Oleh: Ratnasari D. Jawa Ito

Ame, Rindu Untukmu                                               

Ame…                

Semalam rembulan mengusik sukma

Berapi-api rindu ini tak padam

Membakar seluruh raga.

Mengusik ketenangan tanpa jawaban.

Pergi membawa semua tawa

Meninggalkan luka di hati.

Ame…

Namamu masih seistimewa itu didalam relung hati.

Sekali bahkan berkali-kali

Aku coba membuang segala rasa akan dirimu, namun

Kau tetap kembali

Di setiap sudut kenangan tanpa cacat.

Ame….

Mengapa tak memberi alasan apa-apa

Untuk kepergianmu

Tak ada yang memberi jawaban

Atas kerinduan yang terus mengelora

Bagaimana bisa kau memilih bertepi

Sementara aku terus merawat sepi.

Seandainya

Seandainya kau adalah

Sebagian cerita dipagi hari

Sedangkan ku tuang semuanya pada gelas pagi ini

Dan kita menceritakan banyak hal

Kita diam saling menatap

Memikirkan apa yang terjadi

Seandainya saja

Siang ini.

Tanpa siapnya kita menjawabi hari ini

Namun kita berjalan saling beriringan.

Seandainya saja malam ini

Dibawa dinginnya rembulan

Kita diam-diam mengecup setiap hembusan angin

Lalu kau memintaku

Sekali lagi

Untuk tetap tidur pada rindu malam ini..

Setelahnya

Ada yang tak pernah kau simak

Dengan indah.

Bahkan tak sepaham dengan rasa selepas bangun.

Hujan sudah selesai.

Mata ingin terbaring lagi.

Tetap saja aku berpikir

Kau tak sepaham.

Setelahnya,

Selalu saja begitu

Masih kau yang di rindukan.

Juni

Segala Harapan

Seketika langkah ini tertatih

Diam, bungkam seakan selesai.

Kau tiba-tiba saja seperti pedang

Yang menikam sekeping hati.

Kau memberi isyarat

Kita telah gagal, katamu.

Hampa.

Hatiku seperti padang luas yang begitu geresang

Tak ada yang pergi,kataku.

Lekaslah kembali karena hatiku masih saja menjadi tuan atas cintamu.

  • Penulis adalah seroang guru Matematika di SMPN 5 Poco Ranaka dan salah satu anggota Komunitas Sastra Hujan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here