Oleh: Usman D. Ganggang

Engkau pernah mengajar aku bagaimana mahu menidurkan rindu
Tunggu ketika malam sunyi saat bintang menyusui bulan pada satu sunyi yang memerdekakan kehendak
Saat pedih menjadi terlalu pedih hingga air mata yang mengalir tak terasa asinnya
Waktu itu lepaskan rindumu sebagai seekor kupu-kupu yang menuju pilar-pilar cahaya
Kelak ketika kepaknya tercalar Ia tak mampu terbang lagi
Rindupun menjadi sepi
Masuklah ke kelambu kenang
dan tepuklah rindumu dengan kidung syahdu
Seperti tepukan seorang Ibu di punggung seorang bayi agar rindumu lena beradu

2018

Menyimak nada dan suasana puisi Asmira, di atas, penikmat dihantar ke sebuah ruang sehingga penikmat hadirkan tanya, “Bagaimana nada puisi ini oleh penyairnya?” Iya begitu lembut dan sayang kepada “tokoh Dia” (tokoh yang diceritakan).

Bagaimana tidak? Meski gaya Melayu-nya begitu kental seperti kata “mahu-nya” (nuansa Malaysia = mau) tokoh majasnya membuat penikmat terseret ke dalamnya. Perhatikan majas segarnya ini: “/ia tak mampu terbang lagi/ rindu pun menjadi sepi/ masuklah ke kelambu kenang//.

Haem… ketika sepi memori kisah-kasih datang tanpa diundang. Rindu pun membuncah. Maka langkah praktisnya ketika rindu datang, si penyair menghadirkan pesan kepada penikmat agar kembali membongkar kisah, meski berawal dari bergumam lalu dihadirkan dalam bentuk karya puisi.

Si penyair sudah memberi pencerahan. Karya eskpresif meninggalkan kesan dan pesan yang menarik. Salut Asmira. Teruslah menghadirkan intuisi kreatif salah satu strategi menuntaskan masalah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here