Oleh: Usman D. Ganggang

Bahwa sebuah puisi sulit dipahami oleh penikmat sastra, memang wajar dan lumrah. Tentu pula harus diakui, karena dalam memahami pesan, baik yang tersurat, maupun yang tersirat, apalagi sampai kita terseret ke dalamnya, haruslah dibutuhkan kejelimetan, terutama lantaran bahasa puisi selalu bersifat kiasan.

Pada umumnya, seorang penyair cenderung memberikan tekanan pada makna konotasi (= makna yang tidak sebenarnya atau makna kiasan, dan selalu menggunakan makna simbol) ketimbang makna denotasi (= makna yang sebenarnya atau makna yang mengacu pada kamus) dari sebuah perkataan.

Apa akibatnya? Yang jelas, hubungan makna berdasarkan arti denotatif menjadi tidak pernah logis. Di sinilah kemudian seorang penikmat sastra (khusus puisi) terkadang mengalami kesulitan dalam menangkap pesan tersirat dari yang tersurat yang digunakan penyairnya. Itu pula sebabnya, penikmat puisi seharusnya berusaha ekstra keras menaruh perhatian terhadap puisi yang dianalisis oleh penikmat atau pembaca.

Dalam membaca (memahami) puisi, dituntut untuk mengapresiasi (menghargai, mencintai puisi, dan kemudian mencipta puisi) tentang sejauh mana pesan atau amanat yang disampaikan penyair kepada pembacanya.

Oleh karena itu, ketika kita berusaha menikmati sebuah puisi, maka diperlukan keterbukaan hati, ketekunan, dan konsentrasi pikiran sehingga seluruh indra kita (penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan perasaan), tergugah lantaran daya pukau sebuah puisi hasil penggelandangan imajinasi penyairnya.

Puisi, memang tidak mudah untuk dinikmati dengan hanya sekali baca. Sebuah puisi harus dibaca berulang-ulang untuk menemukan letak daya pukaunya, sehingga dengan daya tersebut kita akan terseret ke dalamnya, lantaran pesan-pesan yang memukau dan merasuk kalbu, gara-gara penemuan makna tersirat yang sengaja disembunyikan oleh penyairnya.

Pertanyaan mendasar yang perlu dikedepankan di sini adalah, “bagiamanakah strateginya agar mudah menggapai maksud, harapan serta cita-cita penyair melalui puisinya?” Pertama, kita harus memperhatikan serta mengkaji judul puisinya. Dengan membaca serta menganalisis judul, berarti kita sudah bekerja menemukan makna tersirat puisi. Judul puisi dapat dijadikan pegangan untuk mempermudah mengetahui tema atau pokok persoalan yang ditampilkan penyair. Judul puisi dapat diibaratkan sebagai sebuah pintu rumah, maka untuk membukanya dibutuhkan kunci. Pada judul, kepada kita diberitahu sejumlah informasi yang akan dijabarkan lebih lanjut oleh penyairnya.

Mari kita perhatikan puisi “Kembang Setengah Jalan” karya Armijn Pane, salah seorang penyair Angkatan Pujangga Baru (Angkatan ’33), berikut ini:

Mejaku hendak dihias
Kembang jauh dari gunung
Kau petik sekarangan kembang
Jauh jalan panas hari
Bunga layu setengah jalan

Secara denotatif, judul di atas, tidaklah logis, sebab apakah kaitan kembang dengan setengah jalan? Di sini dibutuhkan keseriusan kita untuk menggunakan kunci. Ternyata yang dimaksud dengan kembang bukan arti yang sebenarnya. Kembang adalah kata kias, sebuah simbol yang dikenakan kepada makna maksud tertentu. Kalau begitu, apa yang dimaksud dengan kembang oleh penyairnya? Jawabannya, adalah gadis, wanita, dan kasih. Dengan analisis sederhana seperti di atas, ada yang terpukau yang dialami oleh pembaca atau penikmat sastra. Apa itu? Tentu sesuatu yang tidak sampai. Apa sesuatu itu? Jawabannya adalah sesuatu yang tidak sampai. Itulah yang dikiaskan oleh penyair melalui judul “Kembang Setengah Jalan”.

Begitu pula kalau kita berusaha memahami pesan puisi berjudul “Menyesal” karya Ali Hasjim, berikut ini:

Menyesal

Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Sekarang petang datang membayang
Batang usiaku sudah pergi
Aku lalai di hari pagi
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu miskin harta
Ah, apa guna kusesalkan
Menyesal tua tidak berguna
Hanya menambah luka sukma
Kepada yang muda kuharapkan
Atur barisan di pagi hari
Menuju ke arah padang bakti

Dari judul di atas, tergambar sebuah makna bahwa sesuatu tidak ada gunanya. Apa sesuatu yang tidak ada gunanya itu? Sesuatu itu adalah menyesal. Jadi, puisi di atas memberi makna menyesal itu tidak ada gunanya.

Kedua, kita harus memperhatikan titik pandangnya. Titik pandang merupakan istilah lain dari sudut pandang atau pusat kisahan sebuah puisi. Titik pandang sebuah puisi mencakup siapa yang dibicarakan serta bagaimana Ia bercerita. Dengan menjawab semua pertanyaan di atas, diharapkan dapat memahami sebuah puisi. Perhatikan puisi Kembang Setengah Jalan. Ternyata, titik pandang puisi tersebut menggambarkan seorang tokoh aku yang berkeinginan membangun rumah tangga baru. Tokoh aku (aku – lirik) harus mencarinya di gunung nun jauh dari kota. Asumsinya, gadis-gadis desa (di gunung) itu banyak yang masih perawan. Alhasil, tokoh aku kecewa, karena gadis desa yang dicarinya sudah pernah dipacari orang lain. Pesan tersirat puisi tersebut adalah tidak semua gadis desa itu belum pernah dipacari.

Begitu juga kalau Anda pernah mencermati puisi karya Taufik Ismail yang berjudul Malu Aku Jadi Orang Indonesia (MAJOI). Pertanyaan mendasar yang perlu diangkat di sini adalah, “Mengapa tokoh aku malu?” Yang jelas, kegerahan penyair beralasan, bobroknya akhlak bangsa ini. Secara terang-terangan penyair Taufik, menyampaikan kepada pembaca seperti tersurat dan tersirat dalam penggalan berikut ini:

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuhraya tun Razak

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenarkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia

Dari titik kisah itu, aku lirik bepergian ke negara lain, Ia merasa malu tetapi melekat, Ia berusaha menyembunyikan wajah Indonesianya dibalik kacamata hitam yang Ia pakai juga di balik topi baret yang ia kenakan. Pertanyaan selanjutnya, mengapa? Karena, Langit akhlak rubuh di atas negeriku berserak-serak.

Jawaban yang mendetail tentang mengapa penyair malu jadi orang Indonesia, dijelaskan pad penggalan berikut ini:

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu

Di negeriku , sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang

Curang susah dicari tandingan.

Taufik dalam penggalannya ini, terang-terangan menolak kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) dalam dunia bisnis dan pemerintahan. Masalah kecurangan dalam pemilu, penggusuran, sampai kepada penjarahan dan penculikan serta situasi yang tidak aman digambarkan dalam bentuk imaji konseptual. Begitu pula sejumlah perilaku negatif, seperti hutang Indonesia keluar negeri, sikap pragmatisme, keserakahan penguasa, pengingkaran Undang-Undang Dasar (UUD) serta indoktrinasi, merupakan jawaban atas pertanyaan, mengapa malu jadi orang Indonesia.

Keterpukauan kita akan terjawab, manakala kita berusaha mencari makna tersirat dari puisi yang kita baca. Dan strateginya adalah melalui analisis judul puisi, mengkaji sudut pandang, terutama titik kisah siapa yang berbicara, apa yang dibicarakan, dan strategi lainnya akan dibicarakan pada kesempatan lain.

*Artikel ini pernah dimuat di Koran HU Suara Mandiri.

Penulis; Kelahiran Bambor, Manggarai Barat, kini berdomisili di Kota Kesultanan Bima.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here