PUISI-PUISI RICHOSTA NATA

Sang Perindu Sekolah

Di antara bukit dan pantai
Berdiri gedung sederhana
Menjulang perkasa
Tidak mewah tidak pula megah
Namun sangat berarti bagiku

Di sana tersimpan ribuan kenangan
Separuh hariku kuhabiskan di sana
Aku belajar dan bermain
Berjumpa dengan banyak orang
Tanpa sekat tanpa perbedaan
Merajut kasih memintal keakraban

Di sana tempatku
Mengembangkan talenta
Mengekspresikan bakat dan minat
Di sana aku melangkah
Meraih harapan yang telah tersulam
Meski sering ku merasa lelah
Saat berjalan kesana sirna seketika
Kala berjumpa guru dan kawan
Lelahku terbayar
Ketika pulang membawa ilmu
Mengurai senyum
Menuruni bukit

Aku tak pernah menyesal
Menjadi penghuninya
Aku diberi tugas dan tanggung jawab
Dengan sentuhan tangan dan kasih sayang guru
Aku dilatih
Aku dibentuk
Aku dituntun
Merakit prestasi

Kini ku tak bisa berada di sana
Belajar dan bermain
Bersama guru dan kawan
Hariku kuhabiskan di rumah
Aku rindu sekolahku
Aku rindu masa-masa indah
Hangat sapa teman-temanku
Memupuk tawa bersama kawan

Aku ingin mendengar cerita dan nasihat guruku
Belajar dan bermain bersama mereka
Sesaat jiwaku terbungkam
Ragaku terasa membeku
Mematahkan hasrat untuk berpeluh

Teringat bumiku sedang berduka
Kini semuanya sirna
Minat dan bakat seakan kandas
Oleh pamdemi COVID-19
Entah sampai kapan
Dari jauh kutuliskan puisi
Untuk sekolahku tercinta
Yang tetap berdiri menanti kedatanganku

Berharap ku tetap semangat berjuang
Menggapai asa mengukir prestasi
Hasrat kembali menantang
Melantangkan sajak jiwa
Menghibur raga menanti pulih
Berharap kembali berada di sana

Guruku

Pagi merekah pancarkan fajar
Engkau bergegas dalam panah cahaya
Sapaan manis penuh kasih sayang saat berjumpa
Engkau mengajariku berbagai ilmu
Agar berguna bagi hidupku

Kau ajarkanku kata yang indah
Dan berguna untuk masa depan

Banyak tantangan yang harus kau hadapi
Diantara beratnya tugas dan tanggung jawab
Tuntutan datang dan pergi
Sementara generasi terus mengalir seiring berjalannya waktu

Tugasmu tak hanya memberi ilmu
Namun engkau pun dituntut menjadi guru zaman

Engkau dihadapkan pada anak zaman
Yang karakternya kian memudar
Tak peduli tantangan yang kau hadapi
Berapapun lintas batas kau lewati
Terus merajut asa di waktu yang ada
Giat mewarta melayani penuh semangat

Kulihat segurat lelah di wajahmu saat mengajar
Namun semua itu
Kau tutupi dengan senyum indah
Setiap tetesan cucuran keringatmu
Tersimpan penat dan harapan

Aku tahu
Gurat lelah di wajahmu
Tak memudarkan semangatmu
Engkau menyulam senyum kebanggaan
Dan mengalirkan doa bagi anak didikmu
Ku tak tahu harus dengan apa membalas jasamu
Hanya dengan belajar dan mengukir prestasi
Berharap membuatmu bangga
Agar menyapu lelah di wajahmu
Dan perjuanganmu tak sia-sia
Terima kasih guruku

Ayolah Kawan

Ayolah kawan
Kita bangkit dengan kesadaran
Mengayun pedang ke dunia terang

Tak kenal lelah
Pantang menyerah
Berkreasilah tanpa henti
Berekspresilah tanpa batas

Jangan lelah berjuang
Mencipta prestasi dengan gigih berlatih

Mari satukan suara
Mantapkan langkah
Nyanyikan harapan tiada henti

Bentangkan fajar raih harapan
Membangun mimpi menerobos kegelapan
Menggelorakan perjuangan
Menggantung cita pada langit
Merakit generasi berkarakter
Demi kejayaan Indonesia

Mutiara dari Desa

Frater Dr. Klemens Mere, S.E., M.Pd., M.M., M.H., M.A.P
Dari desa
Engkau berjalan menyebrangi lautan
Berbekal ilmu dan kebiasaan
Engkau mengenyam pendidikan tinggi di tanah orang

Engkau memilih
Mencari jati dirimu dalam ruangan hening
Di balik bilik biara
Engkau menjawabi panggilan Tuhan
Mengbdi pada-Nya seumur hidupmu

Banyak gelar yang kau dapati
Banyak pula tugas yang Tuhan berikan
Mengabdi untuk agama dan sekolah
Karena dari sana engkau dipanggil

Tuhan memanggilmu
Untuk anak bangsa
Engkau mendidik dan mendoakan
Engkau pun memperjuangkan pendidikan anak bangsa
Agar terlahir generasi yang berkualitas

Jangan pernah berhenti mengabdi
Jangan pernah berhenti berjuang
Teruslah melangkah
Engkau tak sendiri

Batawa, 16 Agustus 2020

Harapan Mereka

Mereka pergi dengan harapan
Harapan untuk merdeka

Dengan bambu runcing mereka berjuang
Bersatu dalam darah merah
Mengakar putihnya tulang
Antara hidup dan mati tak peduli
Hanya satu harapan mereka
Yakni MERDEKA

Mereka pergi dengan darah yang masih membekas
Tak ada yang memandikan mereka
Mereka pergi tanpa kafan

Merdeka yang mereka perjuangkan
Kebebasan yang mereka harapkan
Terwujud dalam Proklamasi 17 Agustus 1945

Tahukah engkau
Apa harapan mereka untuk kita generasi muda?Mereka berharap
Kita dapat hidup
Dengan kebebasan yang telah diraih

Kini
Kita tak lagi memegang bambu runcing
Tak lagi menumpahkan darah
Kita hanya memegang pena
Menakar pada putihnya kertas
Dan bersatu dalam persaudaraan

Kini
Garuda kita tak lagi dikurung
Kita telah hidup bebas
Terbang ke angkasa
Mewarnai cakrawala

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here