Oleh: Mita Barung

Hujan belum berhenti, langit pun tertutup kabut hitam dan mentari pun sudah tak kelihatan lagi. Angin sepoi-sepoi berhembus menusuk kulit. Sesekali guntur menggelegar dan cahaya kilat menerangi langit di senja itu. Betul-betul senja yang tak bersahabat.

Di ruangan berdinding bambu dan beralaskan tanah. Aku, Mama, dan kedua Adik, duduk melingkari tungku yang sedang menyala, dengan ditemani kopi hitam dan sepiring ubi yang Mama rebus beberapa saat lalu. Ada kegembiraan dan kebersamaan yang tercipta di sana. Aku menyukai dan sangat menikmatinya.

Ada senyuman dan tawa bahagia yang hadir di tengah-tengah keluarga kami di senja itu. Derasnya hujan dan tak bersahabatnya senja, tak melunturkan kebahagiaan di antara keluarga kecil kami. Apalagi, Mama! Tawa dan senyumannya begitu tulus, semakin menambah kecantikan hatinya. Walaupun rambutnya mulai beruban dan kulitnya dipenuhi keriput-keriput halus. Bahagia begitu terpancar dari wajahnya.

Menjadi kebiasaan di keluarga, bila senja pertanda malam tiba, kami duduk melingkari tungku. Bagi kami, itu adalah cara terbaik mempererat rasa kekeluargaan dan kebersamaan. Untuk bisa saling berbagi cerita, setelah seharian penuh melaksanakan kegiatan masing-masing.

Enu… satu bulan lagi Enu akan ke kota untuk kuliah. Sampai di sana, jangan terlalu khawatir dengan kami bertiga. Jangan terlalu khawatir juga tentang biaya kuliah dan biaya kost. Enu cukup pikir kuliah dengan belajar saja. Ingat juga supaya belajar yang rajin agar cepat selesai,” Mama, tiba-tiba membuka percakapan dan menasihatiku. Aku yang sedang menyeruput kopi, mengalihkan wajahku pada Mama yang duduk tepat di sampingku. Aku dan kedua Adikku hanya bisa terdiam mendengar kalimat yang Mama ucapkan.

Kupandangi wajahnya, mencoba menyelam ke dalam kedua bola matanya, hanya untuk mencari tahu apa gerangan yang mempengaruhi Mama untuk menguliahkanku ke kota. Setahun yang lalu, sudah pernah kukatakan pada Mama, bahwa aku tak akan melanjutkan kuliah. Aku ingin membantunya mencari nafkah dan membiayai kedua Adikku yang sekarang berada di bangku Menengah Pertama dan Menengah Atas. Karena, sejak dua tahun setelah Bapa meninggal, Mama yang menggantikan Beliau menjadi kepala keluarga sekaligus tulang punggung keluarga. Dan aku, sebagai anak tertua, menjadi sangat terbebani dengan hal itu.

“Mama e, bagaimana kalau aku tidak perlu kuliah, biar pergi cari kerja saja di sana. Itu hari aku sudah pernah bilang, aku ingin bantu Mama cari uang. Cukup Berto dengan Ita saja yang lanjut sekolah. Tidak apa-apa kalau aku tidak kuliah. Sekarang biaya kuliah mahal, Mama, belum lagi biaya kost dan biaya kehidupan sehari-hari,” aku menanggapi ucapan Mama.

“Jangan, Enu. Biar Mama saja yang cari uang. Berto juga sekarang sudah bisa bantu Mama kerja. Beberapa ekor babi di kandang juga bisa kita jual untuk biaya kuliah Enu di sana. Mama juga bisa jadi tenaga harian di kebun atau sawah orang. Apalagi bayaran tenaga harian sekarang itu lumayan besar. Untuk petik kopi saja bayarannya Rp 30.000 – Rp 50.000, belum lagi musim panen sudah dekat, Mama bisa pergi harian di orang punya sawah. Jadi, Enu, jangan terlalu khawatir. Mama hanya mau, Mama punya Anak semuanya bisa sekolah, semuanya bisa sarjana. Dan kalau masih sanggup bisa lebih dari itu. Yang penting tidak boleh ada yang hanya sampai tamat SD dengan SMP seperti kalian punya Bapa dan Mama,” Mama, mencoba meyakinkanku.

Aku tertunduk diam. Bukannya aku tidak mau kuliah, tapi tidak tega lihat Mama bekerja sendiri menghidupi kami bertiga. Aku tidak tega lihat Mama seharian kerja tanpa istirahat, mengeluh kecapean ketika sendiri di dalam kamar, pura-pura kuat dan tegar di depan kami hanya agar kami tidak terlalu khawatir terhadapnya. Belum lagi kalau sudah jadi tenaga harian di ladang milik orang. Yang pasti, aku tidak tega dan tidak ingin lihat Mama menderita sendiri hanya untuk bisa membuat kami bahagia.

Mama terlalu keras kepala kalau berhubungan dengan pendidikan Anaknya. Mama punya prinsip, Anak-anaknya harus lebih hebat dari kedua orang tuanya. Apa pun dan bagaimana pun caranya, Mama akan berusaha semampunya membuat Anak-anaknya berhasil. Tidak peduli apa kata dan komentar orang tentang keluarga kami atau tentang keadaan keluarga kami yang hidup pas-pasan.


Berbicara tentang orang-orang di kampung, kadang aku merasa jengkel dan tidak terlalu menyukai mereka, terutama Mama-mama yang kerjanya hanya sibuk gosip sana-sini. Pernah suatu waktu, seorang tentangga yang Anaknya kuliah di kota besar, tidak tahu di kampus mana, bertanya padaku…

Enu e, kau nanti mau lanjut kuliah di mana?”
“Saya rencana tidak kuliah tanta,” jawabku singkat.
“Oh, saya pikir kau mau lanjut kuliah”.
“Memangnya kenapa kalau saya lanjut kuliah, tanta?”.
“Tidak kenapa-kenapa juga, Enu. Hanya kaget saja kalau nanti Enu bisa kuliah,” jawabnya dengan nada sedikit mengejek.
“He he he,” aku tertawa sinis.

Jawaban terakhirnya membuat hati terluka. “Apa yang buat kaget kalau aku kuliah. Kau pikir hanya kau punya Anak saja yang bisa kuliah, kau pikir hanya kau punya keluarga yang bisa ongkos Anak sampai sarjana. Kau pikir… kau pikir… kau pikir… Sial!!!”, aku mengumpat dan memakinya dalam hati.

Aku menceritakan kejadian itu ke Mama. Mama hanya tersenyum dan berkata padaku, “Enu, jangan terlalu peduli dengan omongan orang. Jangan terlalu simpan di hati mereka berbicara begitu. Mereka hanya tidak suka dengan kita, mereka tidak ingin lihat kalian bertiga berhasil, mereka tidak ingin lihat kita punya keluarga bahagia. Mungkin mereka merasa dengan keadaan keluarga kita yang seperti ini, hal yang seperti itu akan sangat mustahil. Jangan terlalu peduli. Cukup buktikan pada mereka bahwa kalian bisa. Kita bisa seperti mereka”.

Jujur, aku tidak bisa melakukan seperti yang Mama katakan, untuk jarang mempedulikan apa yang mereka katakan. Menjadi hal yang sangat aku benci ketika ada orang yang menganggap rendah keluarga kami. Karena bagiku ketika mereka melalukan itu, sama halnya mereka telah menganggap remeh seseorang yang paling aku hormati dalam hidup, yaitu Mama. Tetapi demi Mama, aku akan mencoba untuk bersabar dan mengikuti apa yang Mama katakan. Walaupun bertentangan dengan apa yang ada dalam pikiranku.

Aku berjanji, suatu hari nanti, entah kapan, aku akan buktikan bahwa keluargaku akan menjadi keluarga yang tidak dianggap remeh lagi oleh mereka. Aku akan membuat mereka berdecak kagum melihat keluargaku. Aku akan buktikan, bahwa Anak-anak, Mama, bisa seperti Anak-anak mereka, bahkan lebih baik dari itu.


“Hey, enu! Ada pikir apa?”, Mama menepuk pahaku, mengagetkan dan membuyarkan lamunanku.
“Eehh!! Ma… Mama, ada apa?”.
“Dari tadi Mama ada omong dengan Enu. Tapi Enu hanya diam saja”.
“Tidak Mama! Saya tidak pikir apa-apa!”, saya berusaha membohongi Mama.

Sepertinya saya sudah tahu, kenapa Mama memaksa saya untuk kuliah. Selain agar tingkatan pendidikan bisa lebih tinggi dari Bapa dan Mama, juga untuk bisa mengangkat derajat keluarga di mata orang yang sering menganggap remeh keluarga kami.

“Pokoknya, Enu, harus kuliah, apapun yang terjadi. Selama setahun ini, Mama sudah puas lihat Enu bantu Mama. Enu, lihat Enu punya teman-teman yang sudah kuliah dari tahun lalu. Mereka sering tanya, Enu kapan kuliah. Mama, tidak mau dengar, Enu, jawab tidak kuliah dan mau bantu Mama saja”.

Aku terdiam sesaat dan kemudian tersenyum, ”Baik sudah Mama, kalau Mama mau begitu saya akan kuliah. Saya janji, saya kuliah baik-baik di sana. Saya akan berusaha buat Mama bangga. Saya akan berusaha jadi contoh yang baik untuk Berto dan Ita”.

Mama tersenyum, ada butiran bening yang keluar dari kedua sudut matanya. “Ingat e Enu, jangan buat Mama kecewa. Mama tidak mau dengar ada kejadian yang buat Mama kecewa yang Enu lakukan di sana. Jaga Enu punya diri baik-baik, jangan sembarang buat ini, buat itu. Mama hanya mau, Mama punya Anak pergi baik-baik dan pulang juga baik-baik. Apalagi Enu anak perempuan, jangan ikut orang. Kasih tunjuk yang baik untuk Enu punya Adik”.

Aku mengangguk. Masih sebulan lagi keberangkatanku ke kota, tapi Mama sudah banyak memberi nasihat. Bahkan, Mama sudah menangis duluan. Membuatku semakin bangga dan bersyukur memiliki, Mama, yang sesabar dan sebaik ini. Bagiku, Mama, adalah segalanya, sosok terbaik yang rela menderita menanggung banyak beban hanya untuk kebahagiaan Anak-anaknya. Mama akan selalu menjadi yang terbaik dalam hatiku, di mana pun dan sampai kapan pun.

Tak terasa senja mulai berganti malam, namun hujan belum berhenti. Guntur pun masih menggelegar memekakkan telinga. Sedangkan Mama, aku, dan kedua Adikku, masih tetap menghangatkan diri di dekat tungku menghabiskan ubi dan kopi yang hanya tinggal sedikit.

Aku tak tahu, kapan kebersamaan dan kebahagiaan ini akan tercipta lagi, bila aku ke kota sebulan yang akan datang. Aku akan sangat merindukan kenangan ini. Aku yakin itu!

(Ada kehangatan dan cinta abadi yang akan dibawa sampai mati, selalu diberikan oleh Dia, yang menyematkan namaku dalam doanya dan yang selalu mengurai airmata untukku. K.L)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here