Oleh: Melania Angelina Bahagia

“Aku terjaga dengan hati yang berdebar. Di jari manisku, sebuah cincin melingkar. Ini bukan sekadar perhiasan. Bukan hanya benda yang bisa dibeli, jika Ia hilang. Lebih dari benda mati, cincin ini adalah doa semoga kasih sayang pemiliknya tak akan pernah ada ujungnya. Aku pun sempat terkejut ketika sadar bahwa cincin ini pun adalah tanda. Tanda bahwa sebentar lagi aku akan melepaskan hidupku yang lama, kehidupan bersamamu akan menjadi penggantinya.”

Orang tua kita tidak mengizinkan kita untuk bertemu, sampai waktunya tiba. Aku juga sudah memutuskan untuk mematikan ponsel Nokia-ku ini. Sebagai gantinya suratkulah yang akan menjadi pengantar pesan penuh rindu. Aku ingin sejenak kita berhenti menghamba pada teknologi. Aku ingin menikmati kebahagiaannya ketika membuka dan membaca surat balasanmu nanti.

Semalam kita saling bertukar kabar dan cerita hingga larut. Aku tahu, kamu sekarang masih lelap di bawah selimut kesayanganmu, dengan mengenakan kaos oblong yang kuhadiakan pada hari lahirmu di tahun yang lalu. Aku selalu hafal jam tidurmu, karena kamu selalu menghadiahi ucapan selamat pagi sebagai penanda bahwa kamu sudah membuka mata.
Ketika kamu sudah membuka mata dan membaca suratku, aku ingin tahu apa yang kamu rasakan tentang kita di hari esok.

“Bahagiakah dirimu karena besok kita akan menjadi satu jiwa?. Dan banggakah dirimu memperistri seorang gadis seperti diriku ini?. Kamu masih lugu, kita masih malu-malu, untuk sekadar mengobrol lebih jauh atau meminta nomor ponsel pun lidah ini beku.”

Pertemuan pertama kita terjadi di gedung sekolah. Kita sama-sama menjadi siswa di kelas yang sama. Kita satu jurusan, aku melihatmu di pagi hari, saat jam les pertama belum dimulai.

Saat itu, aku pun sedang terpisah dari gerombolan. Aku hendak berjalan ke dalam kelas, saat lewat di depanmu, kuucapkan kata ‘permisi’ karena takut tidak sopan melewatimu yang nampak asyik berdiri di pintu ruangan kelas.

Kamu menoleh, matamu dan mataku bertemu. Ada gelombang yang tak terlihat yang saling menautkan mata kita. Mungkin hati kita juga demikian, hingga kita agak lama termangu, waktu terasa membeku. Akhirnya kamu pun membalas ucapanku dengan senyum manis yang mengembang di wajahmu, tanda sederhana bahwa aku boleh melewatimu menuju ruangan kelas.

Pertemuan pertama kita selalu terekam jelas di dalam lingkar kepalaku. Beberapa hari setelah itu pun kita makin kerap saling curi-curi pandang dalam diam, alih-alih menanyakan nama, lidah ini tetap masih beku untuk sekadar melontarkan kata ‘halo’ yang sederhana. Samapi akhirnya teman sekelas yang merupakan teman sepermainanmu mengenalkan kita. Besok kita akan menjadi raja dan ratu sehari, kita harus mengucapkan beribu terima kasih padanya yang telah berjasa.

Sayangku, ingatkah kamu ketika masa-masa awal kita menjalin hubungan?. Senyummu merupakan candu yang membuatku ingin selalu bersua denganmu setiap hari. Kamu pun begitu.

Tahun demi tahun kita lalui bersama, tiada hari tanpa senyum manis maupun genggaman tangan. Namun di dunia ini tak ada yang sempurna, begitu pula hubungan kita. Hubungan yang terjalin lama ini juga tak luput dari segala perselisihan dan pertengkaran. Kita sering beradu argumen karena kesalahpahaman.

“Pernah suatu hari kita bertengkar hebat. Tidak ada kita di hari itu, yang ada hanya aku dan kamu dengan ego yang merajai.”

Aku dan kamu sibuk dengan pikiran masing-masing, memikirkan apa yang salah dalam hubungan kita. Kita mengambil jeda dan jarak. Kita memutuskan untuk tak saling bersua untuk beberapa waktu lamanya. Namun keesokan harinya kita mulai mencari satu sama lain. Seperti biasanya, kita memang tidak sanggup berpisah dalam waktu lama. Kita pun meyakini bahwa kita ditakdirkan untuk bersama, tanpa jeda pun tanpa jarak.

Satu lagi ingatan manis yang selalu lekat dan berputar berulang-ulang di dalam lingkar kepalaku. Ingatan di malam kamu datang ke rumah untuk meminangku. Aku ingat betapa kamu terlihat gugup dan salah tingkah, namun kesungguhan nampak lekat dari raut wajahmu.

Hari-hari setelah itu kita lewati bersama.

“Aku dan kamu sama-sama tidak sabar untuk saling bertautan tangan, menapaki babak baru dalam hidup kita, yaitu pernikahan.”

Dalam hitungan hari, kita akan mengucapkan janji suci di hadapan ratusan pasang mata serta Sang Maha Pencipta. Kita akan menjadi raja dan ratu sehari dengan tak lupa mengucapkan janji sehidup semati. Saksi nikah dan keluarga akan menjadi saksi kita untuk bertukar cincin dan saling menautkan jemari.

Tentunya, kita akan menjadi satu kesatuan utuh. Di hari-hari berikutnya kamu akan menjadi orang pertama yang parasnya akan kutatap lekat saat pertama kali membuka mata. Kita akan membesarkan benih cinta bersama, darahmu dan darahku akan bersatu membentuk makhluk lucu yang akan mewarnai hari-hari kita dengan tangis dan rengek manja.

Aku akan segera berperan sebagai Ibu yang mengayomi dan kamu akan menjadi seorang Ayah yang menjadi panutan.

Aku sungguh telah siap memasuki dunia baruku bersamamu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here