Oleh: Rian Tap

(1)

Telah kau saji sepiring pagi
Pada embun yang masih belia
Senyum tersulam penuh bahagia
Meski gurat dan kerut pada dahimu
Tentang cerita penuh luka
Mengalir tanpa bermuara
Aku dan Ibu pada meja makan yang telah usang
Buatan Ayah puluhan tahun yang lalu
Semenjak Ayah pergi pada malam itu
Dengan membawa separuh bulan doa dari Ibu
Entah kapan Ayah pulang
Menebus kebahagiaan kami yang tergadaikan
Pada nasib dan getir kehidupan
Meski begitu, separuh bulan dibawa pergi
Selalu kembali dan tumbuh menjadi purnama
Untuk Aku dan Ibu.

(2)

Tak ada kata yang aku ramu dengan diksi
Kehilangan, mengirim bahasa paling sunyi
Lewat bulir-bulir rinai hujan
Yang aku jalin dalam catatan gerimisnya yang paling gundah
Rindu terlanjur menjelma
Untukmu Ibu
Menjadi awan yang berarak pulang
Dengan lebam yang paling piluh
Melahirkan mendung yang sama
Untuk hujan membasahi hati
Membasuh luka rindu
Ibu…aku rindu

(3)

Pada hitungan mundur tidak tersenandung
Sebelum sang bayi berpalung dalam sunyi
Setiap lorong-lorong bocah telanjang
Meniduri jalan-jalan trotoar
Sambil menunggu fajar menyingsing
Aku mencoba memulai angka genap
Diusiaku yang ganjil dan belia
Kata Ibu, jangan ragu Nak
Terus melangkah, kisah trauma akan lenyap bersama waktu
Ya…trauma kerpergian Ayahku.
Saat dirimu tak lagi bersenandung pada sepi
Ibu…
Tidaklah cukup nasihatmu terngiang saja
Keberanianku telah hilang, semenjak engkau jauh
Sejak engkau menutup mata soal duniaku
Hanya sisa pesan yang aku kantongi
Selalu aku bawa pulang dalam doaku

Penulis; Pegiat Sastra. Asal dari Lembor, Manggarai Barat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here