Oleh: Jellin Nggarang

Sejoli muda bernama Ande dan Leni yang sering disapa Papa muda dan Mama muda, hidup di sebuah kota yang sangat ramai. Mereka melewati masa-masa awal pernikahan dengan rukun dan damai. Mama muda menceritakan, dari dulu Ia mau menjadi seorang penyanyi, tapi tidak kesampaian karena berbagai problem yang membuatnya tak mengharapkannya lagi.

Suatu hari, Mama muda itu mual muntah, Papa muda panik.

“Pasti asam lambungmu meningkat. Sekarang kita ke rumah sakit.”

“Jangan Pa, hanya mual-mual begini tidak harus ke rumah sakit, di sini saja Pa.”

Mualnya semakin menjadi-jadi, membuat Papa muda tambah panik.

“Belikan saya test pack, saya mau cek.”

“Cek apa Ma?”

“Untuk cek kehamilan Pa, masa cek suhu.”

“Oohhh… Iyaaaaaa… Tunggu Ma, nanti saya belikan.”

Setelah test pack dibelikan, Mama muda langsung cek dan hasilnya positif. Ia menceritakan kepada suaminya, bahwa hasilnya positif. Papa muda langsung memeluk istrinya, setelah Ia mengetahui istrinya “berisi”.

“Terima kasih untuk anugerah ini Tuhan… Jaga kesehatan ya Ma.”

Tujuh bulan kemudian, perut Mama muda semakin kelihatan. Mama muda menjalani USG. Hasil USG janinnya sehat dan Ia akan melahirkan seorang anak laki-laki. Ande sangat senang dan tidak sabar menggendong anaknya.

Hari berganti hari, tibalah bulan kelahiran anak mereka. Pertarungan nyawa Leni sudah pada puncaknya. Dengan usaha sekuat tenaga, Leni bisa melewati perjuangan dan tanggung jawabnya untuk menghadirkan bayi mungil yang ditunggu-tunggu. Sungguh rasanya tidak bisa didefinisikan. 

Ande mengecup kening Leni, setelah satu menit bayi mungil itu hadir di tengah-tengah mereka.

Ande dan Leni mengurus si mungil itu bersama-sama. Mereka memberinya nama Bram. Banyak hal yang belum bisa dijalankan secara maksimal. Ande dan Leni selalu meminta maaf kepada anak mereka, karena belum bisa menjadi layaknya orang tua seperti orang tua pada umumnya.

Saat Bram menginjak umur satu tahun, Ande mengalami kecelakaan dan kecelakaan itu merenggut nyawa Ande, yang sebenarnya masih dibutuhkan oleh sosok istri dan anak semata wayangnya. Leni terpukul. Leni harus membesarkan Bram sendiri di tengah keadaan yang tidak memungkinkan. Tapi Leni berusaha agar bisa melewatinya. Dan harus bisa.

Anak semata wayangnya harus hidup tanpa kehadiran Ayah tercinta. Leni terus mendorong Bram, agar Ia bisa menjadi pribadi yang baik. Sampai Bram beristri. Namun Bram sedikit egois. Bram selalu dihantui pikiran akan susahnya merawat Ibunya di masa tuanya nanti. Dan pasti akan menyibukkan istrinya. Tahun berganti tahun, usia Leni sudah semakin menua. Sikap egois Bram sudah sangat nampak. Leni kecewa terhadap sikap Bram. Namun apalah daya.

Malam kian larut dan dingin. Leni berjalan gontai dan wajahnya menyiratkan kesedihan. Betapa tidak, anak semata wayang yang Dia sangat sayangi, Bram, akan memasukkan Leni ke panti jompo. Pasalnya, kehadiran Leni menimbulkan konflik di antara Bram, istrinya Sinta dan dua anaknya, yakni Jeni dan Joni.

Tanpa sengaja, malam itu Leni melihat studio foto. Dalam benak Leni, muncul keinginan untuk di foto, agar kelak foto itu bisa dipakai saat pemakamannya. Sang fotografer berjanji akan membuat Leni, 50 tahun lebih muda dari usianya. Tak ada yang mengira jika ucapan sang fotografer terwujud. Keluar dari studio foto, Leni berubah menjadi gadis muda berusia 20 tahun.

Dari situlah, petualangan hidup Leni dimulai. Dia mengubah penampilannya dengan dandanan unik ala perempuan bergaya klasik. Untuk menutupi identitas dirinya, Leni mengganti namanya dengan Nila, seperti nama aktris favoritnya. Sementara itu, putranya Bram mulai resah dan mencari ke mana Ibunya pergi.

Sosok Nila yang cantik tentu mencuri perhatian. Apalagi suara Nila merdu, karena dulu Nila menyimpan cita-cita untuk menjadi penyanyi. Kehadiran Nila juga membuat tiga pria jatuh hati, yaitu Joni, Aldo, dan Doni. Joni yang notabene cucu Nila malah meminta Nila menjadi vokalis bandnya. Sementara itu, sosok Aldo yang seorang produser televisi hadir, karena Dia tertarik dengan kecantikan dan suara Nila. Tak ketinggalan, ada Doni yang menyimpan cinta untuk Nila. Saat tahu Nila adalah Leni, Doni makin jatuh hati.

Hal ini tentu membuat Nila pusing. Di satu sisi, Dia tetap rindu pada kehidupannya sebagai Leni. Dia ingin hidup tenang lagi bersama Bram dan keluarganya. Akan tetapi, di sisi lain, sebagai Nila, Leni seperti meraih mimpi masa lalunya. Dia berhasil menjadi penyanyi dan menikmati masa mudanya yang bugar kembali. Bahkan, Leni kembali merasakan jatuh cinta.

Suatu hari, sebuah peristiwa terjadi. Bahwa Joni mengalami kecelakaan dan membutuhkan darah bergolongan A. Di sinilah Leni berada di persimpangan. Apakah Dia akan tetap menjadi Nila atau kembali menjadi Leni, dan pulang kepada keluarga dan hidupnya. Nila yang sama-sama bergolongan darah A dengan cucunya Joni. Sebagai Nenek, Ia merelakan hidupnya. Ia mendonorkan darah kepada Joni, dan konsekuensinya adalah Ia kembali tua dan menjadi seorang yang dikenal sebagai Leni.

Mulai saat itu, Nila berubah menjadi Leni lagi. Dan Ia kembali hidup bersama Bram dan keluarganya.

Bram mengucapkan kata maaf dan bersyukur Ibunya kembali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here