PUISI-PUISI CHAN SETU

Doa Seorang Pendengkur

Ketika selimut menyelimuti tubuh,
hangat meninggalkan birahi di balik dingin,
yang mula-mula datang dan masuk melewati bibir-bibir jendela

Tak ada kekasih di samping tubuh yang mendengkur,
tak ada bantal yang menemani mimpiku,
bahkan tak ada Ibu, yang mengelus kepalaku hingga terkantuk dan mimpi
dan teruntuk itu aku berdoa:
“Tuhanku, ketika birahi itu hilang dalam dengkur yang panjang, semoga Kau tak memberikan aku air yang meleleh kental dari sudut-sudut bibir kiri – kanan mulutku. Mungkin, ketika aku terjaga kembali, aku tak tahu siapa yang harus membereskan sisa aromanya.”

Telepon Masuk

Selamat malam, terdengar suara manis dari seberang,
Ketika dering lagu “Shallow – Lady Gaga” menyentil di speaker tua itu.
hallo
hy
hallo
hy
Percakapan itu berlalu, tanpa saling berbicara panjang lebar, lalu tutup
Siapa yang menelepon, batinnya
Maaf, aku Rian hanya memastikan jika esok kita akan berpisah, Ria.

Bermain Kartu

Anak-anak sering bertanya kepadaku: Ibu, Ayah selalu pulang dengan murung, berbaju keruh, hingga memakan amarah dengan muka ditelan haus. Beberapa kali, kami lihat Ayah ramai bertengkar di pondok depan gang kita. Ia dilipat – babak belur bukan dengan pukulan, hanya dengan selembar kartu AS, sedang kami melihat di bajunya ada DUA yang menjalin angka-angka seri. Apa Ayah dibunuh oleh AS, tapi Ibu sendiri tahu Ayah tak pernah meraup uang yang di – (ber) – serakkan di atas meja, bahkan Ayah lupa sejak seminggu yang lalu kita tak tahu sudah berapa seringnya kita tidak makan.

Dan Ia ramai menceritakan keributan – kegaduhan yang babak belur oleh lelaki sebaya dengannya. Apakah ibu, juga menyukai AS?

Jangan-jangan “Joker” lupa menjadi pilihan Ayah untuk menang?

Penulis; Mahasiswa semester IV di STFK Ledalero. Saat ini menetap di Wisma Arnoldus Nitapleat-Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Maumere. Penulis sangat menyukai kopi pahit. Fb: Pirres Setu dan WA: 082236035772.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here