Semua keraguan, pasti ada alasan. Segala yang selama ini rahasia, butuh waktu untuk memahaminya. Itu semua tidak membuat aku menyerah. Meski hingga kini, aku tahu kamu belum menjadi milikku.

Aku belajar banyak bagaimana memulainya. Dan belajar banyak pula bagaimana melepaskannya. Karena aku yakin selama pengembaraan di alam buana raya ini, harus ada yang dilepaskan untuk kelak dipertemukan kembali. Itu keyakinan hati kecilku.

Apa yang terpendam, rasanya berdosa bila tidak mengatakannya. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku layak untuk kamu cintai. Apakah itu berlebihan? Tentu tidak. Aku yakin kita memiliki rasa yang sama. Yang terbatas pada kita, bagaimana cara memulai dan bagaimana cara mengatakannya.

Meski keinginanku untuk memiliki, tetaplah menjadi imajinasi semata. Izinkan aku untuk mengingatmu selamanya. Mengenangmu dalam lembar kehidupanku.

Mengapa…?
Mengapa…?

Itulah pertanyaan yang selalu muncul dalam benakku ketika tahu bahwa rasa ini hanya terlantar begitu saja. Mungkin aku salah karena menjadi lelaki pengecut untuk mendekat dan mengatakannya.

Aku sadar, jangankan mendekati, menyapa pun butuh keberanian yang luar biasa. Dan itu tidak aku punyai, meski ada seharus dan sebenarnya. Ketika niatku bulat untuk mengatakan, malah aku jadi gemetar. Bahkan sekadar tegur sapa, raga ini terasa kaku. Aku menginginkan, tapi seperti kasih yang tak sampa. Izinkan aku menyapamu dan menyebut nama. Walau untuk itu detak jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya.

Aku sadar, baru kali ini aku merasakan takut mendekati seseorang, sosok yang sederhana tetapi begitu istimewa di mataku.

Sayangnya, aku tidak gentle mendekatimu, mungkin karena aku telah benar-benar jatuh cinta denganmu. Tapi mengapa? Logiska rasaku ini? Aku baru mengenalmu, tapi tiba-tiba jatuh cinta. Bahkan sungguh jatuh cinta denganmu.

Kadang, sekadar mencari kesibukan, tetapi gelora hati ini tak mampu menghalau semuanya. Aku berusaha mencari alasan dan menciptakan alasan untuk menjawab pertanyaan “mengapa aku bisa jatuh cinta denganmu tanpa tahu siapa kau sebenarnya?” Hanya nama dan wajahnya yang kutahu.

Sekian lama bergelut dengan logikaku sendiri, aku masih tak mampu menjelaskan secara pasti alasan rasaku ini.

Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi, walaupun rasa ini masih kental kurasakan.

Mungkin hati punya logikanya sendiri, yang terkadang tidak akan dimengerti nalar sehat. Mungkin itulah alasan mengapa sering menganggap cinta itu bodoh dan buta.

Aku berusaha memahami ungkapan itu. Harapannya, aku sadar bahwa tak ada jawaban logis yang bisa menjelaskan alasan mengapa aku bisa jatuh cinta dengannya, tanpa tahu siapa dan bagaimana Dia. Karena memang yang bermain sekarang adalah logika hatiku. Ya… logika hati hanya bisa dipahami dan dimengerti oleh hatiku sendiri. Nalar tidak bisa memahaminya. Terlebih lagi orang lain. Bahkan, mungkin Dia pun tak mengerti alasan mengapa aku jatuh cinta dengannya. Karena memang, Dia mempertanyakan, “mengapa aku tidak gentle?” Padahal bertemu, ngobrol dan kenal pun sudah dilewati semuanya.

Sepertinya, kelopak matanya memiliki rasa cinta yang sama. Karena pada matanya ada kejujuran. Kejujuran bahwa Dia juga memiliki rasa yang sama, saat cinta menyentuhku. Ada kesejukan dalam hatiku, ada rasa nyaman dijiwaku. Meskipun sesekali ada rasa sesak yang menghampiri, tapi sekali lagi, aku akan berucap cinta adalah keindahan. Terutama saat aku mengenalmu. Mungkin terlalu dalam kata-kata itu disandarkan. Aku belum mengenalmu lebih jauh, hanya tahu sebatas nama dan sekelibat pribadimu yang membuatku tertegun tak bisa bersuara. Aku selalu melihatmu, tapi aku tak pernah tahu bagaimana kau melihatku atau bahkan kau tak melihatku?

Kadang, lamunanku terbang jauh, entah akan sejauh apa? Apakah aku bisa kembali dan menyadari itu hanya khayalan saja? Tapi aku berharap itu bukanlah sebuah khayalan semata. Aku ingin bersamamu. Bisa kita bertemu diujung jalan ini? Dan menemukan jalan lain untuk bersama? Aku tersenyum pilu. Apakah ini khayalan yang akan membuatku sakit lagi? Aku berharap tidak. Aku benar-benar ingin ujung kisah ini manis. Semanis khayalanku. Dan semanis larik-larik doaku pada Tuhan untuk memberikanmu padaku.

Apakah ini sudah terlambat? Situasi dan kondisi kita sekarang ini tidak memungkinkan aku untuk bisa lagi dekat denganmu. Entah kamu sudah bersama orang lain. Jika demikian, aku harus menghargai keputusanmu itu. Aku harus pintar menekan rasa ini walau sulit rasanya!

Terlambat? Ya… memang semuanya belum terlambat. Sebab sampai saat ini aku belum tahu apakah kau sudah bersama orang lain atau tidak. Tentunya butuh keberanian menyatakan cinta yang ada itu. Tetapi keberanian itu sudah tidak berguna lagi. Sekarang aku harus bisa melihat Dia bersamanya. Entahlah, tanyaku dengan ragu-ragu.

Karena ketakutanku untuk mengungkapkan rasa ini, aku harus membayarnya dengan keberanian untuk mendapatkannya meski Dia telah jadi milik orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here