PUISI-PUISI ANJANI PODANGSA

Lima Bait

Dari sekian banyak waktu, aku memilih padamu
Dan Tuhan membiarkan itu
Kau lebih dari sekadar lebih untuk sebuah namamu
Padamu yang sederhana aku merengkuh

Suatu waktu aku menyaksikaan mereka berdatangan
Termasuk aku
Suatu waktu juga, aku melihat mereka satu persatu pergi
Tapi, tidak termasuk aku

Biarkan saja
Setidaknya kita pernah jatuh cinta bersama
Walau pun pada akhirnya kau tak mau luka bersama juga
Pada mulanya aku pernah menulis pada bait yang berbeda selain hari ini
Itu adalah cintaku pertama untuk waktumu yang kedua

Mungkin padamu aku belum selesai
Karena aku percaya, kau tak pernah selesai untuk yang sudah pergi sekali pun
Kau adalah tak biasa
Tak biasa untuk catatan setiap orang yang pergi itu

Saat waktu menandai satu hari, aku pastikan itu adalah waktumu
Padamu waktuku setara
Padamu semuanya akan kembali
Padamu aku menulis lima bait

Semua yang berakhir adalah kematian
Tidak untukmu, setiap yang mau berakhir adalah kelahiran
Selamat menua untukmu

Cah Wedok Nentang

Bicara soal anarkis, kau dianggap aseparatis
Bicara soal radikal, kau akan menjadi musuh
Bicara perlawanan, juga biasa-biasa saja

Tentang bumi manusia memang begitu-begitu saja
Bahwa hidup memang pencarian pada diri sendiri yang tak terselesaikan
Di setiap perjalanan akan menuntut perubahan
Akan diminta memikirkan, hingga memutuskan

Menjadi sadar adalah bebas
Ah, sebentar lagi mungkin bait-bait ini akan terbang tinggi
Di jeruji maksudnya, karena memang begitu demokrasi ala tuanku
Yang abadi hanyalah waktu untuk melawan

Tuan Pramoedya…
Kau benar adanya, bahwa bicara soal kebebasan tidak pernah asik di bumi
Manusia ini!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here