Oleh: Ata Tombe

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkan yang terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

Hujan Bulan Juni adalah salah satu puisi yang membesarkan nama sastrawan besar Indonesia, Sapardi Joko Damono selain puisi “Aku Ingin” dan puisi-puisi lainnya. Puisi ini akrab di telinga masyarakat, meski yang bukan penikmat sastra atau orang yang secara khusus belajar tentang sastra.

Selain menjadi contoh puisi dalam buku-buku pembelajaran sastra Indonesia di sekolah-sekolah, puisi ini pernah difilmkan dan Sapardi sendiri menovelkan puisi ini dalam sebuah kisah romantis. Tidak sedikit pula para kritikus sastra mengkritisi puisi ini.

Para pegiat sastra dari berbagai komunitas di tanah air, pada beberapa kesempatan memusikalisasinya dalam event-event sastra. Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh sebuah Komunitas Sastra Senja di Bandung pada tahun 2017, dengan respondennya mahasiswa di beberapa kampus di kota yang dijuluki Paris van Java tersebut, puisi ini menempati urutan ketiga teratas dari 15 puisi yang masuk dalam kriteria puisi romantis Indonesia, versi komunitas tersebut.

Puisi ini sejajar dengan beberapa puisi lain termasuk puisi Aku Ingin dan beberapa puisi dari penyair kenamaan Indonesia semisal Chairil Anwar, Joko Pinurbo, Amir Hamzah dan sastrawan kondang lainnya.

Secara umum, Sapardi menulis puisi dengan diksi sederhana dan dekat dengan keseharian kita. Kata-katanya mudah dipahami, realistis tetapi sangat menyentuh nurani pembaca. Tetapi, kita harus mempunyai intuisi sastra yang tajam agar dapat menyerap makna yang tersingkap di balik keindahan-keindahan puisinya. Baiklah, di bulan Juni yang romantis, penulis mengajak Anda untuk sejenak rehat dari ulasan-ulasan tentang covid-19 yang biadab itu.

Sebagai penikmat sastra, penulis ingin menafsir puisi ini dari perspektif penulis. Memang tidak mudah untuk menafsir puisi apalagi puisi populer milik penyair terkemuka sekelas Sapardi. Kata-katanya sederhana tapi sangat dalam dan luas maknanya. Sebenarnya, orang dapat menafsirkan puisi dari berbagai pandangan, tergantung kapan puisi ini ditulis dan berdasarkan kisah dan perjalanan hidup sang pemilik puisi ini, atau situasi sosial yang terjadi di waktu itu.

Dari sudut pandang suasana hati atau latar belakang hidup, tentunya tafsiran ini sangat subyektif, karena setiap orang mempunyai hak prerogatif untuk menafsir tulisan. Tidak ada hukum atau undang-undang tentang penafsiran karya sastra kan, intinya bertanggung jawab tanpa memplagiasi hasil karya orang lain dan tidak melenceng sangat jauh dari isi puisi tersebut.

Soal baik atau tidaknya tergantung pembaca dan biasanya kapasitas seorang kritikus puisi besar yang selalu disanjung, sedangkan kritikus asal bunyi seperti penulis tidak akan diterima di hati pembaca. Syukurlah kalau Anda membaca dan bahagia.

Dalam kritik puisi ini, penulis tidak punya sudut pandang hermeneutika dari hermeneutik termasyhur sekelas Hans-George Gadamer. Penulis mencoba memberi arti dari sudut pandang pribadi otonom, tanpa aturan dan tekanan.

Puisi ini terdiri dari tiga bait dan dua belas larik, yang tentu berbeda dengan gaya penulisan puisi-puisi kontemporer. Penulis tidak ingin menafsir per-bait tapi hanya mendeskripsikan beberapa hal dari sudut pandang penulis.

Tiga kata kunci yang ditangkap Sapardi adalah ketabahan, kebijaksanaan dan kearifan si Hujan Bulan Juni yang mengungkapkan rahasia kerinduannya pada pohon berbunga. Ilustrasi tentang Hujan Bulan Juni yang merupakan sebuah fenomena, karena di bulan ini masih dalam musim kemarau, sehingga Hujan Bulan Juni adalah sebuah ketidakpastian.

Biasanya di bulan Juni, hujan turun tidak begitu lebat atau hanya gerimis, dan inilah yang ditangkap Sapardi sebagai rintik rindunya. Puisi ini lebih menekankan personifikasi alam atau temanya adalah tentang alam.

Kedatangan Si Hujan Bulan Juni merupakan sesuatu yang tidak diharapkan oleh pohon berbunga, namun Ia tetap tabah dan setia datang dalam waktu rahasia. Kehadiran Si Hujan Bulan Juni terkesan buru-buru, sekedar lewat, tidak banyak kata dan penuh keraguan.

Tetapi kehadiran Si Hujan Bulan Juni yang buru-buru, ragu-ragu dan sekedar lewat itu, sampai juga dan diserap oleh akar pohon berbunga yang mungkin sangat membutuhkan air di musim kemarau. Barangkali ini yang dapat penulis tafsirkan, selanjutnya pembaca bisa tafsirkan sendiri puisi terkenal ini. Semoga kalian bahagia di tengah pandemi ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here