Oleh: Rian Laka

Malam berlabuh di pesisir Pantai Ria
Tenang air sejauh mata memandang
Sunyi bagaikan Rujab Eltari
Sepi tanpa penghuni

Malam beradu di kursi putih Lopo Dia Bisa
Menghayal piluh soal kekosongan Wabub
Gelap bagaikan Jalan Bakti
Yang lampunya tak lagi bercahaya

Malam bertengkar dalam imajinasi
Menyaksikan rebutan rating Partai Koalisi
Berisik!
Layaknya antrian panjang pengurusan e-KTP

Apa karena Corona, lantas ombak tak lagi riuh?
Atau karena pencemaran limbah debu, gelombang mati rasa?
Oh ya… Mungkin karena air mancur dan lampu hias mati
Bulan dan bintang pun lupa menerangi

Ah… Laut malam ini sungguh brengsek
Ia hanya tahu membasahi pesisir
Sementara pegunungan, mengering tak kenal musim

Tidak bagi kami…

Dari banyaknya musim, satu yang kami percaya
Dialah hujan!

Memberi penghidupan tanpa pandang bulu
Lahan pesisir, pegunungan, hingga pedalaman
Tak luput dari basah yang membuat bibir berucap syukur

Di sini…
Aku hanya sebatas percaya
Bahwa Ia adalah lautan yang buta mata
Telinga pekak dan mati nurani

Kunantikan pekanya laut malam…
Berubah sikap dan menaggapi!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here