Oleh: Chan Setu

Subuh sekali. Ketika seekor jantan memanggil pagi dari sangkarnya. Berkokok, berkali-kali dengan harap pagi lekas datang, biar lambung dan kerongkongan mereka bisa segera menerima makanan dan minuman dari anak-anak bumi.

Subuh sekali. Ketika hari terlalu dini ‘dibirahi’ oleh embun, seorang wanita berusia sekitar dua puluhan datang menghampiri halaman-halaman wallpaper handphone.

“Fian, apa sih maksud dari story WhatsApp-mu itu,” ucapnya via voice note.

Ya, beberapa menit yang lalu, Fian sempat mem-posting story WhatsApp dengan menggunakan bahasa-bahasa puitis yang tentu tidak semua, sanak-saudara, sahabat dan kenalan di WhatsApp-nya bisa memahami maksud story-nya itu. Beberapa menit yang lalu, Fian hanya memuat sebuah judul tulisan yang ingin diraciknya, “Tiga Angka di Halaman Rumah Tetangga.” Itu lah kalimat-kalimat story WhatsApp Fian, beberapa menit yang lalu.

Sebenarnya, Fian sendiri tak benar-benar paham maksud dari kalimat-kalimat pada story-nya.

“Ya, Icha, sebenarnya, saya sendiri pun belum paham apa maksudnya. Kan, saya baru saja ingin menulis sesuatu dari judul itu. Soalnya, kalimat-kalimat itu tiba-tiba datang menghampiri pikiran saya. Sekarang pun, sebenarnya, saya sedang mencoba memahaminya sambil berpikir tentang alur-alur yang akan diceritakan di dalamnya. Pun karakteristik tokoh yang ingin saya narasikan nantinya. Mungkin, setelah semuanya selesai nanti, baru bisa saya jelaskan maksud kalimat-kalimat tersebut.” Jawab Fian meyakinkan Icha, sahabat masa kanak-kanaknya dulu. Kira-kira begitulah percakapan singkat kami berdua subuh kemarin.


Terkadang, kita tak bisa memaksa orang untuk masuk dan memahami apa yang kita pahami, begitu pun sebaliknya. Dunia ini, seperti terisi pemahaman-pemahaman yang bervariasi. Hidup tidak semuanya sama. Pagi dan langkah awal kaki dari setiap anak-anak pun tak bisa kita ajak untuk melangkah bersama-sama. Kadang ada yang sedang asyik mendengkur di balik bantal tidurnya. Terkadang ada yang telah bercermin, merias satu per satu urat wajah yang masih dibawa oleh mimpi-mimpi malam. Kadang pun ada yang telah bercerita dengan kisah-kisah malam di dalam selimut bunga tidurnya. Kadang juga sebagian anak yang berpikir tentang nasib, takdir dan makan-minum yang akan mereka santap sepanjang hari itu.

Ya… untuk sehari saja. Di samping itu, banyak yang sedang mencari dan merindukan Ayah dan Ibu mereka. Itulah hari, pagi dan langkah awal kehidupan anak-anak bumi. Toh, kita tak mungkin memaksanya untuk ‘begini’ atau ‘begitu’. Semau dan sekehendak kita.

Seperti itulah Icha. Subuh sekali, Ia datang bertamu ke dalam sebuah dunia yang begitu asing baginya.

“Mencakar dan merumuskan hukum-hukum angka dalam turunan-turunan menghidupkan angka-angka yang terlihat baik dan biasa-biasa saja jadi lebih asing serta sulit, itulah sebenarnya dunia rutinitasnya. Pagi ini, Ia datang bertandang pada sebuah dunia yang begitu berbeda. Ia menemukan abjad-abjad panjang yang berisi ratusan anak-anak kalimat yang dipenggal dalam bait-bait doa sepasang kekasih, dunia yang begitu berlawanan dengannya.”

“Lalu bagaimana memecahkan semuanya itu?.”

Setelah sekian lama terlena dengan pikirannya sendiri. Akhirnya Fian diheningkan dengan pertanyaan singkat buah pikirannya itu.

“Akh, perlukah saya yang menyelesaikannya atau kita berdua sama-sama memecahkanya.” Batin Fian, saat itu.

Meskipun Ia tahu jarak begitu jauh membiarkan ruang dan waktu pincang di antara Ia dan Icha. Ia berada di Kota Teluk Maumere, sedangkan Icha kini berada di Ibu Kota Metropolitan. Mengais dan mengendus jejak demi masa depan yang tak ingin pupus dari balik punggung keringat tubuh Ayah dan Ibu nya.


Sepuluh – Misterius

Sepulangnya Kiran usai lembur yang panjang di Kantor Camat. Sepi dan sendiri tak lagi dipikirkannya. Lelah dan resah menjadi santapan mimpi yang ingin Ia luapkan bersama kasur dan anak-anak kasur. Tak ada basa-basi, selamat malam dan lain sebagainya. Pintu rumah yang terbuka tak lagi dipersoalkan, rumah yang berserakan, piring-piring kotor yang berceceran ke sana – ke mari, air-air kran kamar mandi dan wc yang tidak ditutup, jendela dan gorden-gorden ruang tamu serta ruang keluarga yang juga belum ditutup tak lagi mencuri hati dan matanya untuk sekadar bertanya, apa yang terjadi. Semuanya hilang dan terlelap dalam lelah yang sangat.

Di kantor, Kiran terlalu lama duduk tanpa benar-benar menjauhkan mata dari layar komputernya untuk sekadar memejamkan matanya sesaat. Berhadapan dengan diagram-diagram, bagan, pun tabel-tabel yang penuh dengan angka-angkan juga huruf-huruf yang terus harus dibaca, jangan sampai salah. Di samping tubuhnya, tumpukan map-map tebal menanti untuk segera diselesaikan semuanya. Tanda tangan, cap dan pengesahan jadi bagian lain yang harus Ia selesaikan juga malam itu. Mengingat dua hari lagi, Tomy, direkturnya akan segera berangkat ke luar kota untuk memaparkan program perusahan dalam usaha meyakinkan pemilik saham. Sebenarnya, yang dipikirkan Kiran bukanlah soal Tomy yang akan berangkat, lebih dari itu tentang nasib dan masa depan anak-anak dan keluarganya andai kata, Ia tak mampu menyelesaikan semua tugasnya sebagai sekretaris perusahaan.

Ketika Kiran berusaha untuk terlelap dan menjaga mimpinya. Tidak terlalu lama, tiba-tiba saja, jam berdenting. Bel lonceng rumah mendesir. Segera Ia keluar dari kamar tidur, mencoba menemukan jangan-jangan ada tamu yang ingin bertemu atau jangan-jangan rekan kerjanya di kantor membawa beberapa hal lain yang mungkin saja lupa dikerjakan Kiran. Di depan, pintu masih terbuka. Tak ada tamu pun tak ada siapa-siapa selain lampu taman yang terang di sepanjang jalan masuk menuju rumahnya.

Kendati demikian, bel lonceng itu terus mendesir. Kali ini bukan dari pintu depan rumahnya. Kini lonceng itu mendesir dari arah ruang keluarga. Di sana pun semua terlihat baik-baik saja, tidak ada seorang pun. Televisi yang masih menyala, lembaran-lembaran koran yang masih saja berserakan, bungkusan-bungkusan rokok yang tercecer bersama abu dan debu serta puntung-puntungnya masih saja tercecer di sana-sini. Tinggal, suara-suara percakapan sinetron ftv di televisi saja yang begitu berisik dan bising.

Lonceng itu kembali mendesir, bunyinya lebih keras. Berkali-kali mendesir, tekanan yang berulang-kali terdengar begitu pekik dan risih. Kali ini, lonceng itu mendesir dari dapur rumah mereka. Tak ada siapa-siapa. Tinggal, termos air panas yang lupa ditutup, periuk dan kuali yang diletakkan begitu saja dengan bekas hitam di seluruh bagiannya, piring-piring kotor yang belum sempat dicuci, bungkusan-bungkusan kecap, minya goreng, bumbu masakan dan lainnya yang berserakan di mana-mana. Terlihat seperti tak ada yang benar-benar datang untuk menekan bel itu.

Kiran, semakin resah. Lelah yang telah lama ditahannya, membuatnya terlihat sedikit lebih linglung. Pikirannya tidak lagi terfokus. Mimpi yang sempat dijaga, hilang dibawa pergi oleh rasa cemas dan takut.

“Akh, siapa sih yang datang malam-malam dan ingin mengganggu?.” Bisiknya di dapur.

Tiba-tiba lonceng itu mendesir kembali dari depan pintu rumahnya.

Sesampainya di depan rumah, semuanya seperti biasa, tak ada siapa-siapa selain lampu taman yang terus menemani jalan kecil menuju rumahnya itu. Suara televisi yang begitu gaduh dengan volume seolah-olah ada yang menaikkan pun menurunkan volume suaranya. Di dapur seolah-olah suara seorang wanita dan anak perempuan sedang asyik menanak nasi. Suara-suara kran dan bunyi denting piring-piring yang berbenturan, di kamar seperti ada anak laki-laki asyik teriak mengekspresi euforia goal dari playstation yang dimainkannya. Rumah itu seolah ramai dengan kisah-kisah yang unik.

“Akh, apa yang terjadi?.”

Kiran, Ia semakin takut, kalut dan ingin memanggil penjaga siskamling di pojok gang kompleks perumahan dinas mereka. Ketika Ia melihat jam dinding dan jam tangannya. Anak-anak jam berada tepat pada jam sepuluh. Semuannya jadi sunyi dalam tubuhnya. Air mata jatuh, rindu membawa pergi begitu jauh, tubuhnya yang telah lelah – linglung akhirnya jatuh di bawah ubin lantai depan rumahnya. Semuanya jadi sesal dan kecewa. Malam itu, genaplah setahun yang lalu, Rumia istrinya dan Yuni anak perempuan pertamanya serta Yan anak laki-lakinya meninggal akibat kecelakaan mobil. Ketika Kiran sedang berada dalam perjalanan tugas kantornya ke Metropolitan. Dan Dia lupa, sepuluh itu angka ketika istrinya meninggal di usia pernikahan mereka yang ke-sepuluh dan pada jam sepuluh, kedua anaknya dilahirkan pun pada jam sepuluh. Kematian itu jadi nyata bagi mata dan seluruh tubuh, Kiran.

“Aku mencintai kalian semua.”

Penulis; Mahasiswa semester III di STFK Ledalero Maumere. Saat ini menetap di Wisma Arnoldus Nitapleat – Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Maumere.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here