Ermy Jihut*

Aku duduk bertanya-tanya
Terkadang merenung dibawah naungan matahari, bulan dan bintang
Betapa aku berharap angin perubahan memberikan warna baru pada kebebasan hidup wanita
Ingin sekali melarikan diri dari kenyataan-kenyataan suram belakangan ini.
Segala sesuatu dalam hidup terasa sangat menakutkan.
Sebagai seorang wanita ini membuatku takut setengah mati.

Wahai monster yang mengerikan, jawablah ini!
Siapa kau yang menilai isi kepala wanita?
Siapa kau yang menilai kualitasnya?
Kau tak berhak mempertanyakan nilai wanita
Kau bukan juri kehidupan
Semua orang sangat brilian di medannya masing-masing

Kau tak berhak menentukan standar kecantikan
Siapa kau yang mendefenisikan cantik harus berkulit putih?
Siapa kau yang mengukur tubuh ideal harus langsing?
Siapa kau yang menilai tinggi badan sesuai proposimu?

Aku akan bertanya sekali atau dua kali
Sebelum aku benar-benar melompat ke kesimpulan dan membungkammu.

Siapa kauĀ  yang berani menghina wanita?
Siapa kau merendahkan harga dirinya?
Siapa kau yang dengan kejam memukulnya?
Hingga menimbulkan cedera dan rasa sakit?
Siapa kau telah membuatnya merasa tersakiti?
Jika tidak cocok denganmu berhentilah menghinanya

Siapa kau yang berani menghakimi pakaiannya?
Jangan salahkan pakaiannya hentikan saja imajinasi liarmu itu
Siapa kau yang melecehkannya?
Hingga kau jadikan dia pelacurmu?
Siapa bilang dia hanyalah mainan malam?
Tolong didik otak cederamu itu

Tidak ada yang meminta pendapatmu tentang semua pilihannya
Siapa kau yang berani menentukan jalan hidupnya?
Siapa kau melarangnya untuk berpendidikan tinggi?
Siapa kau menghalanginya untuk berkontribusi dalam dunia politik?

Kau manusia yang tak pantas hidup
Untuk apa hidup jika hanya ingin merendahkan derajat pemilik rahim peradaban?
Untuk apa hidup jika hanya ingin membatasi hak-haknya?
Bukan urusanmu tentang apa yang dia pilih untuk langkah perjalanannya.
Wanita bukan budak presepsimu

Dengarkan ini!
Kau takĀ  pantas disebut suami
Yang kerjanya tukang selingkuh
Kau tak pantas dipanggil ayah
Yang tega membunuh anak sendiri
Kau tak pantas disebut guru
Yang kerjanya memperkosa muridnya
Kau layak dipanggil bajingan!
Ingatlah bajingan kita semua sedang dipinjam waktu
Jangan biarkan hidup yang sebentar ini dinodai perilaku sampahmu

Penyuka sastra, tinggal di Kabupaten Manggarai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here