Oleh: Stefan Bandar

Mentari kini beranjak ke barat. Langit yang membiru mulai menguning. Cahaya mentari yang sedari tadi benderang kini mulai redup. Sebentar lagi matahari itu menyentuh bibir pantai dan langit akan kembali gelap. Angin malam perlahan berhembus menggoyangkan dedaunan yang masih bercokol pada ranting-ranting kayu. Beberapa helai berjatuhan tanpa bersorak. Akh, benar. Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin.

Aku baru saja selesai menyelimuti tubuhku dengan gaun merah yang kubeli beberapa hari yang lalu. Aku suka warnah merah sebab bagiku merah itu melambangkan keberanian dan kegembiraan. Ya, aku memang harus menjadi wanita kuat meskipun kadang perjuangan tak selalu berhasil. Aku harus menjadi wanita ceriah meski kadang duka dan luka harus kutelan dalam kebisuan.

“Arkhelia, ayo kita berangkat,” tiba-tiba saja sebuah suara datang dari luar rumah. Aku segera keluar. Suara itu tidak asing lagi bagiku. Dia adalah Riany, sahabat karibku. “Kamu sendiri, Ny?” Tanyaku penasaran ketika melihatnya berdiri sendiri. “Iya,” jawabnya singkat. “ Ayo kita jalan,” katanya lagi.

Riany adalah gadis desa yang pandai sembunyikan luka. Dia juga adalah sahabatku yang selalu bersamaku hampir setiap hari. Setiap kali kami selesai kerja, kami selalu menyisahkan waktu untuk sekedar bercanda. Aku sering mengajaknya tidur di rumahku, demikianpun sebaliknya. Tidak ada hal yang ia sembunyikan dariku. Bahkan ketika ia menyukai seorang laki-laki, ia pertama-tama meminta nasihatku bahkan meminta penilaianku terhadap laki-laki yang ia suka.

Pernah satu kali seorang pria datang melamarnya. Tampangnya cukup bagus dan pekerjaannya menjanjikan. Namun lagi-lagi ia meminta pendapatku tentang hal itu. Dan sebagai sahabatnya, aku hanya mengingatkannya agar ia terlebih dahulu menikmati masa mudanya. Tidak lama setelah itu, ia menolak si pria dengan alasan bahwa ia belum siap untuk hidup berkeluarga. Ya, jika dihitung-hitung umur Riany saat itu masih 19 tahun, dua tahun di atas umurku.

“Ny, jika harus meminta satu hal, kira-kira hal apa yang akan kamu minta?” tanyaku dalam perjalanan. “Aku hanya ingin hidup lebih lama lagi,” jawabnya singkat. “Akh, semua orang juga seperti itu. Yang lainnya, yang lebih romantis,” pintahku lagi. “Hem, ayo cepat, nanti kita terlambat,” katanya sembari tidak menghiraukan pertanyaanku.

Biasanya sejam atau bahkan dua jam sebelum mulai perayaan ekaristi sudah banyak orang yang ada di gereja. Namun kali ini berbeda. Tidak ada satupun orang yang duduk atau sekedar berdiri di luar gereja. Akh, mungkin semua orang masih mempersiapkan diri menyambut pesta natal.
Kami masuk ke dalam gedung yang telah dihias itu dengan begitu indah. Lampu-lampu yang di pasang pada pohon-pohon natal sudah menyala. Kandang natal yang ada di pojok kiri juga telah dihiasi dengan beberapa helai daun dan juga diterangi dengan beberapa lampu natal. Bintang-bintang kecil bergantungan di mana-mana.

“Ny, bagaimana hubungan kamu sama Deny? Aku dengar kemarin ia datang melamar kamu,” kataku memecahkan keheningan yang menguasa ruangan besar itu. “Oh, yang itu. Sudahlah, jangan dibahas lagi,” katanya sambil menatap lampu natal yang terus berkedip.

Keheningan kembali menguasai kami. Aku tidak bertanya lagi prihal cowok yang melamarnya kemarin. Mungkin ada sesuatu yang terjadi dan ia tidak ingin menceritakannya kepadaku. Tapi aku yakin bahwa Riany adalah sosok gadis kuat, tidak pernah menyerah pada masalah apapun.

“Arkh, aku ke toilet dulu ya,” katanya lalu pergi.

Kali ini keheningan menguasaiku seorang diri. Tapi jauh lebih dalam, aku memikirkan kejadian antara Riany dan cowok yang datang melamarnya kemarin. Soalnya, baru pertama kali ia tidak menceritakan masalahnya kepadaku.

“Dik, kamu lagi nunggu misa mulai?” tiba-tiba suara itu membangunkan aku dari lamunanku. Aku menoleh ke samping dan kudapati seorang wanita tua menatapku dengan tatapan penuh tanya. “Nak, kamu sendirian di sini?” tanyanya lagi.

“Iya, nek. Dari tadi kog tidak ada orang di sini. Memangnya misa mulai jam berapa, nek?” tanyaku penasaran.

Untuk beberapa saat keheningan kembali menguasai kami. Si nenek yang berdiri kaku di hadapanku menatapku tajam. Aku sedikit usik dengan tatapannya, tatapan yang sedikit asing bagiku. Namun tiba-tiba saja matanya mulai berkaca. Perlahan air matanya jatuh. Ia rebahkan dirinya pada bangku yang ada di depanku.

“Apa,,, apakah kamu tidak tahu apa yang sedang terjadi, nak?” tanyanya dengan nada tersendak. “Memangnya apa yang sedang terjadi, nek?” tanyaku penasaran ketika melihat wanita tua itu menangis terseduh.

“Riany sahabatmu itu telah,, telah,,” katanya dengan nada tertahan. Tangisannya pun pecah di dalam ruangan gereja, di antara cahaya lampu natal.

“Kenapa dengan Riany, nek? Perasaan Riany barusan keluar dari sini. Katanya pergi ke toilet. Mungkin sebentar lagi dia datang,” kataku. Wanita tua itu tiba-tiba diam. Tidak ada suara isak tangis yang keluar dari mulutnya untu sesaat. Ia kembali menatapku tajam.

“Apakah kamu tidak tahu apa yang sedang terjadi? Riany sahabat kamu itu telah pergi. Dia telah meninggal tadi sore,” kata wanita tua itu.

“Apa? Bagaimana mungkin itu terjadi nek, barusan Riany keluar dari tempat ini,” kataku tidak percaya. Bagaimana mungkin aku percaya sementara beberapa menit yang lalu kami masih asyik bercerita. Akh, mungkin si nenek sedang bercerita atau mungkin dia sedang berbohong.

“Benar nak, sore tadi dia dibawa ke rumah sakit. Namun sebelum sampai ke rumah sakit, ia menghembuskan nafas terakhir di dalam mobil. Darah keluar dari mulut dan hidungnya. Sepertinya penyakit yang dideritanya selama ini sudah tak mampu ditahannya lagi,” kata si nenek dengan nada tertahan lalu tiba-tiba menangis. Tangisanku pun pecah. Serentak aku berdiri dan berlari menuju rumah Riany dengan mata berkaca.

Akh, Riany. Salam natal untukmu di keabadian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here