Oleh Yasintus Dawi

Di tepi pantai itu, senja kian melebur. Keindahannya yang sedari tadi tanpa lelah menemani beberapa bocah yang asik berlarian di pinggiran pantai, kini semakin meredup.

Aku masih tetap di sana, sesekali terus mengamati beberpa bocah yang asik berlarian, seolah enggan untuk kembali. Bersamaan dengan percikan ombak pada pinggiran pantai, langit mengugurkan hujan Januari yang memaksa beberapa bocah sesegera mungkin menepi.

Pada bias senja yang kian meredup itu, bersama hujan Januari, apa lagi yang harus diserukan bibir selain gemetar yang paling gaduh, selain riuh jiwa yang makin luruh, begitu lumpuh, dan tak henti-hentinya meruntuh?

Di antara derasnya suara hujan, aku mengingat sesosok tubuh yang dihempaskan musim pada awal Januari. aku mengingatnya sebagai rindu yang paling gaduh, bersama rapal doa yang paling sungguh pada setiap sujud-sujudku.

Dari gigil yang membelah pasir-pasir pantai, selalu kubiarkan segala tentangnya bermukim di dinginnya ingatanku. Ingin sekali aku mengajaknya ke tempat ini, bercanda bersama debur ombak yang meriuah.

Barangkali begitu bukan? Kalau rindu adalah candu cinta juga butuh canda. Ada sesuatu yang terus mengusik dalam diriku, saat Ia usap laranya pada bahuku, barangkali merebahkan hatinya yang kian lelah dipelukku. Itu semua menyisakan rindu yang paling gaduh dalam hati yang selalu ingin pada sebuah harap yang bernama temu.

Leonchya, demikian namanya biasa disapa. Ia wanita sederhana yang terlahir dalam kecemerlangan cinta. Entah apa yang merasuki hati dan pikiranku, tatkala aku menatap senja, selalu ada senyum indahnya di sana.

Dia adalah wanita yang tidak ingin melihat rautku terbakar oleh kecemasan hati, namun suka membuat hatiku basah kuyup oleh rerintihan rindu. Tentangnya, terlalu banyak yang masih terlelap dalam ingatku yang selalu betah, dan seolah enggan untuk berpaling.

Apalagi yang harus aku siapkan selain menjadi palung untuk tempatmu berpulang, agar engkau tak lagi berpaling pada hati yang terus bergeming?

Ahh, Leonchya… engkau adalah wanita yang pandai membuat hati ini merindu dengan harap yang sungguh terlalu.

Leonchya, apakah hujan Januari itu ingin merebutmu dari rinduku? Atau Ia justru ingin merampas kebahagiaan yang tumbuh di dadaku? Mungkin Ia ingin memaksaku menjadi sendiri. Bukannya Ia pernah membuat janji kepadaku jika Ia tak akan jatuh lagi di mataku? Namun apakah kali ini Ia berdusta? Ia datang tanpa permisi. Namun, saat aku merasa hujan datang untuk menyakiti, kamu hadir. Mengajarkan aku bahwa Tuhan tak menciptakan hujan untuk bersedih, atau pun ingin merampasmu dari pelukku. Tetapi Ia menyiapkan hujan untuk merasa kita pulih.

Sungguh… aku menyadari jika terkadang orang yang kita rindukan dan kita cintai diciptakan Tuhan bukan untuk dimiliki. Tetapi kali ini, aku ingin Tuhan menciptakanmu untuk kumiliki. Apakah ini harap yang sungguh terlalu, Leoncya? Aku rasa tidak. Karena hatimu adalah mata air yang selalu memberikankan kesejukan pada kegersangan harapku.

Leonchya, aku sungguh mencintaimu…

Hingga pada suatu masa yang sudah terlupakan, ketika rindu dalam hatiku kian mengadu, aku pun mengajaknya untuk bertemu pada sebuah taman kota, barangkali hanya untuk sekadar bersua.

Kami berjanji akan bertemu pada sebuah taman kota yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Ketika tiba waktunya untuk bertemu, sesegera mungkin aku menyiapkan diri dan bergegas menuju tempat di mana yang telah dijanjikan. Ketika tiba di tempat itu, aku melihat, Leonchya, terlebih dahulu tiba dan menungguku pada pojok taman, dan mengarahkan pandangannya ke jalan sambil menikmati sosok tubuh yang berlalu lalang di hadapannya.

Ia duduk pada sebuah bangku panjang ukuran beberapa orang. Arah pandangnya tampak kosong, entah apa yang sedang Ia pikirkan. Hanya Dia yang tahu. Sesekali angin mulai mempermainkan rambut indahnya, hingga menutupi pandangannya. Ia menyibak rambut indahnya ke belakang. Sehelai daun kering yang jatuh pada rambutnya, Ia tepis perlahan.

Dengan langkah pasti, aku menghampirinya. Ketika Ia berbalik badan dan melihatku menghampirinya dari belakang, sesegera mungkin Ia melambaikan tangannya yang seolah ingin memberi tahuku jika Ia telah menunggu hadirku di sana.

Ketika aku telah berada persis dihadapannya, Ia langsung menggenggam erat tanganku dan merebahkan dirinya pada dekapku.

“Senang melihatmu,” sambutnya hangat dengan mata berpijar. Aku membalasnya dengan senyum. Tak ada kata yang harus kuucap di awal pertemuan itu, selain menahan bibir yang paling gemetar.

Perlahan, Ia mulai mengangkat tubuhnya. Ia rebahkan dalam dekapku, lalu menggenggam erat tanganku dan mengajakku berkeliling menelusuri taman itu. Tak ada kata yang menemani langkah kami dalam menelusuri lorong taman, selain kicaun beberapa burung yang berterbangan mendekati kami, seolah ikut menemani kami melangkah.

“Leonchya, apa kabarmu?,” aku mencoba kembali membuka percakapan yang sempat terhenti beberapa waktu yang lalu. Ia tetap menggenggam tanganku dan terus berjalan menunduk, seolah enggan mendengarkan pertanyaanku, hingga pada akhir langkahnya terhenti pada sebuah tempat yang tersedia di taman itu.

Perlahan Ia menarik tanganku dan mengajakku duduk menemaninya beristirahat. Kami duduk persis di bawah rindangan pohon yang menghiasi taman, agar sedikit terhindar dari penglihatan orang banyak. Perlahan, Ia menyandarkan kepalanya pada bahuku, barangkali hanya untuk merebahkan hatinya yang kian lelah tanpa kata. Dengan terus menunduk, Ia memainkan ponselnya yang seolah enggan memperdulikanku yang berada persis di sampingnya.

Keheningan kembali mengusik! Mungkin beberapa burung yang tadinya berterbangan mendekati kami, juga ikut menikmati keheningan ini dengan cara mereka sendiri. Di tempat itu kami duduk merapat, sambil berpeluk dengan sepasang jantung yang terus berdetak senada. pelukan yang membayar tuntas percik-percik rindu yang telah lama menunggu.

Sama-sama, kami saling membakar rindu hingga menjelma jadi getar yang sungguh terlalu. Di tempat itu, sepasang tangan kami saling berdekap erat. Ia terus memberikan senyum indahnya padaku yang sungguh menyejukkan hati. Sesekali, aku mencubit perutnya, memeluknya, hingga memberi kecupan pada pipinya, sampai Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Ingin rasanya kupeluk dan tidak kulepas lagi. Karena memeluk dan menatap matanya di waktu bersamaan adalah hal terindah dari jatuh cinta. Lalu, aku menjatuhkan ciuman di celah bibirnya. Matanya memejam.

Di taman itu, kami terus bercumbu. Melepas semua lelah rindu yang selama ini tertahan, tanpa memperdulikan suasana yang ada di antara kami. Sesekali, Ia menatapku, dan aku pun balik menatapnya. Posisi kami yang duduk berdampingan, membuatku sangat merasa nyaman. Nyaman merasakan sandaran kepalanya di bahuku, nyaman membelai rambut indahnya yang hitam dan lurus.

Tanganku melingkar pada bahunya. Jemariku menari membelai rambutnya. Sambil menatap lurus dan mengamati beberapa kupu-kupu indah yang berterbangan, hinggap pada kuntum bunga yang bermekaran di taman itu, seolah sedang mengintip kami yang sedang bercumbu.

Hingga tanpa kami sadari, sang mentari kini beranjak pergi menuju peraduannya, dan lampu-lampu taman pun mulai dinyalakan. Bunyi jangkrik dibalik rerumputan mulai bersahutan, seolah memaksa kami sesegera mungkin beranjak dari tempat itu.

“Leoncya, sepertinya kita harus kembali sekarang, karena masih ada yang menunggu pulangmu,” ajakku. Dengan raut yang sedikit kecewa, Ia menganggukkan kepalanya, pertanda Ia menyetujui ajakanku. Sebelum kami pergi meninggalkan taman itu dan kembali ke tempat kami masing-masing, sekali lagi aku mendekap erat tubuhnya, lalu menjatuhkan ciuman di celah bibirnya. Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya selain terdiam dan membisu. Hanya tatapan manja yang Ia berikan diakhir pertemuan itu. Kami pun pergi meninggalkan taman itu, dengan membawa harap masing-masing.

Leonchya, terima kasih untuk cinta dan waktumu yang indah ini. Percayalah, jika kelak doa-doaku tidak dikabulkan Tuhan untuk selalu bersamamu, aku tidak akan pernah menyesal karena telah melangitkan namamu dalam pagi-pagiku yang menggigil, dalam malam-malamku yang sepi, tanpa pernah merasakan dekapanmu yang pasti. Karena bagiku, mencintaimu saja adalah hal yang paling istimewa.

Leonchya, aku sungguh mencintaimu!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here