Oleh: Riko Raden

Pagi itu, suasana Kota Ruteng masih dingin dan sedikit mendung bahkan sempat beberapa menit terjadi gerimis. Orang-orang kota tak satu pun yang berani duduk parkir di depan rumah. Sementara itu, matahari pagi tak bersinar seperti biasanya. Cukup gelap meliputi kota ini. Kabut tersebar di mana-mana bahkan sempat masuk ke dalam rumah warga. Suasana kota pagi itu sepi. Lebih ramai suasana di kampung-kampung. Padahal ini kota, pusat kabupaten. Entahlah. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan kota ini.

Dalam suasana kota begitu sepi, Siti, seorang perempuan kota yang gemar berspeda di pagi hari tetap saja menjalankan rutinitasnya. Ia terus berspeda sepanjang kota sepi ini. Ia melihat pintu rumah warga kota tak satu pun terbuka. Jendela pun demikian. Rumah seperti tabernakel. Selalu tutup rapat. Dalam hatinya, Siti, berguman mungkin warga kota masih terlelap dalam buaian mimpi. Ia pun terus berspeda di tengah kota sepi ini. Ia menikmati udara segar pagi ini.

Saat Ia melintasi lapangan Motang Rua, di sana ternyata masih ada orang yang menikmati udara pagi hari. Siti terus berjalan dengan spedanya. Ia berjalan keliling lapangan Motang Rua sambil melihat keadaan tempat ini. Ia melihat dari luar tempat ini, ada begitu banyak orang yang sedang asik menikmati udara pagi. Ada yang berjalan keliling, ada juga yang duduk, mengisap rokok, bercandaria bersama, ada yang lompat-lompat di tempat, ada yang berfoto-foto juga duduk seorang diri menanti datangnya fajar pagi.

Benarlah kata orang bahwa lapangan itu tempat orang mengekspresikan diri dengan sebebas-bebasnya. Ingin berteriak, teriak saja. Ingin berlari sampai nafas putus pun tak ada yang melarangnya. Hanya orang tidak normal saja kalau Ia melarang orang lain untuk melarang ribut di sebuah lapangan. Karena lapangan itu diidentikkan dengan kata-kata yang tak sanggup diucap. Kesempatan seseorang untuk mengekspresikan dirinya.

Agak lama, Siti, menikmati suasana Lapangan Motang Rua ini. Ketika waktu menuju pukul setengah enam, secara perlahan mendung di langit mulai menghilang. Matahari pun mulai muncul dari arah Timur.

“Ahh, indah sekali pemandangan matahari itu.” Kata seseorang di belakang Siti. Ia menoleh ke belakang ternyata bukan temannya.

Tak lama kemudian, Siti beranjak dari tempat ini menuju bandara. Di sana pemandangan sangat indah. Tempat ini membujur dari barat ke timur yang berada di tengah-tengah Kota Ruteng. Sehingga ketika memandang ke arah timur terlihat matahari yang masih malu menunjukkan sinarnya.

Kombinasi antara sinar matahari yang sedikit mendung menghasilkan cahaya merah marun yang tentunya jarang kita temui di pagi hari. Sungguh pemandangan yang sangat indah saat Siti berada di tempat ini. Ia sangat kagum juga jatuh cinta dengan tempat ini. Selama bertahun-tahun Siti menjadi anak kota, baru kali ini Ia sempat berada di tempat ini juga menikmati pemandangan yang begitu indah. Melihat hal tersebut tak ingin Siti abaikan momen ini begitu saja. Ia mengabadikan momen ini lewat kamera handphonnya.

Setelah dirasa cukup, Siti melanjutkan perjalanan pagi itu. Berkilo-kilo Ia kayuh sepeda hingga terasa matahari sudah terlihat di ufuk timur. Udara di kota Ruteng masih segar, namun tubuhnya agak kelihatan lelah. Melihat kondisis tersebut, Ia pun kembali ke rumah. Ia melintasi lapangan Motang Rua barangkali di sana masih ada orang yang sedang menikmati udara pagi ini. Ketika sampai di tempat ini, Ia melihat masih ada dua orang sedang duduk sambil berfoto-foto.

Langkah demi langkah Ia masuk tempat ini. Ia mengambil tempat duduk paling sudut. Seteguk demi seteguk Ia nikmati air mineral, lalu Ia mengambil handphon melihat kembali fotonya tadi. Ia sedikit tersenyum melihat foto yang sangat bagus baginya.

“Akan kujadikan foto profil WA. Pasti banyak orang yang suka dengan foto ini.” Katanya dalam hati.

Ketika Ia sudah melihat semua foto itu, ada satu foto yang sangat bagus. “Ini saja foto profil. Sungguh bagus.” Dengan cepat Ia pun mengganti foto profilnya.

Tak lama kemudian, pacarnya langsung memberi komentar atas foto profilnya.

“Kenapa engkau mengganti foto profil WA?” Tanyanya.
“Tidak apa-apa. Aku sangat suka dengan foto itu.” Jawab Siti singkat.
Tapi aku tidak suka dengan foto itu. Aku ingin profil WAmu masih menyimpan foto kita berdua. Aku sangat suka itu. Nanti orang lain akan berprasangka bahwa kita berdua sudah tidak ada hubungan lagi. Kalau bisa cepat ganti foto profil sekarang.”

“Iya, ini hanya sekadar coba saja. Sebentar aku akan menggantinya lagi. Terus, engkau sekarang di mana? Sudah pulang berdoa atau belum?” Kali ini Siti tanya balik.
“Aku berada di rumah sekarang. Sedang menikmati kopi dan kompiang. Tapi aku belum ke gereja tadi. Tadi malam tidur agak terlambat sehingga pagi tadi bangun telat. Sebentar sore baru pergi berdoa.” Jawabnya singkat.
“Baiklah, kalau begitu sebentar kita sama-sama pergi berdoa. Aku tunggu di rumah. Nanti datang jemput. Kita sepakat untuk pergi berdoa di Gereja Katedral.”
“Ok. Nanti aku akan telpon sebentar.”

Tak lama kemudian, Siti pun menggantikan foto profil WAnya. Ia kembali menyimpan foto berdua mereka. Cukup lama Siti menikmati udara pagi di lapangan Motang Rua ini. Sampai-sampai air mineralnya habis bahkan botolnya sudah terjatuh dan angin bawa entah ke mana.

Di tempat ini Ia bukan sendirian. Ada dua orang sedang duduk berdua tapi agak jauh dari tempat duduknya. Siti melihat mereka sangat mesra sekali. Barangkali mereka sepasang kekasih. Entahlah. Siti kemudian berdiri dan beranjak dari tempat duduknya. Ia sengaja berjalan keliling tempat ini sambil melihat pasangan yang bermesraan itu. Ketika Ia mendekati mereka, terlihatlah sebuah jaket yang tidak asing lagi dengannya. Jaket itu dikenakan oleh laki-laki juga tidak asing baginya.

“Jangan-jangan itu pacarku.” Kata Siti dalam hatinya sambil terus berjalan mendekati mereka. Dugaan Siti sungguh benar. “Itu pacarku.” Jaket yang Ia kenakan itu, Siti beli di sebuah toko di kota Ruteng. Jaket itu sebagai hadiah saat pacarnya berulang tahun. Siti tidak melanjutkan perjalanan mendekati mereka. Ia sudah tahu bahwa sedari tadi yang sedang bermesraan itu ternyata pacarnya. Ia telah bersama perempuan lain. Tadi Ia katakan bahwa dirinya sedang berada di rumah sambil menikmati kopi dan kompiang. Ternyata Ia menipu. Hati Siti sungguh sakit melihat pacarnya itu.

Melihat hal itu, Siti beranjak dari tempat ini dan pulang ke rumah. Ia sesal dengan keadaan di tempat ini.

“Nak, sekarang siapkan sarapan untuk Bapak. Ibumu tidak ada. Mereka semua sudah pergi berdoa tadi. Tolong siapkan kopi juga.” Kata Bapaknya pelan sambil menikmati udara sejuk di rumah mereka ini. Siti pun hanya mengangguk dan menuruti perintah dari bapaknya. Setelah Ia menyiapkan sarapan untuk bapaknya, kemudian beranjak ke tempat tidur. Dari dalam Ia mengunci pintu agar orang lain tidak masuk ke kamarnya.

Di kamar ini, hujan menggantikan air matanya yang sudah habis. Ia merenung di atas tempat tidur, akalnya terus bersawala dengan dirinya sendiri. Kebaikan demi kebaikan terus Ia berikan pada orang yang sangat dicintainya, tapi apa daya semuanya hanya sia-sia saja. Tak lain dan tak bukan adalah pilu yang munculnya bertubi-tubi. Ia harus rela mengalami kehilangan lagi. Kehilangan cinta yang Ia dambakan selama ini. Setelah sebuah kehilangan atas sosok lelaki yang mengaku akan setia.

Kini awan hitam kembali menghampirinya, duka menyambanginya. Siti kehilangan seseorang yang mungkin bisa disebut sebagai kekasih yang begitu Ia percaya sedari Ia belum memahami cinta masa putih abu-abu. Ibunya selalu berpesan bahwa sebagai anak pertama dalam keluarga, Siti harus mempunyai peran untuk menjaga keagungan seorang laki-laki sebaik Ia kepada Ibu dan Adik-adiknya. Merawat dan menghormati hati seorang laki-laki sepertimu selayaknya permata suci nan rapuh yang melahirkan banyak keindahan. Dan ini semua telah Ia lakukan kepadanya. Namun, nyatanya seseorang yang Ia cintai malah menyakiti hatinya.

Entah rasa apa ini Siti pun tidak mengerti. Bertahan mencintai seseorang yang tidak bisa mengerti irama jantungnya. Kini, perasaannya sendiri telah menyiksa hati dan jiwanya. Mencoba melarutkan perasaan dalam suasana yang kelabu bukanlah hal yang mudah. Bertahan untuk terus mencintainya membuat Siti menderita karena Dia tidak pernah mengerti dengan perasaan ini. Melepaskan untuk pergi darinya barangkali penderitaannya tidak bisa Ia pikul karena hanya dia satu-satunya laki-laki yang Ia cintai.

Antara bertahan dan pergi membuat hati ini menjadi dilema. Perjumpaan dengan Dia pada saat itu teramat bahagia. Siti begitu bahagia ketika menatap matanya. Saat Siti berjumpa denganya semenjak pulang dari Malang, Ia baru menyadari bukan hanya mentari yang mampu menghangatkan, bukan hanya pelangi yang indah, bukan hanya rembulan yang mampu menerangi malam. Dia layaknya senja nan indah dan aku selalu mencintainya. Tetapi semua itu hanyalah kekaguman atas dirinya. Dia telah bersama orang lain.

Bersama keheningan pagi ini, di bawah mendungnya awan Kota Ruteng yang telah menutupi matahari pagi, Siti memutuskan untuk pergi dari hidupnya. Siti tidak ingin disakiti terus menerus. Sejujurnya, Siti benci dengan perempuan yang mencintai pacaranya itu. Apalagi duduk berdua sambil bermesraan dengan pacarnya. Siti sangat tidak suka seperti itu. Siti sungguh-sungguh sangat benci. Ia juga benci dengan pacarnya itu karena tidak pernah memahami perasaannya. Pacarnya itu selalu pergi meninggalkan Siti. Padahal Siti ingin meluapkan rasa cinta ini kepadanya. Siti sungguh mencintainya hingga tak ada kosakata yang bisa Ia gunakan untuk melukiskannya. Teganya Dia berbuat seperti itu di depan dirinya. Teganya Dia telah melupakan janjinya.

“Enu, apakah kita bisa berjalan-jalan. Hanya hari ini saja. Kebetulan hari minggu, kita bisa jalan-jalan keliling Kota Ruteng.” Katanya saat Dia menelphon Siti.
“Maaf, aku tidak bisa karena aku sibuk dengan keluarga.” Jawab Siti dengan singkat.
“Enu, tolong luangkan waktu sedikit.”
“Berhentilah menjadi pengecut. Berhentilah menjadikanku budak dari ketidakmampuanmu mengatasi ketakutan yang berasal dari masa lalumu. Aku tahu banyak tentang laki-laki seperti dirimu. Engkau hanya memandang dan menilai seorang perempuan seperti diriku hanya sebelah mata saja. Barangkali aku hanya seorang perempuan sederhana yang tidak punya apa-apa. Aku datang berlibur karena kita telah berjanji untuk bertemu di kota dingin ini. Aku senang dengan janji kita supaya kita bertemu. Tetapi setiap kali bertemu, dirimu tidak ada perasaan sedikit pun untukku. Aku sangat kecewa dengan dirimu. Berhentilah menjadi pengecut.”
“Apa maksud semuanya ini? Mengapa pagi ini engkau berkata demikian.” Pacarnya tidak tahu kalau Siti sudah mengetahui semua tentangnya. Ia tidak tahu bahwa Siti tadi juga ada di lapangan Motang Rua. Sehingga tidak salah Siti mengungkapkan demikian.
“Engkau dengan siapa tadi pagi di lapangan Motang Rua?” Kali ini Siti meminta kejujurannya.
“Aku minta maaf. Aku telah menipu dirimu.” Suaranya pelan.
“Engkau yang pandai meninggalkan, sebenarnya tak ada beda dengan mereka yang datang dan pergi tanpa kejelasan. Engkau seperti para politikus di kota ini. Di atas panggung kampanye, dengan raut wajah yang beragam mulai dari senyuman menawan hingga tertawa yang direkayasa berteriak menawarkan iklan serentak diam-diam menebarkan kebohongan dengan tatapan mata yang memelas. Sebab, apa yang diteriakkan di atas panggung, sangat sedikit kemungkinan untuk diwujudkan di bawah panggung setelah terpilih. Engkau sama dengan mereka, melukai hati rakyat secara terang-terang. Engkau tega menyakiti hatiku. Aku ini seorang perempuan, setia merawat janji. Mungkin ketika engkau dengan beraninya menyakiti hati perempuan seperti diriku, engkau sedang lupa dengan fakta bahwa dari rahim perempuanlah engkau dilahirkan. Baiklah, aku tidak marah dengan dirimu. Engkau punya hak untuk mengingkari janji juga punya hak untuk meninggalkanku.”

Tak lama kemudian, Siti pun mematikan telponnya.

Itulah sebabnya mengapa sampai saat ini Siti benci dengan janji seorang laki-laki.

Penulis; Penghuni unit St. Rafael Ledalero. Penikmati kopi pahit Manggarai yang merindukan wajah Tuhan pada paras wajah seseorang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here