Oleh: Riko Raden

“Aku kehabisan kata untuk menggambarkan kehilangan. Kehilangan membuatku tak tahu arah. Tak tahu aku harus menangis atau marah. Ditinggal pergi oleh seseorang yang kukira Dia adalah sebuah anugerah. Entahlah, mungkin ini rencana Tuhan dalam hidupku. Aku selalu percaya pada kehendak-Nya. Aku diciptakan oleh dan untuk Tuhan.”

“Barangkali seseorang yang telah pergi dari hidupku, semuanya rencana dan kehendak Tuhan sendiri. Mungkin Tuhan akan mengirim seseorang yang terbaik dan tak akan pernah meninggalkan aku lagi. Oleh karena itu, aku harus rajin berdoa, agar Tuhan selalu dengar isi hatiku.”

Itulah suasana hati Paul saat berdoa di sebuah kapela di Ledalero. Ia sengaja berdoa di kapela ini, karena Ia yakin Tuhan hadir saat hening tiba.
Saban hari, Paul memang selalu datang di kapela ini, tapi setiap kali Ia berdoa, selalu saja ada teman-teman yang mengganggunya. Paul juga tidak tahu mengapa mereka bertingkah demikian. Padahal, berdoa itu baik. Kita selalu dekatkan diri dengan Tuhan.

Untuk itulah, setiap kali teman-temannya bergumul dengan diri sendiri di dalam kamar mereka masing-masing, Dia dengan langkah tertatih-tatih masuk ke kapela tanpa ada yang melihatnya. Kali ini Ia berdoa kepada Tuhan agar doanya dikabulkan. Hatinya sudah lama merindukan agar orang yang dicintainya cepat kembali bersamanya lagi. Itu saja yang Ia minta kepada Tuhan.

Kepergian seseorang dari hidupnya, membuat Ia sendiri kadang lupa ingin berbuat apa untuk hari esok dan masa depan, seperti apa yang Ia inginkan. Sungguh pedih rasanya, ketika orang yang dicintainya pergi meninggalkannya.


Malam ini, Ia kembali pergi ke kapela di Ledalero. Jarak kamar tidur dan kapela lumayan jauh. Sekitar lima belas menit untuk sampai. Sebelum Ia sampai ke kapela, harus melewati beberapa kamar tidur teman-temannya. Apabila Ia melewati kamar tidur mereka, hentakan kaki jangan terlalu bunyi, nanti teman-teman tahu bahwa Ia pergi keluar malam lagi.

Teman-temannya tahu kalau jam sepuluh ke atas, Paul selalu tidak ada. Teman-temannya tidak tahu kalau jam begitu, Ia berdoa di kapela. Ia sudah lama melakukan hal ini, hanya karena teman-temannya belum tahu Ia ke mana. Ia sendiri juga tidak pernah mengatakan kalau jam begitu Ia pergi berdoa. Teman-temannya hanya menaru curiga, bahwa Paul selalu keluar malam.

Kini, Paul sudah berada di dalam kapela. Di sini hanya sunyi tanpa suara. Lampu tabernakel selalu menyinari ruangan di dalam kapela ini. Kali ini, Paul duduk di bangku paling depan. Karena selama ini setiap kali Ia berdoa, selalu saja duduk di bangku paling belakang. Ia yakin Tuhan akan mendengarkan doanya, karena jarak antara meja altar cukup dekat dengan bangku paling depan.

Ia kemudian duduk dan matanya menatap Salib Yesus di atas altar. Cukup lama Ia memandang. Tak sadar air matanya jatuh membasahi pipinya. Ia tertunduk lesuh seolah-olah dosanya sangat banyak dan sekarang merasa malu berada di hadapan Tuhan. Tetapi, Ia menangis bukan karena dosa banyak, melainkan masih terbawa sedih karena ditinggalkan oleh orang yang dicintainya.

Cukup lama ia menangis. Sedari tadi Ia belum melantunkan kata doa. Ia hanya diam seribu kata. Kemudian Ia coba berlutut dan tangannya mengatup. Ia mulai berdoa. Tapi air matanya terus mengalir. Suasana kapela semakin sunyi. Ia terus berlutut dan berdoa, agar Tuhan kembalikan orang yang dicintainya. Ia sangat mencintainya. Tak lama kemudian, Ia kembali duduk. Ia tidak menangis lagi. Suasana hatinya sudah mulai tenang.

“Tuhan pasti mendengar doaku.” Katanya dalam hati. Ia kemudian bangkit berdiri dan beranjak dari kapela menuju kamar tidurnya.


Dua bulan yang lalu, Paul dikabarkan oleh Sinta agar hubungan mereka cukup sampai di sini. Ketika mendengar kabar itu, Paul merasa terpukul karena bertahun-tahun mereka selalu ada bersama. Ia selalu memberikan yang terbaik untuk Sinta, bahkan waktu untuk menulis sesuatu harus dikorbankan demi hati untuk Sinta. Betapa sedih hatinya saat orang yang dicintainya pergi tanpa kembali lagi.

Paul rela, apabila Sinta pergi dengan alasan yang jelas. Tapi Sinta pergi tanpa meninggalkan pesan pun kesan untuknya. Bagi Paul, menekuni cinta sendirian memang tidak seberat itu. Tapi satu hal yang sedikit meresahkan adalah, terkadang muncul rasa ingin ditemani oleh Sinta. Melewati hari tanpa kabar dari Sinta, sepertinya hal yang baru baginya. Mungkin karena dulu Ia sempat merasa sangat memiliki, walaupun hanya beberapa waktu.

Situasi ini, membuat Paul ingin lebih sering berdua dengan Tuhan, memperbincangkan rindu yang tak kunjung usai. Meminta Tuhan terus melindungi Sinta, terus melimpahkan kebahagiaan untuknya. Bagi Paul, Sinta adalah sosok perempuan yang bertemu sebuah ketidaksengajaan. Ia tak sengaja bertemu Sinta dan jatuh cinta dengannya. Paul mempertaruhkan hatinya untuk Sinta agar mereka sama-sama menjaga cinta itu.

Tapi, ternyata dunia tak memperkenankan mereka bersatu untuk waktu yang lama. Mungkin bagi Paul, Sinta hanyalah sebuah perumpamaan. Ia hanya sebuah bayangan dari sebuah kenyataan. Bahwa cinta ternyata tak selamanya harus dimiliki. Mungkin cinta yang dimiliki Sinta diumpamakan sebagai dua hati yang terlalu lama sepi, dan kembali menjadi sepi. Kemudian pergi. Yang tinggal hanya kenangan dalam sepi.


Paul rupanya belum tidur. Sudah larut malam, tapi matanya belum mengantuk. Ia coba membantingkan kepala ke bawah, lalu ditutup dengan bantal. Sama saja, pikirannya masih terus membayang Sinta. Ia sangat mencintai perempuan itu. Ia pernah menangis, karena seharian Sinta tak memberi kabar untuknya.

Sekarang Sinta telah pergi. Ia merana dalam kesepian. Menenun rindu seorang diri. Ia coba melihat handphone, mungkin Sinta ada WA untuknya. Ia masih simpan nomornya Sinta, walau hubungan mereka tidak ada lagi. Tapi Ia yakin Sinta selalu merindukan kata-kata manisnya. Puisi-puisi yang dikirimnya selama ini membuat hati Sinta selalu merindukannya. Tapi sekarang, rupanya Sinta tidak merindukan puisi-puisi itu lagi.

Nana, maafkan aku. Bukan maksud untuk meninggalkanmu, apalagi memutuskan hubungan yang telah lama kita rajut ini. Tapi aku pergi karena keadaan orang tuaku di kampung, sangat menderita sekali. Aku tidak ingin melihat mereka terus merana dalam kesedihan. Sekarang aku berada di Kalimantan. Aku ingin kerja di sini, supaya bisa menjamin kebutuhan orang tuaku. Maafkan aku karena tidak memberitahukan kepadamu.” Katanya melalui WA.

“Terima kasih enu. Engkau begitu baik hati. Aku pikir selama ini engkau telah melupakan aku. Sekarang aku mengerti dengan keadaanmu.” Paul membalasnya dengan singkat.

Sangat lama Paul menunggu balasan darinya. Ia melihat jam sudah menuju pukul empat pagi. Suara ayam yang berkokok di belakang kamar tidurnya hampir sudah berulang lima kali. Artinya, pagi sudah mulai tiba. Dan sebentar lagi mentari pagi menghangati bumi dari tidurnya. Dan raja malam akan pergi. Paul terus menunggu balasan WAnya. Tapi sampai jam begini, belum juga dibalas.

Penulis; Anggota Unit St. Rafael Ledalero, Maumere.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here