PUISI-PUISI RIAN TAP

Jeritan Pelacur dalam Rumah Kaca

Raga hampa tanpa busana dipermainkan
Gemulia mesum di balik kaca-kaca beranjang
Ketika angan tersesat jalan menuju rumah singgah
Pelacur ranum terdiam pada rumah budak nafsu
Riak bungkam mengap-ngap merasuk sukma
Dia dipermalukan dunia
Pada remang malam duduk di pojok beranda
Mencari tuan-tuan berdasi, berselendangkan uang
Raganya meliuk pada tatapan nafsu sang “tuan”
Moral tak lagi kau pikir
Sang pelacur bertubuh mungil
Cantik rupawan tak lagi suci
Mengekang diri dalam beranda
Sesal di hati tak lagi guna
Urat nadi terputus dalam ratus ribu
Sang pelacur menjerit payah
Menangis pilu jiwanya kini sudah Lelah

Sunyi Diri

Gugup berpasung rindu
Menyuguh secuil sendu
Berkias bahasa hening pada sepi
Menyama diri pada kegaduhan ronta
Dibalik gemulia penyerahan diri pada malam
Seluruh indra mencoba merapa
Terjemah pesan lisan pada remang-remang lampu diskotik
Betapa gigil bersenandung perih ditahan
Dingin bukan semilir angin
Bukan juga sisa ramai yang melembab
Bias jadi karena jari berkelana pada raga
Begitu nyaman bertahta
Enggan beranjak menata gerak
Ego tertawan aroma gerak
Kian melata pada jarak tak tentu
Nyata damba terjebak dalam siluman rancu
Dihantam gelombang tunggu
Pada Lorong-lorong meliuk cari temu
Mencari jalan terambas buntu

Karib Sunyi

Ruang sunyi berkarib
Iringi air mata
Asa tersemat gugur di sapa gerimis
Membias tetesan hujan menyapa
Celotehan sang insan membujuk
Menjatuhkan kecipak gigi
Di bulir janji teringkari
Rapuh ranting, jiwa mati
Dikemas kenang, di peluk harap
Kini rindu bertandang luka
Menoleh rasa ngilu menohok
Jiwa di tikam pada perhelatan rasa
Inikah salam pelangi asmara
Kenang berlalu, tanpa saling milik
Bersama hidup di pancar rasa
Sirna pupus tak tersisa
Sirna bersama senja yang kehilangan jingga
Menjadi abu, menjadi debu
Ambruk pada musim yang sama

Menikah dengan Luka

Kesedihan selalu hinggap sebelum hujan turun
Saat aku menatap langit
Udara berayun ke masa lalu, menetap
dalam pikun otakku
Meluluhlantakan rasa yang telah terbangun
Dalam arsir-arsir garis nyaris jelas
Lalu… setubuhi waktu, meletakan
harap dan hasrat
Tanpa mengusung kelam lampau
Pecahkan bisul dendam, agar nyanyian kian merdu
Meski irama mengalun sumbang
Tetaplah bersenandung dengan kidung suara jiwa

Menikahlah dengan luka, biar resap semua duka
Mendekaplah nestapa, biar hangat jingga
Tangan-tangan kebajikan kemudian membelai

Lalu..
Belajarlah!
Merenunglah!
Bacalah!

Kita ujian yang penuhi amplop-amplop masa lalu
Telah aku terima pinangan luka
Dan bayi-bayi derita pun telah tumbuh menjadi perawan serta perjaka
nestapa
Namun mereka sekuat baja
Tak gentar di cambuk gelombang

Penulis; Mahasiswa STFK Ledalero Maumere. Tinggal di Ledalero.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here