Oleh: Alfa Edison Missa

Rindu di penghujung malam

Dingin yang menusuk tulang-tulang malam

Lelah semakin merana dalam kebisuan

Puisi terus mengupas kulit-kulit gelap

Berkas lamunan tertumpuk dalam mimpi.

Percikan embun menghembuskan kerinduan

Segudang cerita basah dalam ingatan

Batin kembali dihantam rindu yang kaku

Kenangan lelap tertidur dipelukan waktu

Nyala lilin bersinar mengusap wajah gelap

Kepalang tangan bersimpuh kerinduan

Bersemayam diatas pangkuan sang malam

Bicara tanpa suara merindu tanpa temu

Hukum dunia malam menusuk bola mata

Aku masih termangu dengan pikiran nihil

Lelehan gelap semakin menyatu dan berkarat

Dalam diam aku merindu dari sudut malam

Mengemas Perjalanan

Alur masa semakin limit menua berkeriput

Segerombolan langkah perlahan terurai

Sebuah perjalanan baru saja dimulai, terhenti

Segumpal pintah terus diucapkan dalam doa

Hentakan telapak kaki menyapu debu jalanan

Bergerak menuju ladang masa depan

Ayunan langkah kaki ingin cepat bergantian

Terpelihara segengam doa secara tekun

Titik-titik keringat bersimpuh rasa lengah

Getaran dalam dada semakin tak terkendali

Hujan baru saja reda meninggalkan kesah

Dingin mendera jiwa bekukan semangat

Cahaya sang surya menampar akal sehat

Kertas kusut yang dipilihpun berserakan

Aku menatap dengan kehampaan

Tetap pada keyakinan untuk tiba di sana.

Menepis dosa yang Menjelma  270° mengikuti putaran waktu

Ini Berita atau Derita

Dari kacamata Tua nampak dengan jelas bahwa langit tak sedang berdamai dengan bumi

Ah rasanya cuaca sedang dipergoki masa

Dari sela- sela dinding rumah nampak bahwa 

suasana di luar sedang tak bersahabat lagi

Lara yang menjelma dan menyerang tanpa rupa

kini menjadi batu sandung untuk kaki melangkah

lebih jauh lagi

Seisi ruangan redup seketika

tanpa cahaya semakin bahaya,

hati pun mulai resah dan gelisah dengan keadaan yang tak lagi ramah

“mangkali yang terpendam sedang menanti yang tersembunyi” dibalik dinding berlapis lumut,

tertutup dalam butiran debu dosa yang penuh dengan lara dalam darah dalam rintihan terlepas dalam frasa tentang rasa sesal yang tak kunjung pergi.

Hingga musim berganti musim mengukuti Putaran waktu

Hamparan rerintikan hujan pun terus menerus dengan  perlahan-lahan menguasai perbincangan hari,  tanpa memberi peluang pada ruang untuk bersuara, dengan kebisuan coba bertanya dengan bahasa manusia

Atap rumah yang terlihat kuat dan Kokoh tanpa roboh kini mulai sobek terpukul angin yang tak berarah semakin parah.

Hari yang  suram menitipkan pesan yang terkesan dalam kata tanpa tanya hanya cibiran bibir menjeplak tak bermakna berhamburan ditiap-tiap  sudut waktu.

  • Penulis adalah mahasiswa STKIP Soe Semester 8

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here