PUISI-PUISI PATRICK POTO

Bolehkah

Pagi ini angin datang menyapu halaman saat fajar meyingsing
Begitu pun setumpuk ingin pada harapan
Kubiarkan lambaian merobek jantung utuh tubuhku
Lalu menulis sebait sejarah pada narasi yang mulai kaku

Setelah kau tuntaskan pada pagi hari
Kini kau menghidupi pada seribu jerih payah kehidupan
Kau meraba-raba pada pintu rumahku
Seakan terobos menusuk penat dan panasnya jeritan dunia

Bolehkah… Aku meniduri lorong-lorong rahasia yang penuh cinta
Dan tubuhmu seketika menjelma menjadi kenikmatan
Ah,aku terlampau cepat pada bayang-bayang tanah yang mengukir wajahmu
Bolekah aku bertanya padamu?
Mengapa engkau membiarkan aku melangkah pada jalan panjang ini

Ataukah aku harus lelap pada perkara ini?
Aku masih terlalu muda untuk berlari dan mengejarmu sejauh mungkin
Sementara bias cahayamu terus kautiupkan pada sehelai kain pintu yang mulai rapuh
Pada bait-bait yang mulai usang ini
Perlahan kuselipkan pundi-pundi hatiku yang mulai terbujur kaku

Pengais Mimpi

Saat malam memeluk erat senja pada pangkuannya
Dan perlahan menatap dalam beralaskan gelap yang rimbun
Disaat itu tawa ria terlampau padam pada pucuk senja
Kini aku hanya berteman malam yang penuh keheningan

Dalam hening aku mengais seribu cerita tentang siang
Sembari berharap esok kan menjadi terbaik
Semuannya telah kugantungkan pada mega yang berarak

Kini aku hanya menghitung bintang sembari menunggu
Bahwa malam kan menjemput diapiti mimpi yang indah
Pada malam kutunggu waktu kan patah pada dinding
Yang membuat terang datang sehabis malam

Kau dalam Bayang-bayang

Malam ini begitu panjang
Seperti mengapung dalam bayang-bayang kusam
Yang telah rapuh pada secarik kertas yang mulai kusut

Dari  jauh kulihat bintang-bintang berdiri tegak
Dengan cahayanya yang menyatu pada jalanku
Dan aku berusaha menjangkau pena pada tasku
Lalu menceritakan pada setiap jejak bait
Tentang perjumpaan kita malam ini

In Silentio Decembris

Di hilir waktu ini kuhanya tatap diam dalam katupan nada syukur
Yang dalam hatiku terus kuhitung penyesalan
Sebab tuanku telah membuka salamnya

Ceritaku tentang Weta

Di awal Desember, aku mengetuk sebuah pintu kisah
Yang pada gagang pintu kutemui sepijar angan
Dari dalam rumah tua itu kudengar suara memanggilku
Mai lole dia one
Itulah sapaan hangat untuk tamu

Aku dihidangkan weta secangkir kopi panas
Yang membuatku betah pada peraduan tungku api
Weta hanya duduk tanpa sepata kata
Seperti tak ingin menyembunyikan rasa heran
Kenapa aku nekat datang?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here