau memelukku.” Aku menatap matanya yang bulat dan hitam itu, kutemui wajahku tenggelam dalam matanya. “Tentu saja enu*, tapi maaf ya, gara-gara aku, kita terjebak hujan begini. Seharusnya kita langsung pulang saja tadi. Tidak usah lagi berkeliling kota.” Batinku merenung saat dirinya kurangkul (bisakah tubuh ini terus kuhangatkan nanti jika badai datang silih berganti).

“Tidak apa-apa kak, lagian ini hari terakhir kita jalan bareng kan? Besok kakak sudah berangkat lagi, pulang ke tempat kakak harus merajut mimpi. Setelah ini kita hanya menjadi dua orang yang saling menunggu lagi dalam waktu, melewati hari hanya dengan rindu tanpa bersua wajah. Sebenarnya kalau jujur, aku tidak ingin kakak pergi besok setidaknya tinggal lagi dalam dua atau tiga hari ke depan. Aku ingin lebih lama bersama dengan kakak, bercanda dan menghabiskan hari denganmu.”

“Iya enu aku tahu itu, aku juga ingin terus bersamamu, bila perlu selalu hadir di sampingmu. Sama seperti mendung yang hadir bersama turunnya hujan ini. Aku ingin berada di sampingmu menemani hari-harimu. Mendengar ceritamu bukan hanya lewat telepon. Aku ingin tinggal, tapi mau bagaimana lagi. Aku harus tetap pulangkan? Kita tak mungkin terus bersama di sini untuk mengahabiskan waktu bersama. Kita masih terlalu kecil untuk memutuskannya. Aku menyayangimu tetapi ada hal-hal yang harus kita kejar sebelum benar-benar bersama bukan?” Ucapku untuk menenangkan gemuruh hatinya. Hujan masih saja mengguyur, malah bertambah lebat. Aku merasakan tubuhnya semakin dingin. Tanpa kusadari, entah sejak kapan, air matanya mengalir bersama dengan hujan yang terlebih dahulu memeluknya.

“Kak, kalau nanti kakak sudah sampai di sana, jangan lupa memberi kabar. Aku tidak ingin melewati hari tanpa tahu kabar darimu. Aku tahu kakak sibuk kalau sudah sampai di sana, tapi permintaanku hanya satu, cukup beri kabar kalau kakak baik-baik saja di sana. Aku tidak ingin kakak hilang. Setidaknya cukup beri kabar untuk memuaskan rinduku. Aku tidak ingin menjadi kering seperti tanah yang merindukan hujan.”

Aku, masih dengan memeluknya, “iya enu, jangan kwatir tentang hal itu. Aku tidak mungkin melupakan enu. Aku tidak akan menghilang dan tenggelam dalam tugas-tugas kuliahku. Besar harapanku enu juga akan tetap menunggu di sini. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Terima kasih sudah mau menemani hari-hariku. Aku tidak akan sabar menunggu waktu liburan berikutnya. Aku ingin bersua dengan enu dan menghabiskan waktu lagi dalam dekap matamu.”

Hujan masih masih saja mengguyur bahkan bertambah lebat, tapi itu hujan yang lain. Bukan lagi hujan di bawah halte itu, tempat kami mengadu janji untuk berjumpa lagi saat liburan tiba. Hujan itu mengguyur deras di depan mataku saat ini. Menemani hatiku yang tiba-tiba sakit ketika mengingat hari itu. Hari yang ternyata hanya menjadi kenangan bagiku. Setelah kembali ke sini dan bertemu dengan tugas-tugas kuliah, awalnya masih sering kami berbagi cerita. Menyapa dan menghibur satu sama lain, hingga suatu hari tiba-tiba semuanya menjadi datar. Tak ada lagi getaran naik turun saat kami berbicara. Hanya ada aku dan tak ada dia. Tak lagi kutemui pesan-pesan dari Cika. Dia menghilang, entah ke mana. Berulangkali kucoba untuk mengubunginya, tapi tak satupun kata yang terucap. Semuanya sepi. Satu hari pertama kulewati tanpa kabar darinya, kemudian berlanjut dengan hari kedua, ketiga dan seterusnya hingga liburan kembali menjemput pulang.

Besar harapanku liburan semester akan menjawabi semua rindu dan pertanyaan ke mana perginya Cika. Kususuri tiap jejak yang pernah ia ceritakan dulu, tempat di mana ia biasa bersantai untuk menghabiskan waktunya tapi sama saja tak kutemui wajahnya di sana. Tak lagi kutemui senyumannya. Hanya ada kebuntuan di sana. Sampai suatu saat tanpa sengaja kami bertemu di sebuah kantin. Aku melihatnya tertawa lepas bersama seorang lelaki, yang kemudian kuketahui itu adalah kekasihnya.

“Woi… bangun… ngapain melamun saat hujan begini. Lebih baik ngopi dulu. Itu bisa menghangatkan tubuhmu yang mulai basah itu.” Bentak Roni. Teman sekosku. “Iya-iya mana kopinya?.” “Itu ada di depanmu, dia sudah merengek, katanya dia mulai dingin karena kau mengacuhkannya sedari tadi.” “Ah kau ini ada-ada saja Ron, masa kopi bisa bicara, hehehe… tapi terima kasih bro.” Kopi itu pun mulai mengalir menghangatkan tubuhku yang dingin oleh hujan dan kenangan, dan sesaat dalam hati kuucapkan terima kasih Cika untuk rasa yang pernah aku kecup bersamamu.

*enu artinya panggilan kesayangan untuk wanita Manggarai

Asal Tenda, Ruteng. Kabupaten Manggarai, NTT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here