Setelah
malam menyihir
Puisi ku menjadi hantu
Terbang berkelana
menyusuri
tiap lorong – lorong gelap
Kota kelabu

Ku cari
Jejak – jeka kabut
yang menitikan bekas dusta
seperti, kupu – kupu
yang berderai air mata
menjual diri dijilat kunang – kunang
di kelabin malam

Ku dengar
desah – desah nafas
merintih sembari berkabung
dibalik deretan
Tirai dinding tembok
kos – kosan ngetren
tuan germo

Ku lihat
Bercak – bercak sperma
meleleh di tong sampah
bercampur darah perawan
yang masih basah
mengalir di kantong kondom
bekas pakai bermulut

Rupanya
mereka itu ‘lonte’
yang menyusui hidupnya
bersabung lendir
Hingga habis
Disusui “om – om” berkumis
yang kelainan seks

Namun aku
akan tetap setia
menyetubuhi puisi
hingga ujur masa ku
melahirkan anak – anak
penyair bernarasi puisi
bukan lonte

Seperti,
pasutri puitis
yang tak akan pernah
kehabisan sperma kata – kata.
Dan maafkan aku
puisi ini, untuk mu Lonte

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here