Oleh: Rian Laka

Pandemi cinta belum landai.
Namun rinduku padamu
Terus mengudara tanpa henti
Seperti kecapung yang terapung diudara

Kucoba terbangkan rinduku
Menembus gulungan kabut haru
Meliukkan sayap ketulusan diangkasa rayapada
Tapi kompas hati pilu tak sudi memastikan arahnya.

Dalam hayal yang melegenda
Nurani membangunkan naluri sajakku
Dari keranda hati yang terisyak sendiri
Imaji menuturkan sadarku

Ternyata tanpa batas cuma rindu.
Terbatas hanyalah pengertian.
Karena, kita sedang berada diambang
Perbatasan yang mungkin? semestinya demikian.!

Jika diparu waktu nanti
Langkahmu lelah untuk mengibu jalanmu.
Ingatlah kelak akan daku.
Karena pelabuhan rindu terdekat adalah aku.

Jika ingin singgah sejenak.
Jangan enggan tuk meneduh.
Sebab cinta yang kusemai dalam ruang hati bisu.
Akan meneduhkan gelombang nafasmu
Yang terlanjur diseret badai semu harapan.

Berpestaporalah sebisamu
Berdansalah semampumu
Bersulam minumlah semaumu
Aku merindumu “Magdalena”
Sebab, Kau autis dan Aku puitis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here