Oleh: Yohanes Sehandi

Di tengah arus gempuran jurnal versi online (OJS), akhir-akhir ini, Jurnal Literasi, yang saya kelola, bertahan di versi tercetak. Bukan karena apa-apa dan mengapa. Hanya sebagai bentuk romantika tersisa dari sejarah panjang karier kepenulisan saya yang bertumbuh dan berkembang di media cetak, seperti surat kabar harian, mingguan, dan majalah, sejak 1980-an sampai 2020 kini.

Tentu saja, Jurnal Literasi ini bisa mati dengan sendirinya, kalau tanpa arus dukungan artikel yang dikirim ke jurnal ini. Sejak terbit edisi perdana, Maret 2016, saya tidak kesulitan dapat artikel. Tidak gampang sebetulnya, karena terbit tiga kali dalam setahun, Maret, Juli, dan November. Setiap terbit, belasan artikel yang tampil. Sekitar 35-40 artikel yang tampil setiap tahun. Memang pernah tidak terbit beberapa edisi, karena kesulitan biaya cetak, namun kini mulai normal lagi. Biaya cetak kontribusi para penulis. Edisi Juli ini siap terbit.

Ada banyak yang bertanya, kok bisa gampang dapat artikel, sementara terlalu banyak jurnal sejenis yang mati karena kesulitan artikel. Saya jawab, saya juga heran. Kemudian, saya tanya ke beberapa penulis yang sering kirim artikel ke Jurnal Literasi. Katanya, mereka kirim ke Jurnal Literasi, karena hasil kerja editor (penyunting) kentara. Katanya lebih lanjut, “Ibaratnya, kami kirim kayu, hasilnya jadi kursi, meja, lemari. Kalau jurnal yang lain, yang dikirim kayu, yang keluar juga kayu.”

Dalam dua tahun belakangan, di samping memuat artikel para dosen Universitas Flores (Uniflor) Ende, artikel para guru SD, SMP/MTs, dan SMA/SMK mendominasi halaman Jurnal Literasi. Ternyata, kata para guru ini, mereka sangat terbantu untuk mengurus kenaikan pangkat/golongan, dari IV/a ke IV/b. Dan kini, sudah ada banyak guru yang naik pangkat/golongan karena artikelnya muat di Jurnal Literasi. Pada titik ini, saya merasa bersyukur.

Sampai kapan Jurnal Literasi bertahan dengan versi tercetak? Tanya teman dosen. Saya jawab santai, “Sampai ada anak mantu yang jago IT.” Hehehehe.

Penulis; Pengamat Sastra Indonesia dari Universitas Flores, Ende.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here