PUISI-PUISI KANIS REDE

Ibu

Ibu…
Masihkah kau ingat cerita semalam yang engkau katakan kepadaku?

“Kamu nakal, kamu cerewet”

Membuatku tersedu pilu
Menyisakan sungai kering
dibalik layar kerutan wajahku

Ibu…
Engkau selalu berkata kepadaku

“Aku sayang padamu, aku cinta padamu”

Membuat nadar hatiku bersorak ceria
Tertawa terbahak-bahak
Menandakan aku juga sayang dan cinta padamu

Ibu…
Hari ini juga masih saja kulihat
Dibalik kerutan wajahmu
Menyimpan sejuta senyum
Mematahkan langkahki yang kemarin tak bermakna
Aku takkan lupa tentang secarik pesanmu semalam
Yang setiap harinya membiuskan nadar hatiku yang tampak cacat

Ibu…
Aku takkan lupa kata-katamu
Yang bermakna cinta
Yang kadang menyapu air mata hatiku
Membuat kerinduan nadiku kembali bersyadu

Dandanan Peramal Muda

Sekitar abad berlalu
Rotasi bumi masih saja
Berputar pada porosnya

Dibalik kain putih yang kukenanakan
Mengalaskan sekujur tubuhku
Yang kian kaku mengahantui

Pernah kuingat tentang ceritamu
Yang banyak menyisakan air mata
Membuat hati dan telingaku kaku terkutuk
Merekam sejuta cerita dari bibir manismu

Rasa hatiku berbalik pada kecemasan
Air mata terus membasahi wajahmu
Hingga kerutan kulit ari-mu nampak kesakitan
Tak tersembuhkan oleh sajak-sajakmu yang kaku

Hatiku lesu terkutuk
Melihat matamu memudar kebiruan
Hingga menghampit selaput wajahmu
Yang masih dibasahi air mata kerinduan

Izinkan aku menghapus semuanya itu
Dengan sehelai kain yang dikenakan Tuhan kepadaku

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here