Oleh Stefan Bandar

Desember awal 2007, kisah piluh dari Kampung Ademos di Pulau Utopia. Kisah yang kurangkai menjadi sebuah cerita. Entahlah, apakah aku akan kembali bertemu dengannya esok hari atau mungkin tidak akan pernah lagi. Tapi di sini, kenangan itu akan abadi tergenang.

Di bawah gubuk tua, kami duduk melingkar. Gubuk tua milik Pak Kasin, seingatku, yang tak dipakainya lagi. Gubuk itu biasanya menjadi tempat persinggahan orang saat lelah berjalan dari kampung seberang menuju Kampung Ademos, tempat segala hasil tanah mereka ditukar dengan rupiah atau dengan sekarung beras.

Gubuk itu tidak terurus lagi, sebab setahun sebelumnya Pak Kasin berhenti mencicipi lahan itu dengan menanam berbagai sayuran yang biasa ditanamnya. Semenjak istrinya meninggal, saat kejadian tragis tiga puluh tahun silam dan anak laki-laki satu-satunya juga meninggal tiga tahun sebelumnya karena terjangkit penyakit malaria, Ia hidup sendirian dan hanya mengusahakan lahan yang berada di belakang rumahnya.

Senja hari sebelumnya, aku meminta izin dari Pak Kasin untuk membersihkannya. Ia mengizinkanku menggunakan gubuknya itu, yang tepat berada di tepi jalan. Dengan beberapa pemuda di kampung itu, aku menata kembali gubuk itu dengan sedikit indah. Beberapa batang kayu yang melintang tidak beraturan dikeluarkan, dan beberapa helai daun yang berserakkan dikumpulkan lalu dibakar.

Langit malam begitu gelap. Udara yang berhembus sepoi-sepoi menghantarkan dingin yang menyapa kulit kami. Aku mengeluarkan korek api dari saku celanaku dan menyalakan lilin yang berada di tengah-tengah kami. Hanya sebatang lilin, tak ada listrik. Cahaya samar lilin itu tidak begitu terang untuk membiaskan dan memancar setiap wajah yang ada di sekitarnya, apalagi menyinari setiap sudut pondok tua itu.

Aku mengeluarkan Alkitab dari tasku, membukanya dan kemudian membacanya. Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka selain suaraku yang mengisi setiap sudut gubuk itu. Aku membaca Alkitab dengan begitu pelan dan penuh penghayatan. Mungkin itu juga menjadi alasan mereka diam. Mungkin mereka terbawa dengan situasi yang aku hadirkan melalui nada suaraku. Setelah aku selesai membacanya, aku meminta mereka merenung dan menemukan pesan yang terkandung di dalamnya.

“Frater, benarkah Tuhan itu ada? Kalau Ia ada, mengapa Ia mengambil anak dan suamiku?,” Sebuah suara tiba-tiba muncul dari balik pondok tempat kami duduk melingkar. “Marlina, pulang kau!,” dengan nada yang agak kasar, seorang Bapak membentaknya dan menyuruhnya pulang. “Dasar perempuan gila,” seorang pemuda pun segera menyahut dengan nada yang sedikit kasar juga. “Maaf Frater, Dia itu orang yang tidak waras. Beberapa tahun belakangan ini, Ia selalu berlaku aneh. Ia tertawa sendiri, kadang menangis, terkadang juga menimbulkan keresahan dalam kampung ini. Ia adalah orang gila, Frater,” lanjut seorang Bapak yang lainnya.

Aku terdiam dengan gugatan yang diutarakan Marlina, yang dikuti pernyataan dua lelaki tua dan seorang pemuda yang tepat duduk berhadapan denganku. Apakah pertanyaan itu harus kujawab atau pertanyaan itu hanya menjadi sebuah pertanyaan hiasan yang mekar di atas bibir Marlina, wanita yang kurang waras itu?

Aku bisa menjawab pertanyaan Marlina, tetapi referensi jawaban untuk pertanyaannya itu tidak terlalu banyak kumiliki. Pertanyaan sederhana namun menuntut jawaban yang tepat dan benar. “Mungkin belum saatnya untuk kujawab,” batinku. Aku kembali menghantar mereka dalam diam, merenungkan bacaan yang telah kubaca beberapa saat yang lalu.


Seminggu telah berlalu. Saatnya aku harus meninggalkan Kampung Ademos. Begitu banyak pengalaman yang aku dapatkan di sana, begitu banyak pula pelajaran yang aku dapatkan dari setiap orang yang aku temui di sana.

Senyum dan canda tawa yang kami lewati bersama, menghantarkan kami pada kemesraan yang tidak ingin diakhiri. Tapi aku tidak mungkin terus berada di sana bersama mereka, sebab di sana aku hanyalah tamu yang datang untuk mewartakan bagian dari tugasku sebagai seorang Frater, pada waktu yang telah ditentukan.

Senja hari sebelum aku meninggalkan kampung itu, aku duduk di pantai yang berada di belakang rumah penginapanku selama aku berada di sana. Aku menatap lautan yang membentang di depanku dengan tatapan kosong. Pikiranku melayang pada semua kisah tragis dari masyarakat di sana tentang kejadian beberapa tahun silam yang diceritakan kepadaku. “Apakah keadilan benar-benar tidak ada lagi di negeri ini?,” aku membatin.

“Frater, apakah Frater sedang berbicara dengan Tuhan?,” tiba-tiba sebuah suara muncul dari balik punggungku. Dia adalah Marlina, wanita yang dijauhkan masyarakat di sana dari kehidupan sosial mereka. Wanita yang dicap sebagai orang gila dan sumber keresahan dalam masyarakat.

Aku terdiam kaku. Aku sedikit takut, sebab beberapa orang selalu mengingatkanku untuk menjauhinya. Tapi rupanya, apa yang mereka katakan tidak benar. Dari pancaran wajahnya, Marlina memberikan senyuman kepadaku. Ia begitu bersahabat dan tidak ada alasan yang kutemukan dari raut wajanya yang bisa membuatku takut, apalagi menjauhinya. “Apakah benar Dia wanita kurang waras seperti yang mereka katakan? Mungkin mereka salah,” aku berguman sendiri.

“Frater, mereka yang gila. Saya bukan orang yang gila,” kata Marlina seakan tahu apa yang sedang aku pikirkan. Air matanya mulai membasahi pipihnya. Entah mengapa, aku melihat kesedihan yang begitu dalam yang terpancar dari tubuhnya yang lusuh, dengan rambut yang tak teratur lagi.

Marlina adalah kembang desa Kampung Ademos. Tiga puluh tahun silam Ia dilamar oleh Aksan, seorang pria yang bekerja sebagai Guru Sekolah Dasar. Setelah melamarnya, Aksan pergi ke kota provinsi guna melanjutkan studinya dan berjanji akan kembali untuk menikhinya. Marlina selalu menunggu saat-saat itu, saat Aksan kembali dan menikahinya.

Nasib malang menimpa Marlina. Sebulan setelah kepergian Aksan, Kampung Ademos didatangi oleh sekelompok pasukan yang ingin merebut tanah mereka. Semua harta benda mereka diambil dan dirampas, sedangkan rumah mereka dibakar hingga menyisahkan abu hitam. Semua pria diwajibkan ikut dengan pasukan asing itu untuk menjadi bagian dari anggota mereka. Jika saja ada yang menolak, maka Ia dibunuh dengan cara yang sangat kejam. Beberapa pria dari Kampung Ademos menjadi korban ganasnya pasukkan itu. Mereka mati dubunuh dengan cara yang begitu kejam.

Marlina? Sungguh malang nasibnya. Dia diperkosa oleh beberapa pria bersenjata. Keperawanannya direnggut oleh pria yang tidak bertanggung jawab. Keluarganya dibunuh dengan kejam di depan matanya. Saudarinya juga diperkosa lalu dibunuh oleh beberapa pria di depan matanya. Marlina memberontak hendak menyelamatkan harga dirinya dan nyawa anggota keluarganya. Namun rupanya teriakannya itu tidak didengar. Bahkan pada akhirnya, keperawanannya diambil juga.

Semenjak kejadian itu, Marlina menjadi wanita pendiam. Rupanya kejadian tragis yang disaksikan dan dirasakannya itu, menjadi alasan di balik diamnya itu.

Beberapa waktu setelah itu, Marlina menjadi wanita yang berbeda. Sesekali Ia tertawa sendiri, berbicara sendiri, dan terkadang pula Ia menangis dengan sejadi-jadinya.

Semenjak kejadian itu juga, Ia tidak lagi mengurus dirinya seperti sedia kala. Rambut hitam sebahu yang biasa dikeramasnya, kini tidak terusur lagi. Ia begitu tidak peduli dengan dirinya lagi.

“Frater, apakah Tuhan itu ada?,” Ia kembali membisikkan pertanyaan yang pernah diberikannya kepadaku beberapa hari yang lalu. Air matanya berjatuhan membasahi pipihnya. Aku yang menatapnya memilih diam dan memberikan ruang kepadanya untuk terus bertanya kepadaku.

“Kalau Tuhan ada, mengapa Ia berlaku tidak adil kepadaku? Mengapa harus ada yang menderita di sini? Mengapa Ia memberi mereka waktu untuk menguasai daerah kami dan membunuh anggota keluarga kami?,” dengan nada yang terpatah-patah dan bibir yang terus bergetar, Marlina menyampaikan pertanyaannya kepadaku.

Rupanya, kejadian beberapa tahun silam terus membekas dalam hatinya. Rupanya, Ia sungguh tidak menerima kenyataan yang harus diterimanya. Kejadian itu pula menjadi alasan Ia memberikan pertanyaannya itu kepadaku. Luka yang tergores di dalam hatinya, rupanya telah menghantarkan Ia pada sikap dilematis antara percaya dan tidak terhadap Tuhan.

“Frater, ingatlah aku di dalam doa-doamu,” katanya sembari berlalu dari pandanganku. Ia pergi tanpa mendapatkan jawaban dariku. Ia pergi dengan luka yang terus merintih di dalam hatinya yang masih suci. Duka yang terlalu terus menyelimuti hari-harinya, mungkin hingga Ia akan menemukannya sendiri nanti, di tempat yang lain.

Penulis: Mahasiswa STFK Ledalero.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here