Oleh: Dony Djematu

Suatu ketika di tepi bandara, kalah mentari mulai membuka tirai cerita di ufuk timur, pancaran sinarnya melelehkan banyak hasrat untuk bermimpi. Kilaunya bak tatapan permaisuri yang berjalan ditengah taman. Semua terasa begitu indah. Tapi,  ada penawar yang mampu membuatnya lebih gairah, jangan biarkan ia berlalu begitu saja. Ada segelas kopi. Mari bersetubuh dengannya untuk menyeruput larutan rasa, karena yang hitam tak selalu kotor dan yang pahit tak selalu menyedihkan. Semuanya bisa dinikmati, demikianpula hidup. Telah tersaji waktu oleh-Nya, bermimpilah sebelum engkau bangun dan kembali pada pada-Nya.

Kali ini, kopiku tersaji bukan lagi dengan rasa manis. Bukan juga dari  janji yang terurai dari bibir manis sang gadis. Di seduhi air mata yang panas hingga pahit yang dikecap pada setiap tegukan terasa begitu asing. Di ruangan tunggu bandara itu, ku duduk berteman sepi. Disamping kiri ada adiku. Sebut saja namanya Olimpi. Tak kunjung kata terucap olehnya. Maklum, antara tak sabar ingin disapa dengan julukan baru “mahasiswa” atau belum siap berada jauh dengan keluarga. Kurang lebih seperti itu rasa yang idamkannya. 

Desar-desir dan hiruk-pikuk megelabui mata. Pertama kali ke tempat ini merupakan referensi yang menjadi multitafsir tentang bandara. Pelukan dan kecupan mesrah mewarnai suasana, air matapun turut menampar wajah mereka yang datang dan pergi. Menarik untuk didalami suasananya. Eh, tapi jagan larut apalagi jatuh cinta dengan cuplikan ini. Namanya saja bandara. Bagi sebagian orang, disanalah tempat rasa beradu.

“Kita minum kopi di kantin disebrang jalan masuk itu” Demikian Olimpi mengalihkan suasana dengan suara tergesa-gesa. Setibanya disana, tanpa basa basi suara menyapa “mau pesan apa kaka?”. Ucapan tentu tidak akan mengkhianati rasa terutama bagi pecinta kopi.  “Kopi dua gelas kaka” sambung Olimpi. Tak lama kemudian, kopi diantar oleh gadis berambut keriting. Dua gelas kopipun menguping kami dalam sepi. Ketika bibir gelas yang bening kucium dengan penuh sensasi, suara SMS menjerit dari tas gendongku. Ah, rupanya kali ini belum beruntung untuk menyeruputnya. Tanganku menarik ujung tas yang terlertak ditiang meja warkop tempat kami minum itu.

Nada sms yang disetting tersendiri dengan nomor kontak lain di hape Nokia jadul membuat aku langsung merujuk pada wajah keluarga, terutama Mama. Meskipun bukanlah mama sendiri yang mengetik pesan. Entahlah, aku begitu menjiwai suara mama dalam pesan itu.

“Nana, cai nia ite ga?Asa ase? Dedi’a lako one salang agu neka hemong ngaji. Mata kole kaba mokang dite bao gula, condo agu Morin taungs dite” (Kalian sudah sampai dimana?bagaimana dengan adik? Hati-hati di jalan dan jangan lupa berdoa. Kita punya kerbau betina mati tadi pagi. Kita serahkan semuanya pada Tuhan)

Singkat, padat dan jelas pesan dari mama. Kata demi kata di eja hingga air mata membubuhi pesan itu. Sungguh na,as. Betapa tidak, dua hari sebelum Olimpi berangkat, dua ekor kerbau mati tanpa sebab. Tidak ada gejala apapun pada kerbau-kerbau itu. Ditambah lagi saat ia berangkat. Tiga ekor kerbau berturut-turut dalam tiga hari. Mimpi dan harapan terasa majal. Karena sesungguhnya kerbau-kerbau itulah yang menjadi agunan keluarga. Tidak bisa dibayangkan beban dan seberapa dalam luka yang menikam keluarga. Begitu kejam! Mama benar, Serahkan semuanya pada Tuhan, katanya saat ditelepon mengakhiri obrolan saat itu. Anggap saja ini tantangan bagi keluarga. Memperkuat apa yang di katakan dokter hewan saat berkaca dari bidangnya.

Olimpi yang tampak kaku, terlihat segelas kopi tak mampu dihabiskannya. Dari sudut warung sorakan lagu melankolis terdengar mengusik hati. Tak cukup kata melukiskan kepedihan hati. Setelah sejam lamanya, pemberitahuan yang digemakan melalui pengeras suara di bandara itu kembali memanggil passengers. Aku dan Olimpipun bergegas menghampiri.

Ketika hendak pulang, aku yang dituakan karena ketiadaan ayah membekalinya dengan sejumlah petua. Dalam diam iapun memeluk aku dengan lekap. Ya, mungkin tidaklah salah seperti yang disampaikan oleh Jeffrey Gitomer penulis Amerika itu bahwa “Obstacles cannot stop you. Problems cannot stop you. Other people cannot stop you. Only you can stop you”.(Hambatan tidak bisa menghentikan anda. Masalah tidak bisa menghentikan anda. Oranglain tidak bisa menghentikan anda. Hanya anda yang bisa menghentikan anda). Teruslah melangkah dalam meraih impianmu. Salam sukses untukmu Olimpi. Sayonara…

Warga Manggarai Timur, Tinggal di Borong

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here