Oleh: Latrino Lele

Menaruh cinta yang dalam tetapi memilih untuk diam, ternyata lebih menyenangkan dan patut diberi apresiasi dari pada sok peramah hanya karena ada maunya. Dalam diam, secara perlahan akan membuahkan ketulusan, sebaliknya yang pandai berkoar-koar. Maka bukan tidak mungkin lagi berlaku pepatah tua “ada udang dibalik batu”.

Inikah yang namanya lelaki pecundang, bukan? Rela mengorbankan segala tugas dan pekerjaan hanya untuk bisa memperoleh simpatisan. Kalau bukan si perempuan yang ingin diluluhkan hatinya. Senjata yang paling sering direkomendasi biasanya janji-janji manis penuh nuansa romantika. Iya, memang aku akui cara ini terbukti keampuhannya. Bukan tidak mungkin cara ini menjadi salah satu trik favorit yang laku di pasaran saat ini. Apa lagi subjek yang menjadi sasaran adalah seorang yang didambakan atau dicintai. Pasti dilakukan dengan jiwa yang berkobar-kobar. Penuh ambisi dan semangat. Sehingga yang dipikirkan oleh si perempuan yang menjadi subjek incaran itu, “wah… Ia sangat tulus, sungguh besar perjuangan cintanya untuk mendapatkan cintaku. Aku pun tersanjung oleh kegigihannya. Aku pun terpukau pada janji-janji manisnya yang hampir membuatku diabetes karena memang saking manisnya”. Tanpa mengetahui lebih jauh jejak lelaki yang menjadi pilihannya itu. Apakah Dia tulus atau hanya ingin bermain-main. Hasilnya si perempuan yang lugu itu memutuskan, “Aku yakin ini merupakan keputusan yang tepat bahwa aku akan menaruh sepenuhnya hatiku padanya. Aku akan menerima cintanya yang terlampau besar bagiku”.

“Ka… aku terima cintamu kakak! Aku yakin kakak adalah jodohku”. Sontak ini merupakan kabar paling gembira bagi seorang lelaki yang sedang berjuang dalam drama penuh ilusi dan kepalsuan ini.

Lalu si lelaki bergumam dalam hatinya, “Nona maaf ya… sekarang engkau telah masuk perangkapku”. Betapa pelik, bukan? Cinta seperti ini akhirnya berujung pada patah hati, stres yang over dosis pengantar jadi gila atau bahkan lebih menyakitkan lagi bunuh diri. Ah… dasar lelaki pecundang tidak bertanggung jawab. Teganya Ia mempermainkan perempuan yang seharusnya dihormati dan dihargai layaknya ratu. Malah yang terjadi disobek-sobek layaknya boneka, tukasku marah-marah setelah menyelesaikan catatan harianku.

Sebenarnya, aku menulis catatan harian ini terinspirasi dari berita yang sempat aku baca di surat kabar sebelum beranjak tidur menerawang mimpi indah. Seorang remaja siswi SMA yang bunuh diri karena tidak dapat menerima kenyataan, bahwa dirinya hamil akibat ulah lelaki hidung belang yang tidak bertanggung jawab. Ia terbuai rayuan lelaki yang pandai berkoar-koar manis itu.


Malam begitu cepat berlalu membawaku terlarut dalam lelap bersama kesedihanku pada gadis remaja itu. Aku pun terjaga dari tidur pulasku bersama mimpi-mimpi yang masih bergantungan entah sampai kapan puncaknya. Aku sudah terusik oleh alarm yang memaksaku harus lekas bangun. Dalam khusyuk aku merapalkan doa kepada Tuhan, semoga aku tidak menjadi lelaki pecundang. Atau lelaki yang tidak bertanggung jawab. Amin…

Pagi ini begitu cerah, burung-burung berkicauan tiada hentinya melantunkan melodi-melodi indah. Ayam jago berkokok tidak kalah ramainya. Menyambut sang fajar yang dengan gagah perkasa bagai tentara keluar dari peraduannya.

Sungguh hari yang indah. Asupan sinar mentari pagi cukup memberi kehangatan pada sekujur tubuhku yang tengah digerogoti hawa dingin yang meliuk tajam menusuk sampai sumsum tulangku. Kala aku membuka jendela kamarku. Hawa dingin yang luar biasa pagi ini mungkin petanda hendak memasuki musim kemarau. Itulah yang aku ketahui dari cerita masyarakat di kampungku bahwa musim kemarau telah tiba. Biasanya ditandai hawa dingin mencengkam dan kondisi langit biru nan bersih tanpa setitik pun gumpalan awan hitam.

Aku sendiri tidak tahu kebenaran ilmiahnya sehingga masyarakat mengklaim seperti itu. Mungkin benar juga karena sudah terjadi seminggu terakhir ini.

Seperti biasa, pagi ini aku mempersiapkan diri dan berangkat ke sekolah yang lumayan jauh dari tempat tinggalku. Tidak seperti biasanya, pagi ini aku sedikit terlambat yang membuatku terburu-buru menapaki setapak yang panjang.

Aku berangkat ke sekolah dilumuri semangat yang meletup-letup di anganku selain menuntut ilmu juga ingin secepatnya melihat kekasih yang aku cintai dalam diam itu tersenyum barang secuil pun aku telah bahagia dibuatnya. Lara sapaannya, gadis yang membuatku mengetahui namanya jatuh cinta. Aku sudah lama mengenalnya bahkan mengaguminya semenjak hari pertama kami masuk sekolah dulu. Iya, dua tahun yang lalu kira-kira. Sampai sekarang aku sudah kelas tiga SMA, aku masih tetap mengaguminya bahkan aku telah jatuh cinta padanya. Kehadirannya di sekolah membuatku semakin bergairah untuk sekolah. Karena Lara, lima jam pelajaran terasa berlalu begitu cepat. Jatuh cinta kepada Lara sungguh membuat waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Bila aku mampu memutar waktu akan kuputar berkali-kali. Aku biarkan lebih lama di sekolah atau bisa selamanya di sekolah asalkan dengannya. Aku telah candu dibuatnya jika sehari tak melihat wajah ayunya, senyuman yang bertebaran dari bibir tipis nan mungil itu mungkin aku demam atau malarindu hehe… maksudku malaria.

Mengenal Lara membuat pikiranku meramu bersama seluruh keutuhannya. Dalam setiap lelapku seakan gadis itu telah didesain menjadi channel khusus untuk mimpi-mimpiku. Memang terdengar aneh, tetapi itu yang terjadi denganku selama ini. Namun aku hanya dapat menjadikan Lara kekasihku dalam diam. Berharap Ia juga sebaliknya merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Ada-ada saja, itu mustahil, bukan? Tetapi entahlah… yang pasti Ia tetap menjadi kekasih dalam diamku selamanya. Atau lebih tepat lagi kekasih bayanganku.

Kala jam istirahat tiba sudah menjadi kebiasaan mataku yang liar memandanginya. Melihat senyuman-nya yang merekah akan membuatku lebih semangat. Ini sudah menjadi rutinitasku seharian di sekolah bahkan sementara les berjalan masih sempat aku luangkan beberapa detik barangkali untuk menatapnya.

Sesuatu hal yang kedengaran lucu, tetapi aku tetap melakukannya. Dengan alasan Ia kekasihku dalam diam. Seperti siang ini aku dibuat gugup oleh Lara yang tidak sengaja menangkap pelupuk mataku yang liar kala sedang asyik menatapnya. Lara melemparkan senyum paling manis dengan mata yang sedikit bercahaya membuatku hampir terbang. Ia tersenyum mesrah kala melihatku salah tingkah menahan hati yang terasa panas tiba-tiba karena perasaan malu padanya. Mungkin Lara dapat membaca tatapan mataku padanya. Berharap Ia bisa melihat ketulusan hatiku ini mencintainya.

Inginku untuk memutar kembali adegan senyum paling manis yang dilemparkan Lara kepadaku yang tertancap bagai tombak tepat di jantungku. Membuat jantungku berdegup kencang karena munculnya tunas-tunas senyuman ala close smile dari Lara yang telah merekah dengan cepatnya di seluruh hatiku. Tunas senyumannya yang bermekaran mungkin lebih indah dari bunga mawar atau pun melati kesukaannya. Lara terlihat begitu sempurna untuk aku miliki. Tetapi sayang, Lara hanyalah kekasih dalam diamku.

Terkadang aku berpikir, sampai kapan aku harus memendamkan rasa ini. Membuat cintaku pada Lara menjadi nyata bukan lagi hanya dalam angan. Tidak lagi adanya adegan mencuri pandang yang akhirnya membuatku tersipu malu kala Lara mendapatiku. Karena aku bisa memandanginya sepuasnya tanpa harus malu lagi. Aku bisa mewujudkan mimpi indahku perihal mencintai Lara dalam dunia nyata. Tanpa merasa gugup memegang tangan dan meremas jarinya. Tidak kala dengan adegan di film-film. Romantis, bukan? Namun apa hendak di kata meski pun semalaman suntuk telah aku siapkan strategi yang tepat menurutku untuk mengutarakan perasaan ini pada Lara. Hasilnya sia-sia belaka, aku mati kutu berada didekatnya, apa lagi harus bertatapan muka.

Aku menatap bola matanya, Ia pun menatap bola mataku. Sungguh, aku bayangkan aku akan pingsan bukan karena anemia, melainkan karena gugup tingkat dewa. Memang aku akui ini kelemahanku, tidak mempunyai nyali yang kuat seperti orang lain. Cukup berkata-kata, perempuan itu pun terpikat padanya. Aku sendiri bukan orang yang romantis atau pandai merangkai sajak. Aku tidak pandai membuat Lara terpikat dan merasa simpati dengan celotehan janji manis yang mampu meyakinkannya. Aku juga tidak pandai merayunya dengan sejuta gombalan lebay. Ya… itu lah aku, sungguh berbeda dengan orang lain. Aku adalah aku yang hanya bisa mengagumimu dalam diam, mencintaimu dalam diam, dan menyayangimu dalam diam. Memilikimu hanya dalam anganku saja telah membuatku bahagia meskipun dalam lubuk hatiku masih terus berharap engkau memiliki rasa yang sama. Apakah mungkin tepat lontaran pertanyaan reflektif kepadaku “Lelaki pecundangkah aku”? Seorang yang tidak memiliki nyali atau keberanian barang secuil untuk mengutarakan perasaan bahwa aku jatuh cinta kepada Lara. Atau biarlah Ia tetap menjadi gadis yang aku cintai dalam diamku.

Sekali lagi! Pantaskah aku dikatakan lelaki pecundang. Ataukah sebenarnya bukan aku yang pecundang, melainkan mereka yang pantas dikatakan pecundang. Mereka yang pandai berbual janji dusta yang dipoles seindah mungkin dalam balutan romantika, sehingga dengan mudahnya perempuan itu percaya dan terpukau kata-katanya. Cinta modal rayuan, janji manis penuh dusta tidak memiliki artinya. Cinta model ini rentan berujung pada sakit hati atau lebih menyakitkan lagi bunuh diri seperti di surat kabar yang pernah kubaca.


Memang benar kata orang, mencintai dalam diam ternyata lebih berat dari pada rindu. Beruntung kalau cinta dalam diam itu tidak ditepuk sebelah tangan. Perjuangan cintaku kepada Lara akan menjadi nyata. Mungkin ada waktunya entah kapan yang pasti suatu saat nanti kala aku sudah bisa bersahabat dengan emosiku. Aku bisa mengatasi kegugupanku kala berada di dekat Lara. Apa lagi berhadapan dan menatap matanya yang tampak merayu itu.

Aku akan menjadi seorang lelaki yang berani menyatakan cinta. Iya, aku yakin itu. Keterbatasan keberanianku sesungguhnya tidak seberapa dengan cintaku yang terlampau besar untuk Lara. Gadis yang membuatku mati kutu tak berkutik itu. Gadis yang membuatku blank bersama rangkaian sajak romantika ala Khalil Gibran yang telah aku hafal seharian. Namun untuk saat ini, Lara masih tetap menjadi kekasihku dalam diam.

Penulis; Berasal dari Bokogo, Wolowea Timur. Sekarang kuliah di STFK Ledalero dan menetap di Biara Scalabrinian, Maumere.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here