Oleh: Melania Angelina Bahagia

Ia tersadar dan Ia sungguh ketakutan. Ia mendengar suara memanggilnya dari arah pintu kamarnya. Ia berani bergegas ke arah pintu kamar dan membukanya. Ketika Ia membuka pintu, ternyata di balik pintu itu hanyalah bayangan anaknya yang telah meninggal satu tahun yang lalu. Mereka saling menatap, seakan itu fisik dari anaknya. Tetapi tak sekata pun terucap. Setelah lama saling menatap, bayangan itu pun hilang. Hujan air mata menemaninya. Ia hampir pingsan di tempat Ia berdiri.

Kehadiran bayangan anaknya tak sanggup membayar kehilangannya. Kesedihan itu tak pernah pergi meninggalkannya. Rasa kehilangan itu semakin menyiksa batinnya. Ia mencoba untuk bangkit kembali dan memberikan keyakinan pada dirinya sendiri, bahwa jasad anaknya memang ada di luar sana, tapi hati dan jiwanya ada di hatinya.

“Bukankah orang baik tidak pernah mati, Nak? Mereka hanya meninggalkan jasad, tetapi kebaikan hati akan selalu bersama orang-orang yang mencintai dan dicintainya, bukan? Dan itu yang kurasakan saat ini. Kamu tetap hidup di hatiku, dan selalu menemani dan mendampingimu. Meski Aku tak bisa lagi melihat kehadiran fisikmu secara nyata di sampingku. Namun kadang Aku benar-benar berharap masih bisa memelukmu Nak.

”Tahukah kamu Nak, bahwa Aku tidak siap ditinggalkanmu? Aku hanya selalu ingin menunjukkan ketegaranku di hadapan semua orang, agar mereka tidak mengkhawatirkanku. Sejatinya Aku teramat kehilanganmu.”

Kepergian anaknya merupakan kehilangan yang begitu berat baginya. Apalagi saat Natal pertama tanpa kehadiran anaknya di tahun lalu. Saat itu, Ia bahkan tak bisa berhenti menangis. Entahlah, rasanya masih tak percaya bahwa anaknya sudah tiada. Bahwa anaknya sudah benar-benar meninggal dunia, benar-benar meninggalkannya, meninggalkan Ayahnya, dan meninggalkan semua orang. Ia berpikir tentu anaknya tahu kebiasaan mereka di setiap Natal, yaitu salaman. Ia salaman dengan suaminya, anaknya salaman dengannya dan dengan suaminya.

Tapi, saat itu, sepulang sembayang, begitu Ia membuka pintu, air mata kembali menetes. Ia tak sanggup lagi menahan lebih lama. Ia pun tak sanggup berkata-kata. Hingga cukup lama Ia berusaha menata perasaannya dan mencoba menerima bahwa anaknya telah pergi untuk selamanya. Tapi saat masuk acara salaman, tangis itu kembali pecah. Lama baru Ia menguasai emosi dalam dada. Tapi saat itu bukan hanya Ia yang menangis, suami dan keluarganya yang lain pun ikut menangis karena kehilangan anaknya. Saat itu Ia dan suaminya menikmati Natal dengan menangis.

Mereka saling menguatkan saat menyadarinya kembali, bahwa mereka tidak lagi memiliki anak mereka. Mereka tidak lagi bersamanya seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka meyakinkan bahwa kepergian anak itu membuatnya lebih dekat dengan Tuhan.

Kalimat ini yang membuat Ia dan suaminya semakin tegar menghadapi situasi ini, “Hai maut, dimanakah kemenanganmu? Hai maut, dimanakah sengatmu? Kami bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kemenangan kepada kami melalui Tuhan kami, Yesus Kristus”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here