Oleh: Chan Setu

Resensi Buku

Judul Buku: Enigma
Penulis Buku: Ignas N. Hayon
ISBN: 978-602-53944-3-0
Penerbit: Zuba Publisher
Tebal Buku: 92 halaman
Cetakan: Pertama, Januari 2020

Ignas N. Hayon bisa saja menjadi iseng-iseng ketika melahirkan karya perdananya “Enigma” ini. Apalagi ketika Dia melucuti satu per satu huruf dalam kalimat-kalimat sederhana dengan frasa-frasa tersirat maupun tersurat yang menjadikan “Ia” sebagai sebuah sajak dan puisi yang tidak bertele-tele namun pasti. Dalam hal ini, sebenarnya Ignas N. Hayon sedang menunjukkan bahwa dirinya tidak suka berbelit-belit dalam hal-hal sepele sekali pun itu tentang “jatuh cinta” hingga menentukan sebuah pilihan atas panggilan hidupnya. Sebagai seorang mahasiswa Filsafat, Ignas N. Hayon, menunjukkan keingintahuannya tentang realitas hidupnya. Bukankah filsafat memberi eksistensinya tentang kebingungan yang akhirnya memaksa setiap individu untuk terus mencari tahu dan menggali apa saja yang menjadikannya bingung? Meskipun secara harafiah, filsafat berarti cinta atas kebijaksanaan. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, bahwa sesungguhnya, Ignas N. Hayon, telah menunjukkan bahwa Ia tidak suka bertele-tele dalam segala hal.

Enigma dalam judul besar Antologi perdananya, sekaligus menjadi judul salah satu puisi di dalam bukunya itu, sebenarnya ingin menggambarkan diri, Ignas, sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata enigma merujuk pada sebuah pertanyaan, teka-teki, tidak jelas. Sehingga, secara gamblang bisa disimpulkan bahwa enigma merupakan suata frasa yang dapat menimbulkan kebingungan bagi siapa saja. Namun, dalam hal ini, saya lebih suka menggunakan tafsiran bebasnya mengenai enigma yang berarti “kemungkinan”.

Sajak Tuhan: Sebuah Diolog yang Sunyi

Karrel Amstrong, dalam bukunya “Sejarah Tuhan” telah menjelaskan secara otonom pemahaman akan siapa itu Tuhan? Di mana dalam penjelasannya, Karrel Amstrong, mencoba menilik dari sudut pandang sejarah bangsa Yahudi yang dikisahkan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Tuhan? Yahwe dan Elohim. Ketika dua sebutan akan Tuhan dipaparkan dalam konsep mengenai sejarah Tuhan, barangkali, Karrel Amstrong, sedang mencoba mengatakan bahwa bahasa sering kali memberi simbol tersendiri untuk satu maksud dan tujuan. Bahkan, Karrel Amstrong, di dalam bukunya itu sempat menunjukkan sebuah enigma pemikiran di dalam dirinya sendiri yang lebih merujuk kepada para pembaca mengenai “Apakah benar Tuhan yang disembahkan oleh Abraham sama dengan Tuhan yang disembah oleh Yakobus?” Pertanyaan ini memberikan gambaran kebingungan atas dirinya sendiri. Di sini, Karrel Amstrong, sedang mengatakan bahwa Tuhan itu satu dan Esa. Dalam ke-esa-an-Nya itu, Tuhan menjadi satu simbol dalam gaya bahasa tutur yang bisa memudahkan orang Yahudi dalam Kisah Perjanjian Lama untuk memahaminya berdasarkan konteks dan situasi lingkungan masyarakatnya. Mungkin soal kultur dan kebiasaan untuk mengeja sebutan akan Tuhan itu sendiri.

Dalam bukunya itu, Karrel Amstrong, telah mempertegas bahwa Tuhan adalah Esa. Dengan demikian, ke-esa-an-Nya menunjukkan bahwa Ia ada secara nyata dalam konteks manusia seperti biasanya. Namun, di sisi lain ke-esa-an-Nya mau merujuk bahwa Ia adalah semu dan patutlah jika ditanyakan “Apakah Tuhan itu ada?” Untuk menjawabi pertanyaan tersebut, Ignas N. Hayon, telah membuka dalih nalar imajinatifnya sendiri tentang Tuhan dalam puisinya yang berjudul “Tuhan: Ah, itu ya”.

Antara pertanyaan dan jawaban serta pernyataan, seolah sedang menjadi bias di dalam sajak tersebut. Ah, itu ya. Ada dua tafsiran saya atas sajak kecil, Ignas, ini. Pertama, Ignas seolah membuka sebuah percakapan batin antara dirinya sendiri dengan Tuhan. Dialog ini menjadikan dua orang yang saling berbagi atau kata gaulnya saling curhat. Ingat, bukan gosip! Sebuah dialog antara percakapan-percakapan seorang anak labil yang ingin didengarkan orang lain, dalam hal ini, Tuhan. Tuhan memberi sebuah panggilan yang perlu dijalani tidak sekadar dijawabi oleh Ignas. Sebuah pergolakan batin yang tidak saja dangkal tapi pergolakan batin yang mengarah pada sebuah dinamika panggilan. Benarlah jika Yesus pernah bersabda “Banyak yang dipanggil, sedikitlah yang dipilih”. Barangkali, Ignas, sedang menceritakan dinamika panggilan hidupnya.

Sekadar menerka, Ignas, mungki sedang tidak baik-baik saja. Mencari Tuhan dan mendengarkan nasihat dalam batin, bisa menjadi sarana untuk menenangkan akal budi dan hati nurani. Sehingga, Ignas, bisa merasakan bahwa, Ah, itu ya.

Kedua, Ignas, memberi jarak di dalam bahasa isyaratnya ini, Ah, itu ya. Isyarat bahasa ini menjadi bagian lain dari panggilan hidup yang sedang dijalani oleh Ignas. Sebagai seorang terpanggil, Ignas, ingin mencari kepastian di dalam panggilannya. Kita tidak tahu, barangkali, Ignas, diam sambil berteriak, sebagaimana pepatah latin yang berbunyi demikian, “Cum Tacemus, Clamamus“. Di sinilah seringkali hidup menjadi begitu dilematis. Akal budi cenderung berdiskursus dalam pergolakan batin di dalam tubuh mungil meminjam ungkapan Yeremia, “Tuhan, sesungguhnya aku ini masih kecil dan polos”.

Jarak bagi Ignas, mungkin sebuah dialog antara Ayah dan Anak atau antara Kakak dan Adik. Namun, jarak yang saya maksudkan di sini bukanlah jarak yang sering kali dihafal dan dihalalkan dalam komunikasi dan menjalin hubungan sebagaimana yang menjadi lebih tren saat ini Long Distance Relationship (LDR), khusus untuk remaja yang sedang atau yang akan jatuh cinta. Lebih jauh yang ingin saya tafsirkan ialah jarak dalam konteks kenikmatan. Ignas, mencoba menikmati dinamikannya. Namun, jarak antara tubuh dan pikirannya seperti memberi ruang kosong untuk menanyakan, Ah, itu ya. Bukan terhadap siapa-siapa (orang lain) namun kepada dirinya sendiri.

Ruang itu kosong, membentuk sebuah kediaman lain yang mengarah pada jalan pintas yang lebih dangkal, akhirnya jatuh dan jatuh berulang kali. Demikianlah sering kali jatuh dan bangun menjadi dilematis yang mengharmonikan kehidupan setiap manusia. Kata orang, jika hidup hanya baik-baik saja, bukanlah sebuah kenikmatan, hidup yang begitu nikmat ialah Ia harus makan garam dengan jatuh – bangunnya reliatas hidup yang dijalaninya.

Tuan: Usaha Menyadarkan Kebiasaan

Ignas, mencoba mengesampingkan kebingungan dengan merawat lupa. Ignas lupa pada tempat tidur. Ia lupa bahwa dipojok kiri atau kanan kamar tidurnya ada mata kelam yang menatap rindu. Ignas lupa, bahwa hidupnya sedang dispionase oleh lupa. Ia ingin merawat lupa namun Ia gagal merawat kenangan. Mungkin saja demikian jika dibahasakan lebih panjang, andai kata, Ignas, sendiri menyetujuinya. Ketika percakapan Ia dan Tuhan berakhir di halaman ke-36 buku Antologi puisinya itu. Ignas kembali membuka sebuah ingatan akan lupa memanggil atau lupa menjawabi panggilan Allah. Di halaman 89, Ignas, meluangkan waktu untuk menyadarkan dirinya sendiri dengan merawat lupa sepanjang harinya.

Bukankah, akal budi, tuan, atas diri kita sendiri? Mengutip pendapat F. Budi Hardiman, dalam buku “Humanisme dan Sesudahnya” Ia mengatakan bahwa hukum alam tidak lain adalah hukum akan budi. Dengan demikian, karma akan lupa adalah usaha kita untuk mengamininya dalam akal budi yang diimbangi dengan hati nurani untuk merasakannya. Sehingga, tidak heran jika dalam dunia etika praktis (prudential) sebagaimana dijelaskan, K. Bertens, dalam buku “Etika Revisi” terbarunya, bahwa akal budi tidak lain adalah sebuah kesadaran yang mengarahkan setiap individu pada kebebasan dan tanggung jawabnya (dalam hal ini berkaitan dengan etika dan moral).

Halaman ke-89, Ignas, mengembalikan kesadaran akan usahanya merawat lupa. Dengan demikian, usahanya gagal untuk merawat lupa dan Ia berhasil merawat kenangan. Itu artinya, Ia mencintai kenangan yang tiap hari Ia semaikan dalam ruang dan waktu, mungkin dalam kisaran waktu 15-30 menit untuk berdiam di dalam sebuah diam dan keheningan yang menamakan dirinya sunyi. “Puisi Tuan” di halaman 89 itu menjadikan, Ignas, lebih matang dalam dialognya. Ketika dialognya berakhir dalam jawaban yang membingungkan oleh karena ketiadaan pertanyaan atau percakapan yang mendahuluinya, Ah, itu ya, akhirnya Ia mencoba mengenang itu dengan ada yang lupa dikamarmu/saat doa tertidur di ranjang tamu. Sajak yang berdiri dalam dua baris yang begitu otonom ini, seolah merawat lupa namun mengenang kenangan bahwa ada tamu yang menyelinap masuk. Dalam sajak pertamanya bisa saya katakan bahwa, Ignas, telah gagal meyakinkan orang lain (mu) – yang bukan lain adalah dirinya sendiri.

Kegagalan menyakinkan bahwa Ia lupa untuk berjaga-jaga dalam lelap. Ia lupa untuk terjaga sebelum terlelap. Mungkin kita bertanya Ia lupa apa atau siapa? Dan bagaimana Ia bisa lupa?. Pertama, Ia lupa tentang dirinya sendiri. Kebiasaan dan rutinitasnya bisa menjadi lupa yang Ia lakukan sewaktu-waktu. Sehingga kebiasaanya itu tertinggal diam dalam kamarnya. Kedua, dirinya sendiri yang menjadi penyebab atas lupa itu. Ia lebih egois dibandingkan hati atau malam-malam sebelumnya. Sehingga, egoisnya itu mengarahkan dirinya kepada kejenuhan dan kebosanan.

Ketiga, karena Ia telah dipenuhi oleh sesuatu. “sesuatu” di sini bisa jadi seseorang (objek – subjek) atau benda (handphone, laptop dan sebagainya). Untuk menjawabinya, Ignas, berusaha memastikan bahwa Ia lupa dirinya terlelap di atas ranjang tamu. Sebagaimana dalam baris keduanya. Oleh karena itu, pertanyaan lebih lanjut, benarkah yang dilupakan, Ignas, adalah dirinya sendiri atau doa? Atau jangan sampai Ia lupa cara berdoanya ketika Ia berada di ranjang tamu? Di sini, sangat terlihat ambigu dari si pembaca, termasuk saya sendiri. Mungkin, Ignas, suka membingungkan para pembaca dan dalam realitas, Ia barang kali memiliki sifat yang suka membingungkan orang lain, mungkin saja perkiraan saya.

Namun, saya yakin bahwa yang, Ignas, lupa ialah kebiasaannya saja. Kebiasaanya mungkin ialah berdoa dan rutinitasnya ialah menjaga lelap di sudut kamarnya sebelum benar-benar bermimpi. Ini yang bisa saya namankan, kecanduan dalam “sesuatu”, yang merupakan kenikmatan atas hidup. Bisa jadi, Ignas, sedang bertamu di dalam chatting, game (free fire, mobile legend), buku-buku bacaan, dan lain sebagainya, sehingga Ia lebih mudah tertinggal dalam kesibukan semu dan akhirnya lupa. Lupa itulah yang kadang fatal. Bisa untuk lupa asal kita lupa kenangan saat kita dikhianati oleh seseorang sehingga kita berani untuk move on. Ah, sepertinya sajak ini bisa masuk dalam kategori tafsiran orang yang sedang jatuh cinta yang ending-nya adalah “ngompol” di atas tempat tidurnya sendiri.

Semoga Ignas Baik-baik Saja

Secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa Ignas sedang mencari “kemungkinan”. “Kemungkinan” yang dimaksudkan adalah sebuah kepastiaan dalam ziarah panjang tentang kata. Ignas dalam hari-harinya selalu bergumul dalam pergolakan batin yang mendalam. Sebagai pribadi terpanggil dalam hal seorang calon religious biarawan Serikat Sabda Allah, Ignas, sedang berusaha melawan kenikmatan atas dirinya sendiri.

Kenikmatan secara gamblang adalah ungkapan perasaan atas penglihatan atau pencecapan akan sesuatu yang menggairahkan dan begitu terpesona sehingga saya begitu menikmatinya. Namun izinkan saya mengartikan kenikatan sebagai sebuah proses membaca kata. Dan perkenankan saya mengartikulasikan “kata” dalam pemahaman akan konteks tentang tulisan ini sebagai panggilan hidup yang dijalaninya.

Oleh karena itu, “kemungkinan” adalah sebuah penyangkalan diri atas usaha meninggalkan kenikmatan semu dengan mencari kenikmatan batiniah. Bukankah pada dasarnya setiap kita berusaha untuk mencari kebahagiaan atas hidupnya? Sehingga, dalam kesimpulan saya ini, apakah Ignas baik-baik saja? Semoga saja!

NB
Ignas N. Hayon, nama pena Ignasius Nasu Hayon. Lahir di Ritaebang, Solor Barat, 15 Januari 1993. Beliau seorang calon imam religius biarawan Serikat Sabda Allah (SVD). Saat ini akan menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP)-nya di Tambolaka – Sumba Barat Daya. Ignas, begitu orang biasa menyapanya, sangat menyukai sastra khususnya puisi. Beberapa karya-karyanya pernah ditayangkan di beberapa media kabar baik cetak maupun online. ENIGMA merupakan buku Antologi Puisi pertamanya, karya ter-sulung dalam usaha mengekalkan segala perasaan akan perjalanan panggilan hidupnya. Saat ini sedang menyiapkan buku keduanya yang berjudul ARUMI.

Penulis; Mahasiswa STFK-Ledalero. Saat ini menetap di wisma Arnoldus Nitapelat, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Sangat menyukai kopi pahit. Penulis buku Antologi Puisi dan Cerpen ”Embun Pada Sepasang Mata Lebam”, dan menjadi karya perdananya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here