Oleh: Nardianus Virgo

“SaSaNa” Salam Sastra Anak Bangsa

Hari mulai panas. Udara semakin tak sejuk lagi dirasakan disekujur tubuhku. Sementara tujuan perjalananku masih begitu jauh. Aduh! Lumayan jauh perjalananku ini. Tapi semangat! Tetap semangat! Oh ya, aku ingat kata bijak tentang perjuangan hidup, di saat aku mengunjungi perpustakaan di sudut kota itu.

“Seseorang boleh mengalami pahit getirnya perjalanan hidup. Tetapi Dia tidak boleh berhenti dan tak boleh hilangkan impiannya.” Ya! Memang benar, untuk apa aku berhenti. Kalau aku berhenti, aku kehilangan impian. Ayo lanjutkan perjalananku.

Jalannya lika-liku, lekak-lekuk. Wah, indah benar hutan itu. Aku ingin terus menerus mengunjungi tempat ini. Kalau aku diizinkan oleh penghuninya, aku akan tinggal bersama mereka. Rupanya, mereka selalu ramah dan menari menikmati irama kehidupan. Lihat saja itu, mereka menari sampai menyentuh badan temannya. Sungguh indah dan menarik.

Kikikik… settttttttt… pispispis. Bunyi apa itu? Horeeee… burung elang begitu besar. Ini namanya Elang Jawa. Oh ya, dalam Bahasa Latin, namanya Nisaetus bartelsi.

Satwa ini memiliki keunikan pada jambulnya yang menonjol sekitar 2-4 helai dengan panjang sekitar 12 cm. Jambulnya berwarna hitam dengan ujungnya berwarna putih. Karena keunikannya, burung ini sering dikenal dengan Elang Kuncung. Namun pada umumnya, burung ini identik dengan warna cokelat. Pokoknya, indah sekali. Ingatanku selalu didominasi oleh bayangan burung Nisaetus bartelsi itu.

Jam telah menunjukan pukul 11.00 Wita, perjalananku hampir tiba. Sekitar 30 menit lagi aku menikmati kehidupan di hutan itu. Aku penuh semangat untuk menghabiskan waktu 30 menit menuju tempat tujuanku. Sebelum aku memasuki wilayah hutan yang penuh keindahan itu, aku rehat sejenak di pinggiran sungai. Aku merebahkan badanku di atas batu lempeng di pinggiran sungai. Sekitar 10 menit aku rebah, badanku terasa enak. Aku bangun dan turun dalam air. Di sini, aku gunakan waktuku sedikit untuk bermain-main dengan air.

Sejuk rasanya. Rasa lelahku telah terbayar dengan indahnya suasana yang aku rasakan. Aku duduk termenung, kembali mengingatkan masa laluku bersama dengan teman-teman bermain tempo itu. Aku ingat wajah si Pondik, kala itu Ia adalah anak yang sangat nakal. Tapi kreatif juga. Pokoknya, boleh dibilang 50:50 itu ada. Seimbang ya?

Aku bergegas dari tempat rehatku menuju wilayah hutan. Aku melihat di sana mereka hidup dengan latar belakang yang berbeda-beda. Mereka hidup dalam keragaman. Mereka tidak selalu sama, tetapi meraka sama-sama hidup. Aku heran. Mengapa mereka bisa hidup seperti ini? Apakah diantara mereka tidak ada yang merasa merugikan dan dirugikan oleh teman-temannya? Wah, hebat! Aku menemukan cara hidup baru bersama mereka di sini.

Aku pun terus melanjutkan perjalananku. Aku tak ingin melihat kehidupan mereka dari dindingnya saja, aku memberanikan diri masuk sampai ke dalam dan menyaksikan keakraban mereka. Sepanjang perjalananku, aku melihat banyak penghuni di sana. Ada ular, kelelawar, tikus, babi hutan, burung-burung yang aku tak tahu namanya. Mereka jalan-jalan dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Layaknya kehidupan manusia.

Sapaan kepada mereka aku ucapkan. “Hai, sobat-sobatku, selamat siang, apa kabar kalian? Aku datang ke sini untuk bertemu dan melihatmu.” Aku memberikan salam kepada mereka karena aku ingat pesan guruku, di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Dan pesan lain adalah masuk kandang kambing mengembik dan masuk kandang kerbau menguak. Itu aku ingat baik. Guruku baik, telah mengajarkan kami kesopanan dalam hidup.

Tibalah aku pada tujuan perjalananku. Badan lelah. Namun dengan menikmati perjalananku, aku kurang peduli dengan itu. Aku duduk menyandar di bawah sebatang pohon beringin yang tumbuh ditengah-tengah hutan. Konon, pohon beringin itu memiliki nama dalam Bahasa Latin, Ficus benyamina. Untuk mengingat nama Latin ini, aku hanya mengingat kembali nama Kakek dan Nenekku, Benya dan Mina, serta nama pamanku, Fikus. Ya, mudah sekali aku mengingatnya.

Beberapa jam setelah aku bersandar di bawah pohon beringin itu, aku terasa ngantuk. Aku tak tahan lagi dengan rasa ngantuk. Aku memilih untuk beristirahat dari pada memaksa kekuatanku. Karena aku bukan superhero. Aduh… bahaya! Ini sangat bahaya! Kalau aku terlelap dalam tidur, aku tidak tahu apa yang akan  terjadi di sini. Mungkin saja pohon ini tumbang. Mungkin saja ada ular lewat lalu menggigitku. Ah, yakin! Yakin! Tuhan besertaku. Amin. Aku memutuskan untuk tidur.

Mimpi-mimpi indah terus datang dalam bayanganku. Dalam mimpi, seperti memutarkan kembali perjalananku. Indah dan nikmat. Dalam klimaks mimipiku, aku didatangi oleh seekor binatang buas yang bernama King Cobra. Dia berkata, hei kamu penjelajah negeriku, pulanglah ke tempat asalmu. Siapa namamu? Tanya King Cobra.  Aku kaget dan takut. Bibir dan lidahku seperti direndam es, kaku dan kikuk. A.. aa.. p.. aaa…?, pintaku. A.. aa.. ku… bernama Nanduk, jawabku. Kamu tahu, di tempat ini, mereka yang menari-nari di sekelilingmu sedang dalam perdebatan. Mereka sedang mengklaim kekuatan mereka masing-masing, jelas ular. Apa maksudnya? Tanyaku.

Aku pun bangun. Dengan penuh ketakutan aku termenung dan menganalisa ucapan yang disampaikan ular tadi. Ah! Tidak mungkin! Ini sangat tidak mungkin! Kamu telah menipuku. Aku coba beralih langkah. Aku meninggalkan tempat di bawah pohon beringin itu, melangkah ke tempat yang tidak jauh dari tempat pertama. Disitu, aku mendengar suara-suara seperti sedang bertengkar. Aku bingung. Siapa lagi yang bertengkar?

Aku mencoba mendekati sumber suara itu. Aku melangkah pelan. Aku melihat pohon-pohon itu bertengkar. Tak ada satu pun yang mau mengalah. Semua ingin menjadi yang paling kuat dan paling berguna.

Pohon jati berkata, “Akulah yang paling berguna. Batangku sangat kuat. Semua orang menginginkanku. Semua orang mencariku. Batangku bisa digunakan untuk membuat rumah, meja, kursi, dan peralatan rumah tangga yang lain. Aku juga sangat mahal.”

Pohon kelapa pun menimpali, “Kamu memang kuat, tetapi sayang, hanya batangmu yang berguna. Daunmu dan cabangmu itu tidak  bisa digunakan. Bahkan, buahmu tidak bisa dimakan. Akulah yang paling berguna. Batangku sangat kuat. Daunku bisa dijadikan sapu. Buahku bisa digunakan untuk membuat minuman dan makanan. Semua bagian tubuhku berguna. Tidak ada yang lebih berguna dari aku.”

Tunggu dulu, kata pohon bambu. “Akulah pohon yang paling berguna. Meskipun aku tidak kuat, aku sering digunakan. Aku bisa digunakan untuk apa pun. Bahkan, tubuhku yang masih muda bisa dimakan. Daunku bisa digunakan untuk memasak nasi.”

Pertengkaran semakin seru. Masing-masing mereka tidak ingin dikalahkan. Tiba-tiba muncul kilat dan petir disertai hujan deras. Hujan yang turun membuat tanah ikut hanyut. Tanpa dikomando lagi, pohon-pohon itu merunduk ketakutan. Mereka takut terbawa hanyut oleh air hujan. Mereka lalu saling bersatu mencari perlindungan. Mereka bergandeng tangan menjalin persatuan agar tetap hidup.

Sang hujan pun berkata, “Hai, pohon-pohon di hutan! Mengapa kamu selalu bertengkar? Sekarang berhentilah bertengkar! Ketahuilah, kamu masing-masing diciptakan untuk tujuan khusus, unik dan berbeda satu sama lain. Jadi, tidak ada yang paling kuat dan paling berguna. Semuanya baik. Semuanya berguna. Bersatu untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Sejak saat itu, pohon-pohon di hutan berhenti bertengkar dan berhenti menyombongkan diri. Mereka mulai bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan. Mereka bergandeng tangan menjalin persatuan. Meskipun berbeda-beda, mereka tetap satu.

Benar apa kata hujan. “Meskipun berbeda-beda, mereka tetap bersatu.” Akhirnya, aku terbawa suasana oleh pesan si hujan. Dulu guruku menjelaskan, kita hidup dengan berbagai latar belakang. Namun, perbedaan itu kita satukan dalam “Bhineka Tunggal Ika”, berbeda-beda tetap satu jua.

Setelah mendengar pesan itu, aku duduk termenung. Pikiran melayang jauh, bagaikan layang-layang terbang dibawa angin kencang. Blur penglihatanku. Tapi aku tetap fokuskan pikiran dan pandanganku pada pokok masalah tadi. Aku terheran. Mereka disini punya niat menjaga alam. Aneh di kampungku. Masyarakat pada ego membunuh bebas mereka yang bediri kokoh di tempat ini.       

Apa salah mereka? Tanyaku dalam hati. Serakah dan serakahlah kamu dinegeri seberang. Kesombonganmu merusak alam ini. Keserakahanmu membunuh hidupku. Dunia mereka bukanlah musuh kita, dunia mereka hanyalah untuk mereka, bukan untuk kita. Mereka telah baik hati. Mereka telah memberikan kita nafas kehidupan.

Mereka itu telah baik memberikan kita nafas kehidupan. Angin-angin segar dihembuskan untuk kita. Air kehidupan disalurkan untuk kita. Tanpa mereka, dimanakah kita mendapatkan air? Tanpa merkea, erosi, banjir, longsor sana sini terjadi. Duka nestapa akan kita rasakan.

Bersatulah dengan alam, agar alam bersatu denganmu. Seperti kita bersatu dengan sahabat-sahabat kita. Layaknya dalam semboyan “Bhineka Tunggal Ika.”

Penulis; Guru Yayasan Bina Bangsa PT. Wilmar, Sampit – Kalimantan Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here