Oleh: Ermy J. Jihut

Aku lelah terus terluka
Tak terhitung berapa kali hatiku bercabik-cabik
Lukanya tidak pernah sembuh
Sungguh banyak pengalaman melelahkan yang tak terhindarkan
Aku muak dengan panggung sandiwara ini

2021 semuanya berat dan dingin di dadaku
Hari-harinya membelenggu aku
Aksaku dibutakan oleh air mata
Air mata yang terus menertawakan perih yang melukaiku
Mengapa dia senang dengan kesuramanku?
Dan kini aksaku kusam nan perih

Aku melihat diriku disudut gelap kamarku
Aku bisa merasakan keadaan yang membungkamku
Aku duduk telungkup menarik nafasku sambil bertanya-tanya didalam hati
Dimana salahku?

Aku mengambil cermin buram di dinding
Tapi entah mengapa itu jelas bagiku
Aku hendak mempertanyakan nilai diriku.
Maafkan aku yang gagal menjadi salah seorang dewasa yang menakjubkan

Ribuan pikiran tak terucap terus datang seolah tidak ada hari esok
Puisi-puisi frustasi kian menjerit
Sampai pada titik aku berserah kepada-Nya
Karena aku tahu aku harus membaca firman-Nya
Dan kubiarkan cahaya kata-kata-Nya menyelimuti pikiran tergelapku

Oh Tuhanku,
Aku mohon agar suatu saat nanti mereka memberikan kenyamanan yang pantas untukku
Tidak! Seorang saja cukup.
Seorang yang rela memperbaiki kepingan hatiku yang robek
Seorang yang menerima kenyataan tentang diriku sebagai jiwa yang cacat
Menemani hari-hari sulitku
Memberikan bahu untukku bersandar

Proses hidup ini sungguh berat
Mau bagaimana lagi?
Aku hanya ingin terus berjalan

Penyuka Sastra, Tinggal di Wangkung – Cancar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here