Oleh: AK

Buatmu “mata sipit”. Izinkanlah aku menyapamu. Sapaan penuh akrab. Kamu suka kan? Aku pernah sampaikan padamu tentang sapaan itu. Kamu tidak keberatan. Aku menyapamu mata sipit, setiap kita berjumpa. Meski via WhatsApp.

Aku tahu. Mungkin berlebihan. Karena ini semua hanya mimpi. Mimpi di atas mimpi karena belum tentu jadi kenyataan.

Kadang galau menghimpit, seraya mendesakku untuk mengatakannya. Karena aku benar-benar mencintaimu, meski kamu mengabaikannya. Bahkan masa bodoh. Aku berusaha untuk tegar mengatakan, tetapi kamu mengabaikannya.

Aku mulai belajar. Betapa mahal cinta ini. Aku harus iklas bahwa mata sipit itu bukan untukku. Aku sadar, aku bukan orang yang tepat buatmu. Izinkanlah aku memeluk rasa ini dalam cintaku yang tak tergapai. Karena aku sungguh menginginkannya. Menginginkan agar pendar hati ini berlabuh dalam beningnya cintamu.

Jujur aku mencintaimu. Aku sayang padamu. Aku mencintaimu apa adanya, bukan karena ada apanya. Karena itu, aku tetap berusaha. Tidak akan berhenti membiarkan rasa ini tetap berharap padamu.

Aku berjuang dan terus berjuang untuk meyakinkanmu. Kadang aku lelah, bagaimana cara meyakinkanmu. Mungkin kamu telah memiliki seseorang sehingga kamu singkirkan aku.

Aku sadar. Mereka lebih pantas memilikimu. Aku harus terima, tersingkir dari cintamu. Karena memang aku tidak cukup cakap meyakinkanmu.

Di sini, di tempat ini, aku terpekur dalam kesendirian. Sedih, tentunya. Tetapi apa mau di kata. Aku bergelayut dan benar kata bijak bestari. Setiap pria punya keinginan, tetapi wanita punya cara. Aku sedih. Tetapi mau bilang apa. Sebatas cinta karena kamu lebih memilih yang lain. Kasih ini tak pupus untukmu, walau kamu sudah memiliki pilihan. Tak kuasa aku melupakanmu. Aku tak sanggup. Raga ini terbatas. Jiwa ini tetap memberontak.

Aku bergulat dalam kesendirian. Menguak tanya, apakah arti semuanya ini? Terkadang aku diam dan meratapi apa yang sedang berjalan. Itu karena aku mulai kecewa dengan keadaan cintaku ini yang begitu rumit. Aku tak kuasa mengerti semuanya ini. Apakah kamu punya hati? Jika masih, seharusnya kamu pikirkan bagaimana perasaanku saat ini.

Aku tidak pernah memaksamu untuk mencintaiku saat ini. Tetapi satu keyakinanku, suatu saat nanti, kau akan menyadari seberapa besarnya aku mencintaimu. Di saat ini, aku tak berharap engkau ada di sini untukku. Aku hanya berharap kau tau aku di sini selalu merindukanmu.

Di saat kau pergi aku akan menjauh, dan jangan pernah berpikir aku akan membencimu. Karena sesungguhnya, aku tahu kebahagiaanmu bukan untukku. Biarkanlah rasa ini tetap untukmu. Bilamana kamu diasingkan dan dijauhi semua orang, carilah aku. Karena aku akan selalu ada untukmu.

Jika aku boleh memilih, aku lebih memilih untuk tidak mengenal kamu dari pada harus melupakan kamu, karena itu sangat sulit bagiku. Di hatiku selalu terukir wajahmu, cinta rindu berpadu jadi satu. Selalu menguak harap, “masih adakah aku di hatimu?”

Mungkin aku ditakdirkan buta untuk melihat wanita-wanita lain selain dirimu. Tapi aku rela untuk itu agar bisa melihat senyummu. Berharap bisa memilikimu. Tapi, Entahlah…

Mencintaimu adalah ketersiksaan. Berharap padamu yang sudah tidak peduli padaku adalah sebuah penantian panjang yang sia-sia. Memikirkan kamu adalah doaku. Meski kini kamu tidak lagi mengerti perasaanku. Mungkin aku pongah, tetapi jujur, melupakanmu adalah pekerjaan yang teramat sulit.

Satu hal yang pasti, adalah “rasa sayangku untukmu”. Kalau aku cuek, itu karena aku kecewa dengan keegoanmu. Tapi, jujur tidak ada rasa benci sekali pun, jauh dari lubuk hati, aku selalu memperhatikanmu. Aku selalu ingin tahu tentangmu.

Aku belum kehilangan konsep tentang kehidupanku, sehingga membuat aku bercermin pada diri ini. Itu semua karena hatiku adalah korban dari keegoisan cinta. Namun alasan aku masih bernafas sampai saat ini, karena di setiap nafasku aku selalu menyelami doa untukmu.

Aku belajar untuk tidak mendapatkanmu sekarang, karena aku mau menunggu sampai aku benar-benar jadi yang terbaik untukmu. Karena aku yakin semua akan indah pada waktunya.

Jika kau tidak membalas pesan WhatsApp dariku, aku mengerti. Jika kau masih terus mengabaikan aku, aku akan tetap mengerti kamu. Dan jika suatu hari nanti aku berhenti mencintaimu, itu giliranmu untuk mengerti.

Hari ini, mungkin aku mencintaimu, tapi mungkin besok takkan ada lagi cinta untukmu, dan mungkin besok kamu akan lebih mencintaiku ketika aku benar-benar telah pergi. Jangan pernah sia-siakan cinta yang selama ini mengisi hatimu.

Tak ada manusia yang tak punya masalah. Jika aku terlihat selalu bahagia, itu karena aku mampu menyembunyikan luka dan tangis. Sabar itu menyakitkan, diam itu menyiksa, berbicara pun percuma.

Menyayangi kamu, apakah harus sesakit ini. Aku selalu berpikir apa pun yang terjadi dalam hidupku, Tuhan tetap baik untukku.

Jika saja kehadiran cinta sekadar untuk mengecewakan, lebih baik cinta itu tak pernah ada untukku. Karena bagaimana pun kokohnya sebuah batu, jika terus terkikis pasti akan hancur. Bagaimana besarnya rasa sayang pun, jika terus kau abaikan pasti akan hilang.

Jika suatu saat aku sudah tidak lagi menghubungimu, itu karena aku sudah kecewa. Aku hanya belajar hidup tanpamu, sebab yang aku tahu kau bukan milikku.

Sekarang, aku sadari, bahwa selama ini orang yang aku sayangi dengan setulus hati, belum tentu Dia juga menyayangiku dengan tulus seperti aku menyayanginya.

Sekarang tugasku belum lah selesai. Kuserahkanmu pada Dia yang lebih mengerti dan mampu membuatmu bahagia. Kuatkan aku yang hanya ingin bisa melihatmu bahagia meski tanpa aku.

Sudah ku coba mengerti, tetapi tetap saja hati ini diterlantarkan. Jujur, aku tak sanggup lagi dengan semua ini. Mungkin sebaiknya aku tidak terlalu berharap sehingga tidak terlalu kecewa seperti sekarang ini. Karena cinta bagaikan mengupas bawang, di saat kita berusaha menguliti untuk mendapatkan bagian terbaiknya, terkadang kita harus mengeluarkan air mata.

Bukan cinta ini yang memudar, tapi kau yang membuatku terbiasa tanpa perhatianmu. Kau yang membuat aku terbiasa tanpa dirimu. Kau yang membuat aku seakan tak dibutuhkan dan kau pula yang membuat aku seakan tak berarti di matamu. Bukan maksud hati ini berhenti tuk berjuang, meski sebenarnya sudah selesai.

Jika kamu tak yakin pada hatimu, jangan beri harapan lebih padaku yang tulus mencintaimu. Kamu boleh saja mengabaikanku, tapi akan menyiksa dirimu sendiri. Mengapa? Saat ini bolehlah aku mencintaimu walau kau belum pahami. Tapi suatu saat ketika aku sudah jenuh menunggu tanggapan darimu, aku akan pergi mencari dan mencari yang lain lagi. Dan setelah itu, kau baru sadar kalau kau mencintaiku.

Begitu indahnya hari-hari yang kulalui, namun tak seperti indahnya hati ini. Indahnya bintang-bintang di langit yang menghiasi malam, tapi tak juga seindah batin ini. Bulan yang menerangi gelapnya bumi juga tak mampu menerangi batinku yang terlanjur kelam di hatimu.

Kulapangkan dada ini meski aku tak mampu. Aku selalu berusaha tersenyum. Selalu terlihat ceria, meski dibalik itu, sesungguhnya hatiku sangat rapuh.

Bibirku tak mampu berucap tiga kata ini, “aku cinta kamu”. Bagiku, kau terlalu sempurna untukku. Mencintaimu adalah anugerah terindah dalam sejarah hidupku. Aku hanyalah insan biasa yang bermimpi akan cinta, berkhayal akan bahagia mendapatkanmu.

Aku tak punya harta namun ingin dicintai, aku tak punya tahta tapi ingin bahagia. Bagiku mencintaimu sudah cukup karena cinta tak harus memiliki.

Aku mencintaimu di setiap detak jantung dan hembusan nafasku. Mencintaimu satu detik aku bisa, namun untuk melupakanmu aku butuh waktu panjang. Aku tak bersedih karena telah kau abaikan aku. Aku tahu, itu hakmu. Tapi, aku tak akan menangis lagi.

Aku sadar, di sekelilingku banyak hati tulus yang mengharapkan cinta dariku. Namun sejujurnya, aku tetap tak akan pernah bisa berpaling sedikit pun darimu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here