PUISI-PUISI KANIS REDE

Cantik Itu Luka

Terlihat di belahan kelopak matamu
Menyisakan goresan alunan garis merah meramu
Menandakan tentangmu, tentang kita
Yang masih bersua meramu di dalam waktu

Terlihat sore kelabu mengecil
Awan terlihat hitam mengais
Menyisakan waktu merana bersamamu

Aku masih ingat tentang semalam
Tentang kita yang pernah bersua
Dibalik tembok mengeropos
Membuat mulutku kaku terkutuk
Oleh sebilah lidahmu
Membuatku meramu membisukan pilu

Penjara Suci

Di balik jeruji besi
Aku termenung di bawahnya
Terlihat ribuan jiwa merana
Meminta pertolongan
Akan belas kasihan

Terlihat pahatan arca mengimajinasi memoriku
Melukiskan seorang pemuda dermawan
Berjalan mengintai keramain kota
Beralaskan kain putih sekujur tubuh

Dentingan nada terdengar indah permai
Melantunkan kata-kata indah permai
Menyisakan ayat-ayat dahsyat menyesat hati

Alunan musik riang gembira
Kembali mengental di balik jeruji besi
Terdengar di balik jeruji
Pujian dan sembah menandakan
Betapa besarnya kasihnya kepadaku

Kolong

Kalian kan yang belajar Filsafat itu?
Demikian tanya seorang gadis, Sahara

Aku serentak menjawab, Iya
Lalu Ia pergi sembari meninggalkan jejak
Yang membekas di hadapanku

Terlihat di belahan bibir merah memudar
Lukisan arunika menghantui naluriku
Nampak terlihat goresan tinta kesinisan
Aku merasa terganggu dengan sinis itu
Aku dikungkung pertanyaan itu
Untuk sekian lama, aku berdebat dengan akal naluriku

Kala otakku dijerat sejuta tanya
Aku miskin kata dan tak tahu harus berkata apa

Dunia yang penuh fiktif belaka
Menjadikan aku dunia tak sempurna
Dan harapan yang hampir purna

Di sini dan kini
Aku merasakan Dia
Yang mempertemukan dan memisahkan

Penulis; Sedang menempuh pendidikan di STFK Ledalero dan tinggal di Biara Scalabrinian Maumere.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here