Oleh: Rian Tap

Wajah lusuh berlumur getah-getah suci
MenggiringNya ke tempat pembantaian yang keji
Kata mereka; itulah janjiNya di hadapan Pilatus
Bukan Aku yang berkata demikian, Engkau sendirilah
Lalu mereka berkata, Ia menghujat Sang Agung kita
Bukankah Ia Sang agung itu

Lalu…

Berjalan menyusuri kerikil keji hasil rerimbun jejak sang pedosa
Pada resah dan pasrah yang kesekian waktu
Biarkan cawan ini berlalu, itu kehendakku
Jika boleh

Sebab usiaku terlalu dini melayat dan melumat pasrah
Pengkhianatan Yudas dengan 30 dirham menjual jengkal tubuhku
Apakah Aku semurah itu?

Aku bukan sang lacur yang kamu sisip sepeser
Lalu kamu tiduri seenaknya
Aku sudah seumur detak waktu
Kira-kira 33 tahun lebih tua dari belia dan lebih muda dari Sang Guru
Saban hari, aku pergi dengan gegas sambil memikul palang hina
Pintu gerbang dibuka, sekiranya hatimu juga layak dibuka

Ah, terlalu pahit anggur dari Sang Bapa
Terlalu masam cuka dari Sang Ibu
Layakkah, aku dibantai seperti ini

Menyikap sunyi dibalik biasan cahaya mentari
Seakan Ia pergi dengan euphoria semu dari jeruji paling suci
Ia pergi dengan mencicipi sepiring pagi pada meja hidang ekaristi
Katanya; terlalau khusyuk mencintaiNya, Ibu
Sehingga aku tidak sadar, perjamuan itu terlaris di pasar mimbar

Pencambukan
Cacian
diludahi
Sarapan terlaris sepaginya

Raganya tak mampu memintal tubuh sang suci dengan anggur asin buatan Farisi
Cukup kentara, bukan!
Ia yakin di ladangnya sedang ditunggui Sang Nabi Agung
Untuk menggandakan sebakul roti dan sebotol minyak
Meski sang suci berpaling muka, Ibu pas-kah saatnya
Sang Ibu memaksa, Nak sudah saatnya
Sekian banyak tamu, tak minum anggur dari sang tuan
Biarkan anggurMu dicicipi pada mereka
Mereka tak sadar, anggur itu darahku terlaris dari meja suci hidangan tuan pesta

Aku tidak persoalkan itu
Yang aku persoalkan mereka mambuk sampai tidak sadar
Bahwa akulah pengiris anggur yang mereka seduh

Sapu tangan
Handuk dan kebaya kumal
Air mata tangisan wanita, menghiasi stasi suci
Hei… jangan tangis Aku. Tangislah anak-anakmu
Serta suami yang pandai mencebur diri pada wanita jalang

Lalu…

Mereka menjarah jubah dekilku, serta diundi diantara sang bengis
Lagi, siapa yang pantas untuk mendapatkannya?
Apakah sang Ibu?
Ataukah kita yang merasa mencintainya?
Sekali, tidak
Bukan Ibunya dan bukan juga kita
Ataukah Simon yang setia memanggul derita-Nya sampai nafasnya terputus
Lantaran cambukan dosa dari sang bengis
Bukan juga, lalu siapa?
Yang pantas, kita yang mencintaiNya, sampai mengais pasir di bawah salib
Lalu memalingkan muka dan berkata; Tuhan hanya ini yang aku punya

Raga tak bersalah
Golgota semarak bersenandung merasuk setiap kalbu
Di atas sana, Engkau menuai kasih pada palang hina
Menuai kasih pada raga yang tak bersalah
Hanya demi tugas yang diberikan Bapa
Hosanna… hosanna… Sang Rajaku
Kini, hanyalah seruan yang meninabobokan rupa
Seruan klasik yang penuh hasrat, gombalan semata
Gaya-Mu melelehkan tiang hina
Tumpah
Tumpuk
Habis
Mati
Ahh… apa Engkau salah?
Senyum sinis serdadu bengis mulai nampak
Saat luka-luka goresan dosa mulai menyapa lautan raga
Lantas dicambuk dosa kancah benua

Sungguh…

Tersayat perih tak terbatalkan, di saat tombak menyerbu raga pada palang hina yang tak bersalah
Membunuh lautan nafas yang terkenang dalam lautan raga
Debu Golgota silih berganti
Datang mencibir-Mu
Jikalau Engkau Anak Allah, turunlah hai bangsat

Ya, mereka…

Mereka merampas lambang hidup-Mu
Melihat-Mu yang membentangkan koper bertuliskan “Inilah Raja Orang Yahudi”

Perih nestapa raga
Kasih-Mu yang melemahkan raga-Mu
Hanya karena cinta untukku, kamu dan mereka
Waktu senja
Saat suara-Mu berderu-deru lengking teriak luka hati-Mu yang tersepi
Mengguyur raga yang bertubuh lapar
Kemudian Engkau tenggelam dalam lautan puncak
Ya Bapa, ampunilah mereka
Kini raga bisu memunggungi senja
Sinar tamaram hiasi senja nestapa
Lihatlah aku dengan tatapan sayu-Mu, Tuhan

Engkau mati demi aku
Golgota, Golgota!
Ya, sungguh itu Golgota
Terpatri raga tak bersalah
Tergores mawar merah tua yang merekah
Euphoria, ”Hosanna Putra Daud”

Kini,
Menjadi isak tangis memecah kesunyian Yerusalem
Hosanna, kini menyalibkan-Mu dalam kata
Tombak bengis menyobek raga-Mu
Yang tersiksa pada ranjang dunia
Sembiluh berpeluh
Terbantah kata pada nada, “ampunilah mereka, sungguh, mereka tidak tahu!”

Engkau sungguh Allah
Borok dunia sudah senyap pada palang hina
Kini Engkau ada di
Ya, Engkau sudah berada di
Diri-Mu, Engkau ada
Ada-Mu di, untuk ku

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here