Oleh: Riko Raden

Di sebuah kampung, hidup seorang Nenek bernama Rudis. Ia sudah berusia tujuh puluh tahun. Suaminya sudah lama pergi meninggalkannya. Kepergian suaminya membuat Ia hidup seorang diri. Mereka dikaruniai dua orang anak. Satu laki-laki dan satunya perempuan. Mereka sudah lama hidup di tanah rantau. Sampai saat ini, mereka belum pulang ke kampung. Mereka tidak tahu keadaan Ibu mereka. Mereka merantau setelah Ayahnya meninggal dunia. Setelah mereka merantau, Ibu mereka tinggal seorang diri. Anak-anaknya di tanah rantau tak pernah pulang. Ia sangat merindukan Anaknya dan ingin sisa hidupnya hanya bersama mereka. Tapi apa daya, Anak-anaknya tidak merindukan dirinya. Mereka sedang menikmati hidup di tanah rantau. Sungguh sedih hidup Nenek Rudis. Tak ada orang yang bisa menemani, sekadar mendengar kisah-kisah masa lalu dan masa depan yang belum pasti.

Di rumah sederhana ini, Nenek Rudis tinggal seorang diri. Tetangga di samping rumahnya hanya datang sebentar saja lalu pergi. Itu pun kalau mereka ada waktu kosong pada hari minggu, kalau tidak, mereka pasti sibuk dengan hidup mereka sendiri. Nenek Rudis pun tidak banyak komentar kalau tetangga rumahnya tak mengunjunginya. Baginya, setiap orang punya waktu sendiri. Sehingga kadang dalam satu bulan, tidak ada tetangga yang datang mengunjunginya.

Di tengah kesendirian ini, Nenek Rudis tak dapat berbuat banyak. Ia tidak bisa lagi pergi ke kebun. Usianya semakin tua dan banyak hal yang dilupakan. Seperti jalan ke kebun yang dulu sering dilalui, bahkan lupa sahabat lamanya ketika muda dulu. Ia hanya menikmati suasana dalam rumah dan terus menjaga kesehatan. Ia tidak lagi berselera untuk makan apalagi minum kopi pahit. Melihat makanan di atas meja, kadang dengan sendirinya Ia merasa kenyang. Entah penyakit apa dalam tubuhnya, sehingga Ia tidak pernah lapar. Setiap hari, Ia hanya minum segelas air putih. Pernah tetangganya memberikan beras. Ia pun hanya mengucapkan terima kasih kepada mereka yang selalu memperhatikan dirinya. Tak ada kata indah yang Ia lontarkan. Ia menangis pada saat menerima pemberian dari tetangganya. Dalam hati, Ia merasa senang dan tak lupa bersyukur kepada Tuhan. Tapi, Ia simpan begitu saja beras yang diberikan tetangganya itu. Ia tidak mau masak apalagi menikmati masakannya itu. Ia tidak pernah lapar. Segelas air sudah cukup untuk mengisi kekosongan perutnya.

Pada suatu hari, Nenek Rudis, duduk santai di dalam rumahnya. Tiba-tiba, pintu rumahnya di ketuk oleh seorang pemuda. Ia kaget, lalu membuka pintu tersebut. Ia melihat, ada seorang pemuda tampan tengah berdiri di depannya. Ia mengajak pemuda itu masuk ke dalam rumahnya.

“Maaf, Nak. Rumah ini sangat kotor.” Kata Nenek Rudis.
“Tak apa-apa Nek. Aku senang berada di rumah ini.” Jawab si pemuda.
“Maaf, Nak. Kalau boleh tahu, apa tujuan datang ke sini?”
“Baik, Nek. Posisi duduk si pemuda ini lebih merapat dekat, Nenek Rudis, agar suaranya lebih jelas. “Aku dari pengurus desa di kampung ini, ingin membagi sembako untuk keluarga yang tidak mampu termasuk Nenek. Kami melihat kondisi kehidupan Nenek sungguh harus diperhatikan. Oleh karena itu, aku datang ke sini membawa sembako untuk Nenek nikmati.”
“Terima kasih Nak, karena telah membantuk Nenek.” Ia memeluk si pemuda ini sambil menangis.
“Nek, banyak-banyak istirahat. Jangan terlalu mengerjakan pekerjaan yang berat. Usia Nenek semakin tua. Nikmati saja masa usia tua Nenek dengan memberi senyum kepada mentari pagi dan bersyukur kepada Tuhan sebelum istirahat malam.” Kata si pemuda sambil memberikan sembako itu kepada Nenek Rudis.
“Iya, Nak. Aku akan menjaga kesehatan dengan baik-baik dan selalu berada dalam rumah saja. Sekali lagi terima kasih untuk kebaikanmu hari ini. Semoga Tuhan membalas semuanya.”

Tak lama kemudian, pemuda itu pergi meninggalkan Nenek Rudis. Dalam hatinya, Ia merasa terharu juga sedih melihat keadaan Nenek Rudis. Ia berusaha terus memperhatikannya. Ia berdoa, semoga ada orang baik hati membantu Nenek Rudis.

Dua bulan kemudian, si pemuda datang lagi ke rumah Nenek Rudis. Dalam perjalanan menuju rumah Nenek Rudis, Ia merasa senang karena sebentar lagi bisa bercandaria bersamanya. Begitu Ia sampai di depan pintu, Ia mengetuk pintu satu dua kali. Cukup lama Ia menunggu dibukakan pintu. Tak lama kemudian, Ia mengetuk lagi sambil memanggil nama Nenek Rudis.

“Halloo… haloooo… Nekek Rudis, tolong buka pintu.” Kata si pemuda ini dari depan pintu. Tak ada jawaban dari dalam rumah. Suasana pun semakin sepi. Tetangga rumah di sekitar rumah Nenek Rudis pun keluar dan melihat siapa yang memanggil nama Nenek Rudis.

“Maaf, Nak. Nenek Rudis, sudah lama meninggal dunia. Sekitar tiga minggu yang lalu.” Kata seorang Bapak.
“Maaf Pak, kalau boleh tahu, Nenek Rudis, meninggal dunia karena sakit apa?” Tanya si pemuda.
“Baik, Nak.” Bapak ini menjelaskan kronologi kematian Nenek Rudis. “Nenek Rudis meninggal dunia pada malam hari. Pada waktu itu, suasana dalam rumahnya sangat sepi. Tiba-tiba, kami kaget ada orang yang teriak minta tolong. Kami pun keluar dari rumah dan mendengar arah suara itu. Ternyata suara dari Nenek Rudis yang sedang sakit. Kami cepat-cepat pergi dan membantu membawanya ke rumah sakit. Namun dalam perjalanan ke rumah sakit, tiba-tiba Nenek Rudis menghembus nafas terakhirnya. Pada saat itu, kami tahu bahwa Nenek Rudis telah meninggal, tapi kami tetap membawanya ke rumah sakit. Sesampainya di sana, dokter mengatakan bahwa Nenek Rudis meninggal dunia karena sakit lambung. Selama ini, Ia kurang makan. Begitulah ceritanya, Nak.”
“Terima kasih banyak, Pak dan izinkan aku pamit.” Si pemuda pun pergi sambil menangis. Ia merasa bersalah karena tidak memperhatikan Nenek Rudis. Padahal, Ia sangat merindukan duduk bersama sambil membagi cerita dengannya. Dalam hati, Ia berdoa, semoga Tuhan melihat kebaikannya dan mengizinkan Dia masuk ke dalam Surga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here